Berita

Kampus Universitas Indonesia. (Foto: Istimewa)

Publika

16 Mahasiswa Otak Porno Cemarkan Nama UI

SELASA, 14 APRIL 2026 | 17:03 WIB

DI negeri ini, tidak ada yang lebih sakral dari status “lolos ke Universitas Indonesia (UI),” apalagi kalau sudah masuk Fakultas Hukum. 

Itu bukan sekadar pendidikan, itu semacam tiket menuju kasta elite keluarga. Orang tua mendadak naik level jadi juru bicara kebanggaan nasional. 

Grup WA keluarga berubah jadi konferensi pers, “Anak saya FH UI.” Nada bicaranya seperti baru memenangkan tender proyek peradaban.


Mereka rela apa saja. SPP mahal? Gas. Lembur? Hayuk. Jual aset? Bismillah. Karena dalam bayangan mereka, anak itu sedang bertransformasi jadi hakim bijak, jaksa tegas, atau pengacara berintegritas. Pokoknya masa depan cerah, moral kuat, otak tajam.

Tapi realita kadang lebih kejam dari plot twist perang Iran vs Amerika.

Alih-alih mempelajari hukum dengan khidmat, 16 mahasiswa FH UI angkatan 2023 ini justru seperti membuka laboratorium gelap, bukan laboratorium hukum, tapi “praktikum liar” dalam disiplin tak resmi, seksiologi versi gagal paham. 

Kalau ilmu seksiologi sejatinya mempelajari seksualitas manusia dengan pendekatan ilmiah, etis, dan penuh tanggung jawab. 

Mereka lakukan justru kebalikannya. Mereka menjadikan seksualitas sebagai bahan olok-olok. Objek konsumsi, dan permainan kata-kata kotor.

Grup WA dan LINE mereka bukan tempat diskusi pasal, melainkan etalase komentar mesum. 

Tubuh perempuan, baik mahasiswi maupun dosen, dibedah bukan dengan perspektif akademik. Tapi, dengan logika warung kopi tengah malam yang kehilangan akal sehat. 

Lelucon cabul beterbangan. Frasa menjijikkan seperti “diam berarti consent” dan “asas perkosa” dipakai seolah itu humor cerdas.

Ini bukan lagi sekadar salah ucap. Ini adalah kegagalan memahami batas paling dasar dalam interaksi manusia.

Ironinya, semua itu terjadi di ruang yang seharusnya jadi benteng etika. Di kelas, di kampus, bahkan saat proses belajar berlangsung, masih ada yang sempat mengetik kalimat vulgar karena terganggu suara teman. 

Bukan cuma tidak paham hukum, tapi juga tidak paham sopan santun level TK.

Tanggal 12 April 2026, semuanya meledak. Screenshot chat mereka viral. Publik murka. FH UI langsung bergerak, Satgas PPKS turun tangan. 

Malam 13 April hingga dini hari 14 April, digelar forum terbuka di Auditorium Djokosoetono FH UI.

Awalnya hanya dua yang muncul. Sisanya seperti menghilang dari peredaran, entah strategi bertahan atau sekadar refleks panik. 

Tapi massa mahasiswa tidak mau kompromi. Teriakan “tampilkan semua!” menggema. Akhirnya lengkap 16 orang dihadirkan.

Momen itu seperti sidang sosial terbesar dalam hidup mereka. Berdiri di depan ratusan sivitas akademika, disorot, disoraki, diminta mengakui kesalahan. Mereka seperti cermin retak dari sistem yang gagal menyaring karakter.

Korban berbicara. Suaranya bergetar, emosinya pecah. Ada marah, ada kecewa, ada trauma yang tidak bisa ditutup dengan kata “maaf”. 

Mereka merasa tidak aman, di kelas, di organisasi, bahkan di lingkungan yang seharusnya melindungi.

Sanksi mulai dijatuhkan. Dicabut dari organisasi kemahasiswaan, termasuk Ikatan Keluarga Mahasiswa FH UI. 

BEM FH UI dan BEM UI menuntut hukuman maksimal, drop out. Karena jelas, ini bukan sekadar pelanggaran ringan yang bisa diselesaikan dengan klarifikasi dan air mata.

Pihak kampus menyatakan akan memproses hingga tuntas, termasuk kemungkinan pidana sesuai UU TPKS. Tapi di luar semua proses itu, ada satu hal yang tidak bisa diperbaiki dengan cepat: nama baik.

Bukan hanya nama baik kampus, tapi juga keluarga. Orang tua yang dulu bangga setinggi langit, kini harus menanggung malu yang berat. 

Dari “anak FH UI” menjadi “anak yang terlibat chat mesum viral.” Perubahan status yang lebih cepat dari loading internet tetangga.

Kasus ini membuktikan satu hal penting. Kecerdasan akademik tidak otomatis melahirkan kecerdasan moral. Tanpa etika, ilmu setinggi apa pun bisa berubah jadi alat pembenaran kebodohan.

Di sinilah ironi terbesar itu berdiri tegak. Di kampus hukum, tempat keadilan diajarkan, justru muncul praktik yang melukai rasa aman.

Akhirnya, kita dipaksa menerima kenyataan pahit. Tidak semua yang lolos seleksi ketat benar-benar siap jadi manusia beradab. 

Sebagian hanya lolos secara akademik, tapi tertinggal jauh dalam hal yang paling mendasar, menghargai sesama manusia.

“Mereka harapan bangsa ini, Bang. Kalau otak mesum seperti itu, apa jadinya hukum ke depan.”

“Cobalah mereka itu disuruh minum Koptagul, dijamin otak tetap encer dan waras, wak!

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

Populer

Pensiunan ASN Bakal Terima Uang Pensiun Langsung dari Kas Negara pada 2027

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:07

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Pengusaha Keberatan Masa Kerja Karyawan Kontrak Dipangkas jadi Empat Tahun

Kamis, 08 Oktober 2026 | 18:20

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

UPDATE

Menelusuri Perjalanan Baru Vision dalam Serial VisionQuest

Kamis, 15 Oktober 2026 | 10:29

Usai Mandek, Harga Emas Antam Langsung Anjlok Hari Ini

Kamis, 15 Oktober 2026 | 10:22

Polisi Rilis 13 Korban Ledakan Pertokoan Pasar Cimanggis Tangsel

Kamis, 15 Oktober 2026 | 10:17

COP31 Jadi Momentum Prabowo Percepat Transisi Energi

Kamis, 15 Oktober 2026 | 10:08

PM Baru Maroko Temui Raja, Bahas Pembentukan Pemerintahan Baru

Kamis, 15 Oktober 2026 | 10:03

Pertamina Kerahkan Armada Tambahan dan Terminal 24 Jam untuk Normalisasi BBM di Bal

Kamis, 15 Oktober 2026 | 09:54

4,4 Juta Sertifikat Halal Terbit Jelang Batas Akhir, Didominasi UMKM

Kamis, 15 Oktober 2026 | 09:46

Pengamat Dorong Percepatan Jargas dan CNG untuk Tekan Impor LPG

Kamis, 15 Oktober 2026 | 09:42

Rupiah Nyaris Tembus Rp18.000 per Dolar AS, BI Langsung Buka Suara

Kamis, 15 Oktober 2026 | 09:38

Badai PHK Melanda Netflix Saat Pertumbuhan Melambat

Kamis, 15 Oktober 2026 | 09:27

Selengkapnya