Berita

KH Imam Jazuli. (Foto: Istimewa)

Publika

KH Imam Jazuli: Kiai Transformatif Cum Saudagar Gagasan

MINGGU, 26 APRIL 2026 | 06:23 WIB

MENATAP sosok Kiai Haji Imam Jazuli hari ini, ingatan saya seperti memutar masa lalu, masa-masa menjadi aktivis mahasiswa di Kairo. 

Rutenya tiap hari hampir sama, antara kampus Al-Azhar, toko buku murah, Azbekiyah Atabah, Wisma Nusantara di Rabiah al Adawiyah. Bedanya, dia tinggal di Hayyu Asyir, sementara saya tinggal di Madinatul Buuts.

Saat itu, kami biasa memanggilnya Izul. Kami sama-sama menjadi mahasiswa di Universitas Al-Azhar, Mesir. Fakultas dan jurusan yang sama, Akidah Filsafat.  


Di mata kami, Izul adalah anomali. Di saat banyak mahasiswa memilih menekuni muqarar atau diktat kitab di apartemen, dia justru memilih jalur "berisik". 

Dia aktivis tulen. Nafasnya ada di organisasi. Jejaknya berceceran di mana-mana: ICMI Orsat Cairo, KMNU Mesir, pers mahasiswa, hingga Senat Ushuluddin PPMI. Belum lagi organisasi kedaerahan. Logikanya sederhana: kalau mau pintar, baca buku; kalau mau matang, berorganisasi.

Ajaibnya, meski jadwalnya sepadat jadwal kereta bawah tanah Kairo, akademiknya tak kedodoran. 

Dia lulus tepat waktu. Ini fenomena langka di kalangan aktivis Al-Azhar saat itu. Biasanya, kalau tidak lulusnya telat, ya organisasinya yang mandek. Izul sabet keduanya.

Dari Aktivis ke Pengusaha

Tahun 2000, jalan kami membelah. Dia ke Malaysia untuk pascasarjana, saya pulang ke Tanah Air. Kami kehilangan kontak. Enam tahun berselang, takdir mempertemukan kami di kawasan Fatmawati, Jakarta.

Semangatnya masih sama: menggebu, bicaranya cepat, dan gagasannya seringkali out of the box. Tapi ada yang berbeda. Izul bukan lagi aktivis kampus yang mengandalkan proposal. Dia telah menjelma menjadi pengusaha dan seorang "saudagar gagasan".

Izul mendirikan PT Fikruna dan Fikruna Center yang kantornya ada di Jakarta dan Bandung. Bukan sekadar bisnis, tapi jembatan ilmu. 

Dia membantu santri menembus universitas di ASEAN, Timur Tengah, hingga Eropa. Bukan cuma konsultasi, tapi diantar sampai gerbang kampus. Hal yang pada saat itu sepertinya belum pernah dilakukan oleh siapapun.

Lewat Fikruna Center, dia mengorkestrasi para dai lulusan Al-Azhar untuk masuk ke jantung BUMN dan Kementerian. Dia tahu betul kualitas kawan-kawannya, dan dia tahu ke mana kualitas itu harus disalurkan.

Melalui Fikruna Center itu Izul rupanya tidak mau sekadar kejar tayang menggelar ceramah agama yang masuk telinga kanan keluar telinga kiri, tapi berani ambil risiko melakukan investasi training serius untuk pengembangan SDM berbasis spiritual. 

Ini langkah "nekat" yang patut diacungi jempol, karena mengubah paradigma yang selama ini hanya fokus pada kuantitas pengajian menjadi kualitas manusia seutuhnya -- paduan antara cerdas intelektual dan jernih spiritual, sebuah kombinasi langka yang akan melahirkan energi dan SDM unggul.

Kantornya PT Fikruna dan Fikruna Center saat itu tersebar di Fatmawati Jakarta, Margonda Depok, dan MTC Bandung. Ketiganya sangat strategis dan jantungnya kota metropolitan.

Memadukan Literasi, Film dan Tour And Travel

Izul tidak pernah puas dengan satu kemenangan. Dia merambah dunia penerbitan melalui Global Overseas. Di tangannya, buku bukan sekadar tumpukan kertas. Banyak buku di penerbitannya yang "naik kelas" menjadi visual.

Ingat film Sang Kiai? Atau Haji Backpacker dan serial Sinar Mandar? Di balik layar-layar itu, ada keterlibatan penerbitannya. 

Dia bahkan bermitra dengan Kemenag RI untuk pengadaan buku-buku sekolah, alat peraga dan manajemen SDM Kemenag melalui konsultannya. Dia sadar, dakwah masa kini harus masuk lewat literasi dan industri kreatif.

Melalui Global Overseas, Izul juga mendirikan Biro Tour and Travel yang tak biasa. Disaat yang lain hanya membuat paket umroh dan haji reguler, yang itu-itu saja. Izul membuat lompatan jauh, paket umrahnya menawarkan paket tambahan menelusuri jejak islam di Asia, Timur Tengah bahkan Eropa. 

Tahun 2011 saya ketemu Izul lagi, dan saya tambah kaget, ternyata dia bisnisnya melebar ke batubara dan distributor Oli Shell khusus Banten Zona II.

Pesantren Transformatif Bina Insan Mulia

Muara pengalaman dari segala pengembaraan manajerialnya adalah Pondok Pesantren Bina Insan Mulia (BIMA). Dimulai tahun 2013, dalam waktu yang relatif singkat bagi ukuran sebuah lembaga pendidikan, BIMA meledak.

Kini, santrinya menembus angka 5.000-an. Luas tanahnya lebih dari 90 hektare. Alumninya? Sudah menyebar ke seluruh belahan dunia. Apa rahasianya? 

Setidaknya ada dua. Satu, manajerial yang handal. Dia mengelola pesantren dengan standar spiritualitas korporasi namun tetap berjiwa santri. Dua, gagasan out of the box. Dia tidak mengikuti arus, dia menciptakan arus.

Kiai Izul ini tipe manajer yang kerja dulu, mikir belakangan -- eh, salah --mikir terus sampai ketemu jalan keluar, baru kerja gila-gilaan.

Di kepalanya itu kayak ada gudang gagasan. Stok idenya nggak pernah habis, bahkan sering bikin pusing timnya sendiri.

Selain itu, dia rajin membangun jejaring global: Izul tidak hanya mengajar santri mengaji, tapi membuka jendela dunia bagi mereka. 

Melihat sosok sahabat saya, Kiai Imam Jazuli adalah bukti bahwa seorang santri bisa menjadi apa saja tanpa kehilangan jati dirinya. Dia adalah aktivis yang tuntas, pengusaha yang cerdas, dan kiai yang visioner.

Tentu saja, melihat BIMA hari ini, saya melihat Izul yang dulu di Kairo: orang yang tak pernah bisa diam, yang selalu gelisah jika tidak membawa perubahan.

KH Nanang Firdaus Masduki
Pimpinan Syafana Islamic School BSD City

Populer

PIK-2 dan Ancaman Kedaulatan Negara

Rabu, 19 Agustus 2026 | 04:42

Satlap Tri Cakti Diduga Hadang Polisi di Belitung, IPW Desak Ada Tindak lanjut

Senin, 17 Agustus 2026 | 14:30

KPK OTT Rektor Unsoed Prof Akhmad Sodiq

Jumat, 21 Agustus 2026 | 08:01

Profil Akhmad Sodiq, Rektor Unsoed yang Terjaring OTT KPK

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 09:02

TNI Kuasai Wilayah OPM di Intan Jaya dan Sita Sejumlah Senjata

Minggu, 16 Agustus 2026 | 01:24

Belasan Teman Jokowi Bagusnya Batal Jadi Saksi Sidang soal Ijazah

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 03:14

KPK Sebut Iptu Dias Tak Bisa Dijerat Dewas, Penanganan Etik Diserahkan ke Polri

Senin, 24 Agustus 2026 | 11:47

UPDATE

Protelindo Masuk BTEL, Kuasai 10,86 Persen Saham Bakrie Telecom

Rabu, 26 Agustus 2026 | 10:26

Prabowo ke NTT Hari Ini, Pastikan Penanganan Korban Gempa Berjalan Baik

Rabu, 26 Agustus 2026 | 10:17

Pengamat: Rekam Jejak Mumpuni Bikin KH Marsudi Syuhud Unggul di Bursa Ketum PBNU

Rabu, 26 Agustus 2026 | 10:13

Presiden Prabowo Dijadwalkan Buka Muktamar ke-35 NU Besok

Rabu, 26 Agustus 2026 | 10:12

Emas Antam Merosot Rp18.000, Satu Gram Jadi Segini

Rabu, 26 Agustus 2026 | 10:03

DEEP Ingatkan Percepatan Pemilu Harus Punya Alasan Konstitusional

Rabu, 26 Agustus 2026 | 09:55

IHSG Balik Arah ke Zona Merah, Rupiah Menguat ke Rp17.690 per Dolar AS

Rabu, 26 Agustus 2026 | 09:44

SHOW Token Dorong Transformasi Industri Hiburan Global lewat Teknologi AI dan Blockchain

Rabu, 26 Agustus 2026 | 09:21

Bursa Asia Variatif, Investor Pantau Pergerakan Timur Tengah

Rabu, 26 Agustus 2026 | 09:06

THMP Bantah Pertemuan Jokowi-Relawan Bahas Pemilu 2029

Rabu, 26 Agustus 2026 | 09:03

Selengkapnya