Berita

Kapal perang Rusia, korvet RFS Gromkiy, kapal selam RFS Petropavlovsk-Kamchatskiy di Tanjung Priok Jakarta (Foto: Dok. IG Kodaeral3)

Politik

Ada Sinyal Intelijen di Balik Sandarnya Kapal Selam Rusia di Jakarta

SABTU, 02 MEI 2026 | 06:12 WIB | LAPORAN: WIDODO BOGIARTO

Kehadiran tiga kapal perang Armada Pasifik Rusia di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, sejak 29 Maret hingga 2 April 2026 bukan sekadar kunjungan rutin militer. 

Di balik sandarnya kapal selam canggih RFS Petropavlovsk-Kamchatsky (B-274), korvet RFS Gromky, serta kapal tunda Andrey Stepanov, tersimpan dimensi strategis yang lebih dalam, menyentuh kepentingan geopolitik global yang tengah memanas.

Secara resmi, kunjungan ini disebut sebagai bagian dari upaya memperkuat hubungan pertahanan maritim antara Indonesia dan Rusia, sekaligus persiapan menuju latihan bersama. 


Pengamat intelijen dan geopolitik Amir Hamzah mengatakan, jika ditarik dalam konteks global yang lebih luas -- terutama meningkatnya ketegangan antara Iran dengan blok Amerika Serikat dan Israel -- kehadiran kapal selam canggih tersebut tidak bisa dipandang netral semata.

“Dalam perspektif intelijen, setiap pergerakan militer memiliki pesan. Kehadiran kapal selam Rusia di Indonesia bisa dibaca sebagai bagian dari strategi signaling kepada pihak-pihak tertentu, khususnya di Timur Tengah,” kata Amir, dikutip Sabtu 2 Mei 2026.

Ia menjelaskan bahwa Rusia selama ini dikenal memiliki kedekatan strategis dengan Iran, baik dalam konteks militer maupun geopolitik. Dalam berbagai konflik regional, Rusia kerap berada di belakang Iran sebagai penyeimbang terhadap dominasi Barat.

“Kehadiran armada Rusia di Indonesia dapat dimaknai sebagai upaya memperluas spektrum pengaruhnya, termasuk melalui negara-negara non-blok seperti Indonesia,” kata Amir.

Indonesia sebagai negara dengan politik luar negeri bebas aktif, memiliki posisi unik. Di satu sisi, Indonesia menjalin hubungan baik dengan Barat, namun di sisi lain juga membuka ruang kerja sama dengan Rusia dan negara-negara Timur lainnya. 

"Posisi ini menjadikan Indonesia sebagai aktor potensial dalam memainkan peran diplomasi yang lebih luas," kata Amir.

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Duit Rp100 Miliar Hasil OTT KPK Dikabarkan Milik Nusron Wahid

Selasa, 15 September 2026 | 13:16

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Pendatang Baru, Partai Gema Bangsa Siap Verifikasi Pemilu 2029

Minggu, 13 September 2026 | 17:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

Desakan Pecat Nusron Mencuat, Ahmad Doli Memungkinkan jadi Pengganti

Minggu, 20 September 2026 | 05:26

UPDATE

Ijazah Gibran cuma Berdasarkan Surat Keterangan Penyetaraan

Kamis, 24 September 2026 | 04:29

Marselino Ferdinan Resmi Gabung Persija

Kamis, 24 September 2026 | 04:13

Pemerintah Utamakan Pembinaan Bukan Tindakan Hukum soal Wajib Halal

Kamis, 24 September 2026 | 04:00

Muktamar NU Tercoreng Dugaan Duit RP480 Miliar

Kamis, 24 September 2026 | 03:38

Rano Karno Bidik Jakarta Jadi Kota Sinema

Kamis, 24 September 2026 | 03:28

Industri Percetakan Jadi Pilar Ekonomi Kreatif Indonesia

Kamis, 24 September 2026 | 03:12

Ternyata KPU Tak Verifikasi Ijazah Gibran

Kamis, 24 September 2026 | 02:54

Kevin Diks Resmi Kapten Timnas Garuda

Kamis, 24 September 2026 | 02:31

Peran Negara terhadap Transformasi Teknologi Digital dan Amputasi Data

Kamis, 24 September 2026 | 02:14

Indonesia Tambah Lima Perunggu di Asian Games 2026

Kamis, 24 September 2026 | 01:31

Selengkapnya