Berita

Ilustrasi. (Foto: Istimewa)

Bisnis

Rupiah Diramal Tembus Rp17.400 per Dolar AS Imbas Teluk Kembali Bergolak

SENIN, 13 APRIL 2026 | 12:39 WIB | LAPORAN: ALIFIA DWI RAMANDHITA

Nilai tukar rupiah diperkirakan berpotensi menembus level Rp17.400 per dolar Amerika Serikat (AS) pada bulan April 2026, atau lebih cepat dari proyeksi sebelumnya di akhir tahun.

Pengamat pasar uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi menilai, tekanan terhadap rupiah dipicu eskalasi geopolitik, terutama setelah gagalnya perundingan antara Iran dan AS yang dimediasi Pakistan.

“Di luar dugaan, perundingan Iran-Amerika yang diprakarsai Pakistan gagal total. Artinya, perang kemungkinan besar akan kembali berkecamuk,” kata Ibrahim dalam risetnya pada Senin, 13 April 2026.


Ia menjelaskan, kondisi tersebut langsung mendorong penguatan indeks dolar AS dan lonjakan harga minyak dunia. Kenaikan dua indikator global ini dinilai menjadi sentimen negatif dan mempercepat tekanan terjadap rupiah.

“Dan di bulan April, kalau memang terjadi perang di Selat Hormuz, kemungkinan besar akan menuju level Rp17.400, (kurs itu) sebenarnya akhir tahun saya prediksi. Tetapi dengan kondisi seperti ini, kemungkinan besar April Rp17.400 itu akan tercapai,” tegasnya.

Menurutnya, indeks dolar yang sebelumnya berada di kisaran 98,6 kink melonjak mendekati 99,1. Sementara harga minyak mentah jenis WTI sudah menembus di atas 104 dolar AS per barel dan berpotensi terus naik.

Lonjakan harga energi ini dinilai membawa dampak ganda bagi Indonesia. 

Menurut Ibrahim, kebutuhan impor minyak akan meningkat yang dapat memperbesar permintaan dolar AS. Di sisi lain, tekanan terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) juga semakin besar.

“Oleh karena itu berarti pemerintah harus mengimpor minyak yang cukup besar dengan dolar yang cukup besar. Inilah yang membuat harga Rupiah mengalami pelemahan,” tuturnya.

Selain itu, gangguan distribusi minyak di Selat Hormuz turut memperparah situasi. Jalur tersebut merupakan salah satu rute utama pengiriman minyak global, sehingga setiap konflik di kawasan itu berdampak langsung ke pasar energi.

Lebih lanjut, ia mengingatkan bahwa konflik tersebut berpotensi meluas, melibatkan sejumlah negara dan kelompok di kawasan. Kondisi ini dinilai menjadi faktor utama yang menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

“Nah kalau seandainya terjadi perang di Iran dengan Amerika, berarti Houthi, kemudian Yaman, Houthi-Yaman, kemudian Lebanon, kemungkinan besar akan terlibat perang kembali dengan Israel. Nah ini yang membuat rupiah di prediksi 17.400, yang sebelumnya 17.400 itu di akhir tahun, kemungkinan besar di bulan April ini akan tercapai,” tandasnya.

Populer

KPK Bakal Dalami Data Intelijen soal Dugaan Suap ke Purbaya dan Anggota Komisi XI DPR

Kamis, 27 Agustus 2026 | 02:24

Muhadjir Terbitkan Surat Pengalihan Kuota Haji Usai Konsultasi ke Jokowi

Selasa, 01 September 2026 | 15:17

MAKI Puji Kerja Senyap Jampidsus Kuntadi Fokus Rampas Aset

Selasa, 01 September 2026 | 01:59

Dakwaan Lemah, Perkara Chromebook Murni Rekayasa

Kamis, 27 Agustus 2026 | 14:31

Tidak Benar Menag Nasaruddin Umar Mundur

Rabu, 26 Agustus 2026 | 18:06

KPK Sebut Iptu Dias Tak Bisa Dijerat Dewas, Penanganan Etik Diserahkan ke Polri

Senin, 24 Agustus 2026 | 11:47

KPK Sita Rumah Mewah Milik Vinna Ledy Anggraheni di Jaksel

Selasa, 01 September 2026 | 11:03

UPDATE

Logam Mulia Kembali Berkilau Ditopang Penurunan Dolar AS

Kamis, 03 September 2026 | 08:15

Wall Street Bangkit dari Tekanan Berkat Aksi Borong Saham

Kamis, 03 September 2026 | 07:57

BeZakat 2026 Kembali Dibuka, Sasar Lulusan SMA dari Keluarga Kurang Mampu

Kamis, 03 September 2026 | 07:44

BBHI Mau Dibeli Lagi, Allo Bank Siapkan Dana Rp300 Miliar

Kamis, 03 September 2026 | 07:26

Bursa Eropa Tertekan, STOXX 600 Terseret Lonjakan Harga Minyak

Kamis, 03 September 2026 | 07:11

UUD 1945 Asli dan Penyelamatan Peradaban

Kamis, 03 September 2026 | 06:50

Pengelolaan Gas Andaman Didorong di Daratan Aceh, PR Hilirisasi Menanti

Kamis, 03 September 2026 | 06:22

TNI Gercep Evakuasi Warga Antisipasi Meningkatnya Aktivitas Gunung Sinabung

Kamis, 03 September 2026 | 05:59

Polemik BYAN Harus Dibaca sebagai Uji Kesiapan Regulator

Kamis, 03 September 2026 | 05:29

Produktivitas Bawang Merah Melejit Lewat Inovasi Startup Binaan IPB

Kamis, 03 September 2026 | 04:50

Selengkapnya