Berita

Ilustrasi (RMOL via Gemini AI)

Bisnis

Sektor Bisnis Arab Saudi Terpukul, Pertama Kalinya dalam 6 Tahun

SENIN, 06 APRIL 2026 | 08:00 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Ekonomi non-minyak Arab Saudi, yang selama ini menjadi motor penggerak ambisi Vision 2030, akhirnya harus menghadapi kenyataan pahit. 

Untuk pertama kalinya dalam hampir enam tahun, aktivitas bisnis di sektor swasta negara kerajaan tersebut mencatatkan penurunan yang signifikan pada Maret 2026.

Laporan terbaru dari Indeks Manajer Pembelian (PMI) Bank Riyad yang dikutip dari Trading Economics, Senin 6 April 2026,  menunjukkan angka yang mengkhawatirkan, yakni merosot ke level 48,8. 


Sebagai catatan, angka di bawah 50 menandakan terjadinya kontraksi atau penurunan aktivitas ekonomi. Ini adalah performa terburuk sejak rekor terendah pada masa awal pandemi Maret 2020.

Penyebab utama dari lesunya ekonomi Saudi adalah eskalasi konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat sejak akhir Februari 2026. Perang ini tidak hanya menciptakan ketakutan secara politis, tetapi juga menghancurkan kelancaran arus barang.

Waktu pengiriman barang kini memanjang ke titik terlama sejak Juni 2020. Masalahnya bukan hanya penundaan di pelabuhan, tetapi juga lonjakan biaya bahan bakar dan pengiriman yang drastis.

Ketidakpastian global juga membuat klien internasional menunda pesanan. Permintaan ekspor dari Arab Saudi tercatat menyusut paling tajam dalam enam tahun terakhir.

Karena bahan baku telat sampai dan biaya operasional membengkak, banyak proyek dan pesanan yang akhirnya terbengkalai, mencapai level tertinggi sejak Juli 2018.

Meskipun harga jual barang dan jasa meningkat akibat mahalnya biaya transportasi dan bahan bakar, ada satu hal yang unik: tekanan upah justru melambat. 

Biaya input secara keseluruhan naik tipis, namun hal ini lebih disebabkan oleh penghematan perusahaan dalam merekrut tenaga kerja baru. Pertumbuhan lapangan kerja masih terjadi, namun dalam ritme yang jauh lebih lemah dibandingkan bulan-bulan sebelumnya.

Yang paling mengkhawatirkan bagi para investor adalah merosotnya optimisme pelaku usaha. Saat ini, sentimen bisnis di Arab Saudi berada di level terendah sejak Juni 2020. 

Meskipun pemerintah Arab Saudi terus menggelontorkan dana besar-besaran untuk proyek-proyek strategis, kekuatan belanja negara tersebut tampaknya belum cukup kuat untuk melawan kecemasan pasar terhadap dampak perang. Para pengusaha kini lebih memilih sikap "wait and see" daripada melakukan ekspansi besar-besaran.

Ini menjadi alarm bagi pasar global. Jika gangguan rantai pasok di Timur Tengah terus berlanjut, posisi Arab Saudi sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru di kawasan akan menghadapi ujian berat. Kunci pemulihan ke depan sangat bergantung pada seberapa cepat stabilitas keamanan di kawasan dapat tercapai kembali.

Populer

Putusan Eksepsi Dokter Tifa Berujung Antiklimaks

Minggu, 02 Agustus 2026 | 05:20

Oknum Brimob Jadi Tersangka, KPK Pastikan Sanksi Pidana hingga Etik Menanti

Jumat, 31 Juli 2026 | 13:44

Dana Nasabah Rp2,58 Miliar Raib, BCA Digugat ke PN Jakpus

Selasa, 28 Juli 2026 | 16:02

KPK Konstruksikan Dugaan Fee Rp3,5 Miliar dari Waskita untuk Eks Ketum HIPMI

Minggu, 02 Agustus 2026 | 14:18

Terkejut Mantan Ajudan Jadi Tersangka KPK, Alexander Marwata Kenang Kinerja Dias

Kamis, 30 Juli 2026 | 11:52

Kerumunan Massa saat Jokowi ke NTT Direkayasa

Senin, 03 Agustus 2026 | 13:39

Kasus OTT Pemalang: Anggota Polri yang Bertugas di KPK Jadi Tersangka

Kamis, 30 Juli 2026 | 10:29

UPDATE

Kejagung Pede Hadapi Febrie di Sidang Praperadilan

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 02:27

Gebrakan PAM Jaya Tekan Kebocoran Air Diapresiasi

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 02:19

FEB UNJ Dukung Pariwisata Berkelanjutan di Bali Lewat Pengabdian Masyarakat

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 02:01

Danantara Investasi Rp44 Triliun di JBS Group

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 02:01

Anggota PWI Jakbar Laporkan Oknum Polisi ke Propam Polda Metro, Ini Sebabnya

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 01:47

Bawaslu Campus Connect Jadi Solusi Tantangan Digital di Pemilu

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 01:28

Publik Curiga UGM Melindungi Dugaan Ijazah Palsu Jokowi

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 01:17

Febrie Adriansyah Siap Buka-bukaan di Sidang Praperadilan

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 01:02

Gedung Bapenda DKI Kebakaran

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 00:32

Pemerintah Diultimatum 15 Hari Terbitkan PP Cukai MBDK

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 00:13

Selengkapnya