Berita

Tangkapan layar RMOL dari siaran YouTube Geo News

Bisnis

Ekonomi Iran Tercekik: Mata Uang Anjlok Akibat Blokade AS

KAMIS, 30 APRIL 2026 | 12:41 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Mata uang Iran, Rial, jatuh ke titik terendah baru setelah Amerika Serikat (AS) memberlakukan blokade laut dan memperketat sanksi ekonomi. 

Dikutip dari Al-Jazeera, Kamis 30 April 2026, pada Rabu, nilai Rial sempat melemah hingga menembus 1,81 juta per Dolar AS di pasar terbuka sebelum sedikit pulih. 

Sebagai perbandingan, awal pekan ini nilainya masih sekitar 1,54 juta Rial per Dolar AS, sementara setahun lalu berada di kisaran 811 ribu Rial per Dolar AS. Penurunan tajam ini mencerminkan tekanan berat terhadap ekonomi Iran yang sudah lama dilanda inflasi tinggi dan dampak sanksi internasional.


Selama dua bulan terakhir, nilai mata uang Iran sebenarnya sempat relatif stabil setelah sebelumnya turun ketika pasukan AS mulai dikerahkan menjelang perang Amerika dan Israel melawan Iran pada akhir Februari. Namun, tekanan ekonomi kembali meningkat setelah blokade laut diberlakukan, yang menurut militer AS telah memutus jalur perdagangan masuk dan keluar Iran.

Sebagai respons, pemerintah Iran mengambil sejumlah langkah darurat. Otoritas setempat memangkas birokrasi agar impor barang penting di wilayah perbatasan lebih mudah. 

Pemerintah juga mengalokasikan 1 miliar dolar AS dari dana kekayaan negara untuk membeli bahan pangan. Selain itu, kurs subsidi kembali diberlakukan untuk impor tertentu guna menekan harga. Namun, kebijakan ini berisiko memicu praktik korupsi.


Perdagangan nonmigas Iran juga mengalami pukulan besar. Data bea cukai menunjukkan total nilai perdagangan nonmigas pada tahun fiskal yang berakhir 20 Maret mencapai hampir 110 miliar Dolar AS, turun sekitar 16 persen dibandingkan tahun sebelumnya. 

Penurunan semakin tajam setelah perang dimulai pada 28 Februari, dengan nilai perdagangan bulanan turun hingga 29 persen, bahkan bulan terakhir tercatat sekitar 50 persen lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Gangguan utama terjadi di Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang sangat penting bagi perdagangan Iran. Selain itu, serangan udara AS dan Israel menargetkan berbagai infrastruktur penting seperti pelabuhan, bandara, jalur kereta api, pabrik baja, fasilitas petrokimia, pembangkit listrik, serta kawasan industri besar. Untuk menjaga pasokan dalam negeri, Iran bahkan membatasi sementara ekspor baja, petrokimia, dan bahan kimia lainnya.

Sektor ekspor minyak Iran juga menjadi sasaran utama tekanan AS. Militer AS meningkatkan pengawasan terhadap kapal-kapal yang melintas di perairan sekitar Iran dan menargetkan armada tanker bayangan yang digunakan Iran untuk menghindari sanksi. 

Washington juga memasukkan kilang minyak di China, pembeli terbesar minyak Iran, ke dalam daftar hitam, serta memburu jalur keuangan dan mata uang kripto yang diduga membantu perdagangan minyak Iran.

Perdagangan Iran dengan China, yang selama ini menjadi mitra utama, juga menurun drastis. Pada kuartal pertama 2026, nilai perdagangan kedua negara tercatat 1,55 miliar dolar, turun sekitar 50 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Pada Maret - bulan pertama perang - nilai perdagangan bahkan turun hampir 80 persen dibandingkan tahun lalu.

Selain itu, hubungan Iran dengan Uni Emirat Arab (UEA) yang sebelumnya menjadi mitra dagang penting juga memburuk tajam. 

UEA menutup sejumlah institusi Iran di wilayahnya, memerintahkan warga Iran untuk meninggalkan negara tersebut, dan menyatakan bahwa pemulihan hubungan bilateral kemungkinan membutuhkan waktu bertahun-tahun. 

Akibatnya, Iran kini semakin bergantung pada jalur perdagangan darat melalui negara tetangga seperti Turki, Irak, dan Pakistan.

Populer

KPK Bakal Dalami Data Intelijen soal Dugaan Suap ke Purbaya dan Anggota Komisi XI DPR

Kamis, 27 Agustus 2026 | 02:24

Muhadjir Terbitkan Surat Pengalihan Kuota Haji Usai Konsultasi ke Jokowi

Selasa, 01 September 2026 | 15:17

MAKI Puji Kerja Senyap Jampidsus Kuntadi Fokus Rampas Aset

Selasa, 01 September 2026 | 01:59

Dakwaan Lemah, Perkara Chromebook Murni Rekayasa

Kamis, 27 Agustus 2026 | 14:31

Tidak Benar Menag Nasaruddin Umar Mundur

Rabu, 26 Agustus 2026 | 18:06

KPK Sebut Iptu Dias Tak Bisa Dijerat Dewas, Penanganan Etik Diserahkan ke Polri

Senin, 24 Agustus 2026 | 11:47

KPK Sita Rumah Mewah Milik Vinna Ledy Anggraheni di Jaksel

Selasa, 01 September 2026 | 11:03

UPDATE

Logam Mulia Kembali Berkilau Ditopang Penurunan Dolar AS

Kamis, 03 September 2026 | 08:15

Wall Street Bangkit dari Tekanan Berkat Aksi Borong Saham

Kamis, 03 September 2026 | 07:57

BeZakat 2026 Kembali Dibuka, Sasar Lulusan SMA dari Keluarga Kurang Mampu

Kamis, 03 September 2026 | 07:44

BBHI Mau Dibeli Lagi, Allo Bank Siapkan Dana Rp300 Miliar

Kamis, 03 September 2026 | 07:26

Bursa Eropa Tertekan, STOXX 600 Terseret Lonjakan Harga Minyak

Kamis, 03 September 2026 | 07:11

UUD 1945 Asli dan Penyelamatan Peradaban

Kamis, 03 September 2026 | 06:50

Pengelolaan Gas Andaman Didorong di Daratan Aceh, PR Hilirisasi Menanti

Kamis, 03 September 2026 | 06:22

TNI Gercep Evakuasi Warga Antisipasi Meningkatnya Aktivitas Gunung Sinabung

Kamis, 03 September 2026 | 05:59

Polemik BYAN Harus Dibaca sebagai Uji Kesiapan Regulator

Kamis, 03 September 2026 | 05:29

Produktivitas Bawang Merah Melejit Lewat Inovasi Startup Binaan IPB

Kamis, 03 September 2026 | 04:50

Selengkapnya