Berita

Ilustrasi (RMOL via Gemini AI)

Bisnis

Harga Minyak Melonjak Mendekati 120 Dolar AS

KAMIS, 30 APRIL 2026 | 09:50 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Harga minyak dunia bertahan di level tertinggi dalam beberapa minggu terakhir setelah melonjak tajam, didorong oleh meningkatnya kekhawatiran terhadap pasokan global. 

Ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran menjadi faktor utama yang membuat pasar semakin gelisah.

Dikutip dari Reuters, Kamis 30 April 2026, pada perdagangan Rabu, harga minyak naik lebih dari 6 persen. Minyak mentah Brent ditutup di kisaran 118 Dolar AS per barel, bahkan sempat menyentuh 120 Dolar AS dalam perdagangan setelah penutupan -- level tertinggi sejak 2022. 


Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS juga naik sekitar 7 persen ke level 106,88 Dolar AS per barel.

Kenaikan harga ini terjadi seiring kebuntuan negosiasi antara AS dan Iran, yang memicu kekhawatiran akan gangguan pasokan minyak dari Timur Tengah dalam jangka panjang. Penutupan Selat Hormuz menjadi salah satu pemicu utama lonjakan harga dalam beberapa hari terakhir.

Dari sisi kebijakan, Presiden AS Donald Trump dilaporkan telah meminta perusahaan minyak dalam negeri untuk mencari cara mengurangi dampak blokade terhadap Iran. Langkah ini justru memperkuat kekhawatiran pasar bahwa gangguan pasokan bisa berlangsung lama.

Selain faktor geopolitik, data dari pemerintah AS juga turut mendorong kenaikan harga. Persediaan minyak mentah AS turun lebih dari 6 juta barel dalam sepekan, jauh di atas perkiraan analis. Stok bensin dan bahan bakar lainnya juga ikut menurun, menandakan pasokan mulai mengetat.

Kondisi ini semakin mengkhawatirkan karena mendekati musim puncak konsumsi bahan bakar di AS, yaitu musim panas. Pada periode ini, permintaan biasanya meningkat tajam karena aktivitas perjalanan dan transportasi yang lebih tinggi.

Di sisi lain, keputusan OPEC yang ditinggalkan oleh Uni Emirat Arab juga menjadi perhatian investor. Meski begitu, analis menilai dampaknya terhadap pasokan dalam jangka pendek masih terbatas, karena negara-negara produsen tetap akan memaksimalkan produksi yang ada.

Namun dalam jangka panjang, keluarnya UEA dari OPEC berpotensi mengganggu keseimbangan pasar. Risiko kelebihan pasokan bisa meningkat mulai 2027, yang justru dapat menekan harga minyak di masa depan.

Populer

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Ketika Pencalonan Ryamizard Ryacudu sebagai Panglima TNI Dianulir SBY

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:18

Dadan Hindayana Kena Batunya

Rabu, 03 Juni 2026 | 01:04

UPDATE

Buyback Emas Antam Meroket Rp55.000, Satu Gram Dibanderol Rp2,45 Juta

Jumat, 12 Juni 2026 | 09:57

Harga Minyak Dunia Merosot Imbas Keputusan Trump

Jumat, 12 Juni 2026 | 09:56

IHSG Terbang 1,6 Persen Menuju 6.000, Rupiah Ikut Menguat

Jumat, 12 Juni 2026 | 09:44

PKS: Koalisi Prabowo Akan Tetap Konstruktif Jaga Persatuan Bangsa

Jumat, 12 Juni 2026 | 09:40

Pengusaha Heri Black Dicecar KPK soal Kontainer Berisi Sparepart di Pelabuhan Tanjung Emas

Jumat, 12 Juni 2026 | 09:29

10 Kader Ramaikan Bursa Caketum PB SEMMI di Kongres IX Banten

Jumat, 12 Juni 2026 | 09:17

Berkas Lengkap, Mantan Ketua Ombudsman Hery Susanto Segera Disidang

Jumat, 12 Juni 2026 | 09:08

Korea Pimpin Reli Bursa Asia

Jumat, 12 Juni 2026 | 08:54

Galeri 24 Dorong Literasi Investasi Emas Masyarakat di Jakarta Fair 2026

Jumat, 12 Juni 2026 | 08:47

Manfaatkan Program Nikah Massal dan One Stop Nikah Solution dari Kemenag, Daftar Sekarang!

Jumat, 12 Juni 2026 | 08:43

Selengkapnya