Berita

Saepul Bahri Binzein dan Abang Ijo Hapidin. (Foto: Istimewa)

Publika

Retak di Kursi Kekuasaan:

Abang Ijo Jadi Ancaman Nyata Om Zein Menuju Pilkada 2029

JUMAT, 10 APRIL 2026 | 03:11 WIB

PETA politik Purwakarta menuju Pilkada 2029 mulai memperlihatkan retakan yang semakin jelas dari dalam lingkaran kekuasaan sendiri. 

Sosok yang kini paling layak diperhitungkan sebagai penantang serius 
Saepul Bahri Binzein, yang akrab disapa Om Zein, bukan figur oposisi dari luar, melainkan orang yang hari ini duduk tepat di sampingnya: Wakil Bupati Purwakarta, Abang Ijo Hapidin.

Abang Ijo bukan nama baru dalam politik Purwakarta. Ia saat ini menjabat sebagai wakil bupati mendampingi Saepul Bahri Binzein setelah keduanya memenangkan Pilkada 2024 dalam satu paket kekuasaan. 

Abang Ijo bukan nama baru dalam politik Purwakarta. Ia saat ini menjabat sebagai wakil bupati mendampingi Saepul Bahri Binzein setelah keduanya memenangkan Pilkada 2024 dalam satu paket kekuasaan. 

Namun, justru dari kebersamaan itu mulai terlihat perbedaan sikap yang semakin terbuka di ruang publik.

Dalam beberapa isu strategis, Abang Ijo kerap menunjukkan posisi yang berbeda, bahkan terkesan mengambil jarak dari pendekatan politik Om Zein. 

Mulai dari sorotan soal dugaan pungli di kawasan Cirata, polemik Program Indonesia Pintar di Sukasari, hingga isu terbaru soal kebijakan pengetatan izin keramaian hajatan yang menuai kritik luas. 

Di tengah polemik tersebut, publik melihat adanya dua cara pandang yang berbeda dalam membaca persoalan warga.

Perbedaan itu penting, karena dalam politik lokal, persepsi sering kali lebih menentukan daripada penjelasan formal. 

Saat kebijakan pemerintah menuai resistensi, publik cenderung mencari siapa sosok yang paling responsif terhadap keresahan mereka. Di titik ini, Abang Ijo memiliki ruang yang sangat strategis.

Ia bukan hanya pejabat yang memahami birokrasi dari dalam, tetapi juga figur yang sudah lama dikenal dekat dengan masyarakat bawah. 

Nama Abang Ijo bukan sekadar panggilan populer, melainkan identitas politik yang tumbuh dari kedekatan sosial. Ia punya basis dukungan nyata di kalangan petani, pedagang kecil, komunitas desa, hingga anak muda.

Kekuatan seperti ini tidak bisa dianggap remeh. Dalam kontestasi politik daerah, kedekatan emosional dengan warga sering jauh lebih menentukan daripada kekuatan formal jabatan. 

Abang Ijo memiliki modal sosial yang tidak mudah dibangun hanya melalui panggung kekuasaan.

Situasi menjadi semakin menarik ketika Abang Ijo sempat ramai diperbincangkan usai curhat di media sosial soal dirinya yang merasa tidak dilibatkan dalam sejumlah proses strategis pemerintahan. 

Meski tidak disampaikan secara frontal sebagai kritik politik, sinyal semacam itu cukup untuk memunculkan spekulasi soal kerenggangan di tubuh kekuasaan.

Bagi publik, peristiwa itu bukan sekadar curahan hati seorang wakil bupati. Itu dibaca sebagai tanda bahwa hubungan politik di pucuk pemerintahan Purwakarta tidak seharmonis yang terlihat di permukaan. 

Dalam konteks Pilkada 2029, sinyal seperti ini sangat penting karena bisa menjadi embrio lahirnya poros politik baru.

Bagi Om Zein, posisi sebagai petahana memang memberi keuntungan besar. Ia memiliki panggung pemerintahan, akses program, dan legitimasi jabatan. 

Namun, keunggulan itu juga datang bersama beban politik. Seluruh janji, capaian, kekurangan, hingga kebijakan yang menuai kritik akan menjadi bahan evaluasi publik.

Di sinilah Abang Ijo berpotensi menjadi ancaman nyata. Ia punya dua kekuatan sekaligus: tahu cara kerja kekuasaan dari dalam, tetapi tetap punya citra dekat dengan rakyat. 

Kombinasi ini sangat berbahaya bagi petahana, karena Abang Ijo bisa tampil sebagai simbol koreksi tanpa harus kehilangan legitimasi pengalaman.

Jika dinamika ini terus berkembang, Pilkada Purwakarta 2029 berpotensi menjadi salah satu pertarungan politik paling sengit dalam sejarah daerah. 

Ini bukan sekadar duel dua tokoh, melainkan benturan dua model kepemimpinan: kekuasaan yang bertumpu pada jabatan melawan pengaruh yang tumbuh dari kedekatan sosial.

Retak di kursi kekuasaan hari ini bisa saja menjadi panggung pertarungan besar esok hari. Dan sejauh ini, Abang Ijo sedang menunjukkan bahwa ia bukan lagi sekadar pendamping, melainkan ancaman politik paling nyata bagi Om Zein menuju 2029.

Yuslipar
Kabiro Purwasukasi RMOLJabar

Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

Pengusaha Keberatan Masa Kerja Karyawan Kontrak Dipangkas jadi Empat Tahun

Kamis, 08 Oktober 2026 | 18:20

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

UPDATE

Persib Naik Peringkat Usai Tahan Imbang Dewa United

Senin, 12 Oktober 2026 | 02:20

Menata Kembali Pendidikan Kita

Senin, 12 Oktober 2026 | 01:58

Koperasi di Bima Sukses Produksi Garam Merah Putih

Senin, 12 Oktober 2026 | 01:35

Golkar Perkenalkan Sistem Dapil Nasional, Begini Penjelasannya

Senin, 12 Oktober 2026 | 01:15

Dua Tahun Prabowo-Gibran: Paradoks Kebijakan Pertahanan Negara

Senin, 12 Oktober 2026 | 00:48

Baintelkam Polri Alami Perombakan di Era Suyudi

Senin, 12 Oktober 2026 | 00:20

Taruna Merah Putih Gelar Taman Talks Kupas Masa Depan Kerja di Era AI

Minggu, 11 Oktober 2026 | 23:45

Polemik Revitalisasi Taman Coatesville, Warga Protes Bangunan 480 Meter Persegi

Minggu, 11 Oktober 2026 | 23:33

Pangandaran Run 2026 Rajut Kebersamaan TNI dan Rakyat

Minggu, 11 Oktober 2026 | 23:18

Manggala Agni Turun Tangan Padamkan Karhutla yang Mendekati Permukiman

Minggu, 11 Oktober 2026 | 23:07

Selengkapnya