DUNIA lagi pusing soal war (perang), Kementerian Haji (Kemenhaj) tak kalah membuat pusing calon jamaah haji. Tiba-tiba wacanakan war tiket. "Bende ape age tu, Bang?" tanya orang Pontianak heran.
Bertahun-tahun antre haji. Bukan antre bakso, bukan antre BBM, ini antre menuju Tanah Suci. Durasi? Santai saja, 20 sampai 26 tahun. Jumlah yang nunggu? Lebih dari 5,7 juta jiwa.
Itu bukan angka kecil, itu sudah kayak satu negara kecil lagi berdiri di barisan ihram. Orang nabung dari muda, dari rambut hitam sampai ubanan, dari jalan tegak sampai pakai tongkat.
Eh… tiba-tiba datang ide “cemerlang” dari langit ketujuh versi birokrasi, sistem wartiket.
War tiket, wak! WAR TIKET!
Ibadah haji disulap jadi kayak rebutan konser Lyodra Tiara Ziva. Siapa cepat dia dapat. Siapa lemot, siap-siap jadi penonton.
Kuota dari Arab Saudi? Sekitar 200 ribu per tahun. Dibuka sebentar, bayar lunas, langsung berangkat. Yang internetnya ngadat? Yang sinyalnya masih E kayak zaman purba? Silakan duduk manis sambil zikir nahan emosi.
Ini bukan lagi ibadah. Ini sudah masuk kategori
flash sale neraka dunia.
Katanya ini perintah dari Prabowo Subianto, revolusi sistem haji. Menteri Haji, Gus Irfan Yusuf, bersama wakilnya Dahnil Anzar Simanjuntak langsung gaspol. Logikanya sederhana, “Ngapain antre lama-lama? Kita bikin cepat!”
Masalahnya, wak… ini bukan lomba lari 100 meter!
Ini ibadah yang sudah diatur dengan sistem panjang, sabar, dan penuh keadilan. Orang sudah setor uang, sudah masuk daftar, sudah nunggu belasan bahkan puluhan tahun. Tiba-tiba disuruh ikut lomba klik-klik-an? Ini solusi atau jebakan betmen?
Langsung DPR ngamuk. Ketua Komisi VIII, Marwan Dasopang, bicara dingin tapi nusuknya dalam. Ini ide bukan solusi, ini akal-akalan yang berpotensi melanggar Undang-Undang Haji dan Umrah. Dasar hukumnya? Nol besar. Kosong melompong kayak dompet tanggal tua.
Pertanyaan paling brutal, nasib yang sudah antre 7 sampai 24 tahun ini gimana? Yang sudah setor uang sampai total Rp140 triliun itu mau diapakan?
Jangan pura-pura lupa Kalau sistem ini jalan, yang kaya akan melesat seperti roket. Yang miskin? Tertinggal di landasan sambil melambaikan tangan. Ini bukan lagi soal ibadah, ini sudah jadi lomba dompet dan kecepatan internet.
Nuan bayangkan nenek di pelosok desa. Nabung dari jual pisang goreng, simpan uang di kaleng biskuit, doa tiap malam. Tiba-tiba harus bersaing dengan anak kota yang HP-nya 5G, jempolnya gesit kayak ninja, dan rekeningnya tebal kayak novel 1000 halaman.
Ini bukan tidak adil.
Ini kejam secara sistemik.
DPR sudah bilang, ini bisa jadi diskriminatif. Orang miskin, lansia, warga pelosok, semua berpotensi tersingkir. Jangan sampai muncul narasi baru, “Haji hanya untuk yang cepat dan kaya.”
Astaghfirullah… ini ibadah atau seleksi masuk klub elite?
Netizen? Jangan ditanya.
Timeline panas kayak JK tiba-tiba minta lihatkan ijazah Jokowi. Semua nanya hal yang sama, “Haji kok jadi kayak war tiket?” “Ibadah kok berubah jadi even komersial?”
Tunggu saja efek lanjutannya. Calo digital bermunculan. Bot otomatis serbu server. Jasa “titip war haji” mulai buka paket promo. Server ambruk dalam 5 menit pertama
Klasik. Sangat klasik. Negara + server = tragedi nasional. Yang di kota saja bisa kalah cepat, apalagi yang di pedalaman. Yang gaptek? Tamat. Yang sabar antre bertahun-tahun? Disalip dalam 10 detik oleh yang siap bayar lunas.
Ini bukan efisiensi. Ini chaos yang dikemas rapi pakai kata “revolusi.”
Memang katanya ini baru wacana. Katanya masih dikaji. Tapi wacana macam ini saja sudah cukup bikin darah naik ke ubun-ubun. Karena kita semua tahu, ide seperti ini kalau tidak dihentikan, bisa berubah jadi kenyataan yang menyakitkan.
Haji itu bukan lomba sprint. Haji itu perjalanan hidup.
Kalau sistemnya begini, jangan kaget kalau nanti, yang kaya berangkat tiap tahun, yang miskin cuma bisa nonton
live streaming sambil nangis di pojokan.
Jadi bagaimana, wak Kita diam? Atau kita war akal sehat sebelum war tiket dimulai?
Semoga saja ini berhenti di meja diskusi.
Kalau tidak… siap-siap saja. Tahun depan mungkin akan ada tutorial di YouTube,
“Cara menang war tiket haji dalam 3 detik tanpa gagal.”
Selamat datang di zaman aneh. Di mana sabar kalah oleh sinyal, dan ibadah kalah oleh kecepatan jempol.
Rosadi JamaniKetua Satupena Kalbar