Berita

Pengamat Politik dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Faruq Arjuna Hendroy (Foto: Dokumen pribadi)

Politik

Menteri PPPA Disorot Usai Minta Maaf, Dinilai Perlu Tingkatkan Sensitivitas dan Komunikasi Publik

KAMIS, 30 APRIL 2026 | 11:27 WIB | LAPORAN: FAISAL ARISTAMA

Permintaan maaf Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Arifah Fauzi Choiri, atas pernyataannya pascainsiden kecelakaan kereta api di Stasiun Bekasi Timur, Jawa Barat, menuai perhatian publik.

Sebelumnya, Arifah mengusulkan pemindahan gerbong khusus wanita ke bagian tengah rangkaian kereta sebagai langkah mitigasi. Namun, usulan tersebut dinilai perlu dikaji lebih matang agar tidak menimbulkan bias dalam perspektif kebijakan.

Pengamat politik dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Faruq Arjuna Hendroy, menilai Menteri PPPA perlu meningkatkan kehati-hatian dalam komunikasi publik.


“Saya kira para pelaksana kebijakan harus lebih berhati-hati dalam mengeluarkan pernyataan,” ujar Faruq kepada RMOL, Kamis, 30 April 2026.

Faruq memahami bahwa pernyataan tersebut muncul sebagai respons spontan atas insiden tabrakan antara Kereta Api Jarak Jauh (KAJJ) Argo Bromo Anggrek dan KRL Commuter Line. Namun, menurutnya, usulan tersebut tidak relevan sebagai solusi.

“Saya paham maksudnya untuk melindungi perempuan. Namun, dalam kajian gender, kebijakan tidak boleh hanya berpihak pada satu kelompok,” jelasnya.

Ia menekankan bahwa studi gender bersifat inklusif, mencakup perlindungan bagi perempuan maupun laki-laki sebagai kelompok yang sama-sama berhak atas rasa aman.

“Selama ini perempuan memang lebih sering mengalami ketidakadilan karena konstruksi sosial, sehingga lahir gerakan feminisme. Tapi studi gender juga melindungi laki-laki, karena dalam banyak kasus mereka juga rentan menjadi korban,” tambahnya.

Faruq mengingatkan, kebijakan yang terlalu berfokus pada satu kelompok berpotensi mengabaikan hak kelompok lain.

“Jangan sampai fokus pada perempuan justru mengabaikan hak laki-laki sebagai warga negara. Itu justru tidak sensitif gender,” tegasnya.

Lebih lanjut, ia menilai isu gender tidak relevan dalam konteks kecelakaan kereta di Bekasi Timur. Menurutnya, perhatian seharusnya difokuskan pada aspek keselamatan dan manajemen risiko transportasi.

“Dalam kasus ini, bukan soal posisi gender di dalam gerbong. Benturan kereta berkecepatan tinggi tidak membedakan siapa pun,” paparnya.

Ia menambahkan, evaluasi pascakecelakaan seharusnya diarahkan pada perbaikan sistem keamanan dan prosedur operasional.

“Fokus ke depan adalah manajemen risiko: bagaimana mengantisipasi hambatan di rel, prosedur saat kereta berhenti mendadak, hingga kemungkinan evakuasi penumpang dalam kondisi darurat,” jelasnya.

Faruq juga menegaskan bahwa isu gender tidak berkaitan dengan penyebab kecelakaan.

“Kereta akan menabrak apa pun di depannya, tanpa melihat apakah itu laki-laki atau perempuan,” pungkasnya.

Sebelumnya, Menteri PPPA Arifah Fauzi Choiri telah menyampaikan permohonan maaf atas pernyataannya yang dinilai kurang tepat.

“Saya memohon maaf sebesar-besarnya kepada masyarakat, khususnya korban dan keluarga korban yang merasa tidak nyaman,” ujarnya di Jakarta, Rabu, 29 April 2026.

Ia menegaskan bahwa keselamatan seluruh masyarakat merupakan prioritas utama pemerintah, tanpa membedakan gender.

“Prioritas kami adalah memastikan penanganan terbaik bagi seluruh korban, baik yang meninggal dunia maupun yang mengalami luka-luka,” tutupnya.


Populer

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Silfester Matutina Diduga Masuk List Saksi Sidang Ijazah Jokowi

Minggu, 25 Oktober 2026 | 04:00

Pencopotan Agus Suparmanto dan Taj Yasin Bukan Keinginan Ketum PPP

Kamis, 29 Oktober 2026 | 11:16

Ketua KPK Bakal Babak Belur Gara-gara Nusron

Senin, 26 Oktober 2026 | 13:02

UPDATE

Hashim Bantah Janjikan HP Gratis, Ngaku Dipelintir Media

Jumat, 30 Oktober 2026 | 00:13

Hemat Biaya Operasional, Drone Pertanian Frogs Bidik Program Cetak Sawah

Kamis, 29 Oktober 2026 | 23:45

28 Jam Pemuda Bicara di Malang Usung Deklarasi ‘Sumpah Promptmuda’

Kamis, 29 Oktober 2026 | 23:24

Kemenkop dan Pertamina Patra Niaga Luncurkan Model Pengumpulan Minyak Jelantah

Kamis, 29 Oktober 2026 | 22:59

Asap dan Sengsara

Kamis, 29 Oktober 2026 | 22:52

Sempat Ditahan, 19 Demonstran Sumpah Pemuda Dibebaskan

Kamis, 29 Oktober 2026 | 22:38

32,7 Juta Investor Kecewa Nilai Saham Anjlok Imbas MSCI, Hashim: Saya Juga

Kamis, 29 Oktober 2026 | 22:12

PLN Siap Pasok Daya Andal untuk Jaringan Usaha Telkom Group

Kamis, 29 Oktober 2026 | 21:47

Tim Yaqut Hadirkan Saksi Meringankan dalam Sidang Kuota Haji

Kamis, 29 Oktober 2026 | 21:36

Singapura Panggil 10 Perusahaan RI soal Karhutla, Rosan: Investasi Tetap Terbuka

Kamis, 29 Oktober 2026 | 21:21

Selengkapnya