Berita

Ilustrasi. (Foto: Dokumentasi RMOL)

Publika

Gerakan Buruh dan Koperasi

JUMAT, 01 MEI 2026 | 03:53 WIB

SEJARAH gerakan buruh dunia tidak dapat dipisahkan dari sejarah gerakan koperasi. Koperasi modern pertama, The Equitable Society of Pioneers of Rochdale yang didirikan oleh 28 buruh di kota Rochdale pada tahun 1844, adalah lahir sebagai manifestasi nyata dari  perjuangan kelas buruh melawan eksploitasi kapitalisme industri.

Para buruh tersebut berupaya membebaskan diri dari cengkeraman pemilik pabrik yang selama ini menghisap tenaga mereka. Caranya sederhana namun revolusioner, yaitu dengan mendirikan perusahaan milik sendiri dalam bentuk toko koperasi. Toko itu dimodali, dikelola, dan diawasi sendiri oleh para anggotanya. Mereka bukan sekadar menjadi pekerja, melainkan sekaligus menjadi pemilik toko. Bahkan termasuk yang menjadi konsumennya pun dapat menjadi pemilik toko. 

Mereka meyakini bahwa hanya perusahaan yang dimiliki secara kolektif yang sungguh dapat mereka kendalikan. Hanya melalui kepemilikan bersama, kebutuhan dan aspirasi mereka dapat dijawab sesuai kepentingan sendiri. 


Kelahiran koperasi Rochdale bermula dari kebuntuan dialog dengan pemilik pabrik. Tuntutan kenaikan upah, pengurangan jam kerja, dan perbaikan kondisi kerja berulang kali diabaikan. Ketika jalur negosiasi buntu, para buruh memilih membangun jalan keluar sendiri. Dengan susah payah mereka mengumpulkan modal sebesar satu poundsterling per orang selama setahun penuh, hingga akhirnya berhasil membuka toko koperasi di gang Toad Lane, Rochdale. 

Pada awal berdiri, toko tersebut hanya menjual lima kebutuhan pokok: tepung, oatmeal, gula, mentega, dan lilin. Jam operasionalnya pun sangat terbatas. Toko mereka hanya buka dua jam setiap Sabtu malam, pukul 20.00 hingga 22.00, dengan penerangan seadanya dari cahaya lilin. Dalam sebulan, toko itu hanya beroperasi delapan jam.

Meski kecil dan sederhana, fondasi kelembagaannya sangat maju. Mereka memilih pengurus sebagai kepemimpinan kolektif dan mengelola koperasi berdasarkan prinsip demokrasi ekonomi. Setiap anggota memiliki hak suara yang setara dalam pengambilan keputusan. Prinsip one person, one vote dikembangkan untuk memastikan kekuasaan ekonomi tidak jatuh ke tangan pemilik modal terbesar.

Toko yang mereka dirikan jelas berbeda dari toko konvensional. Bukan sekadar tempat jual beli, melainkan instrumen perjuangan sosial. Motif, cara kerja, dan tujuan usahanya dirancang untuk menantang struktur ekonomi yang eksploitatif dan kapitalistik.

Para pendirinya tidak hanya bermaksud membangun perusahaan baru, tetapi menciptakan model perusahaan alternatif. Mereka hendak mengganti sistem bisnis yang berorientasi semata pada laba (profit oriented) bagi investor, menjadi perusahaan yang berorientasi manfaat (benefit oriented) bagi seluruh pihak yang terlibat: anggota sebagai pemodal, pekerja, sekaligus konsumen.

Cara kerjanya pun berbeda dari perusahaan kapitalis tempat mereka bekerja. Selain menjamin kesetaraan hak suara bagi setiap orang, mereka juga menerapkan prinsip resiprokal dalam distribusi surplus usaha. Sebagai koperasi konsumen, pembagian keuntungan dilakukan berdasarkan partisipasi transaksi secara adil, siapa yang lebih banyak berbelanja, memperoleh bagian surplus lebih besar. Prinsip ini kemudian dikenal luas sebagai sistem patronage refund atau pembagian sisa hasil usaha berbasis transaksi anggota.

Dari eksperimen sederhana sekelompok aktivis buruh di Rochdale inilah lahir sebuah gerakan global. Gagasan koperasi kemudian menyebar ke berbagai penjuru dunia dan kini dianut oleh lebih dari 1,3 miliar orang melalui jutaan koperasi di lebih dari 100 negara. 

Koperasi hadir dalam hampir seluruh sektor ekonomi, sosial, dan budaya. Mulai dari koperasi konsumsi, pertanian, peternakan, perikanan, jasa keuangan, pertambangan, industri, kelistrikan, perumahan, pendidikan, hingga bisnis platform digital berbasis komunitas. Koperasi telah membuktikan dirinya bukan model ekonomi pinggiran, melainkan institusi modern yang mampu bersaing dalam skala global.

Di Prancis, Credit Agricole tumbuh menjadi salah satu dari 10 perbankan terbesar dunia. Di Jepang, Koperasi Pertanian Zen-noh  menjadi raksasa agribisnis koperasi dengan skala ekonomi melampaui banyak korporasi multinasional. Di Singapura berkembang menjadi jaringan ritel milik gerakan buruh yang menguasai pangsa pasar dominan. Sementara di Amerika Serikat, NRECA jadi sistem perusahaan  kelistrikan yang dimiliki jutaan warga pedesaan. 

Data 300 koperasi terbesar dunia menunjukkan total volume bisnis sebesar 35 triliun rupiah yang kurang lebih setara dengan produk domestik bruto dari negara Indonesia. Fakta ini membantah stigma lama bahwa koperasi hanyalah entitas ekonomi kecil, lemah, dan gurem.

Buruh di Rochdale bukan sekadar telah mewariskan bangunan toko kecil di gang sempit Toad Lane, melainkan telah sukses menginspirasi sebuah gagasan radikal bahwa ekonomi dapat diorganisir secara demokratis, adil, dan berorientasi pada kesejahteraan bersama. Ide buruh Rochdale itu telah merontokkan doktrin kuno bahwa pemilik dan penikmat hasil usaha atau bisnis itu hanyalah investor semata. 

Dari pelajaran sederhana para buruh Rochdale, kita diingatkan bahwa selalu ada alternatif terhadap sistem ekonomi yang hanya menguntungkan segelintir elite pemilik modal. Bahwa di tengah dominasi kapitalisme pasar, manusia masih dapat membangun institusi ekonomi yang lebih etis, lebih adil, dan tempatkan manusia sebagai subyek ekonomi.


Suroto
Ketua Asosiasi Kader Sosio-Ekonomi Strategis (AKSES)


Populer

KPK Bakal Dalami Data Intelijen soal Dugaan Suap ke Purbaya dan Anggota Komisi XI DPR

Kamis, 27 Agustus 2026 | 02:24

Dakwaan Lemah, Perkara Chromebook Murni Rekayasa

Kamis, 27 Agustus 2026 | 14:31

Muhadjir Terbitkan Surat Pengalihan Kuota Haji Usai Konsultasi ke Jokowi

Selasa, 01 September 2026 | 15:17

MAKI Puji Kerja Senyap Jampidsus Kuntadi Fokus Rampas Aset

Selasa, 01 September 2026 | 01:59

Tidak Benar Menag Nasaruddin Umar Mundur

Rabu, 26 Agustus 2026 | 18:06

KPK Sebut Iptu Dias Tak Bisa Dijerat Dewas, Penanganan Etik Diserahkan ke Polri

Senin, 24 Agustus 2026 | 11:47

Si Jago Tua yang Dilupakan

Senin, 31 Agustus 2026 | 04:40

UPDATE

Jaksa Agung: Ini Saatnya, Badai Harus Berlalu

Rabu, 02 September 2026 | 22:09

Dugaan Pelanggaran Etik, Perwira Polri Dilaporkan ke Propam

Rabu, 02 September 2026 | 21:49

BPOM Butuh Anggaran Rp2,4 Triliun, Rp509 Miliar Khusus Kawal MBG

Rabu, 02 September 2026 | 21:21

DPR Minta Pelaku Pembakaran Hutan Dihukum Mati

Rabu, 02 September 2026 | 21:04

Halmahera Tengah Diguncang Gempa, Belasan Rumah dan Faskes Rusak

Rabu, 02 September 2026 | 20:45

Polri Ujung Tombak Demokrasi dalam Aksi 27 Agustus

Rabu, 02 September 2026 | 20:22

Keluarga Indonesia Diajak Siapkan Warisan Bermakna

Rabu, 02 September 2026 | 19:46

Dari Rival Menjadi Sekutu: Strategi Othello Prabowo

Rabu, 02 September 2026 | 19:30

Siswa Tak Libur di Tengah Kabut Asap, Kadisdik Kalteng Diminta Tak Asal Ambil Keputusan

Rabu, 02 September 2026 | 19:23

Indonesia Tak Bisa Akal-akali Alokasi Jemaah Haji dari Arab Saudi

Rabu, 02 September 2026 | 19:17

Selengkapnya