Berita

Warga Myanmar antre di SPBU di tengah kelangkaan dan melonjaknya harga BBM (Tangkapan layar RMOL dari siaran YouTube Euro News)

Dunia

Myanmar Krisis BBM, 1 Liter Bensin Dibanderol Hampir Rp40.000

SELASA, 31 MARET 2026 | 14:15 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Konflik di Timur Tengah yang dipicu perang antara Amerika Serikat (AS), Israel dan Iran telah berdampak serius terhadap sektor energi global, termasuk memicu kelangkaan dan lonjakan harga bahan bakar di Myanmar. 

Media lokal melaporkan, dalam beberapa hari terakhir, kelangkaan bahan bakar menjadi topik hangat di media sosial Myanmar. Banyak warga mengeluhkan sulitnya mendapatkan bensin, ditambah harga yang melonjak tajam di berbagai wilayah. Untuk mengatasi krisis ini, pemerintah militer mulai 27 Maret memberlakukan sistem distribusi baru yang membatasi pembelian BBM berdasarkan kapasitas mesin kendaraan.

Dalam aturan tersebut, mobil pribadi hanya diperbolehkan membeli maksimal 35 liter per minggu, sementara taksi hingga 90 liter per minggu. Kebijakan ini dimaksudkan untuk mengontrol konsumsi, namun di lapangan justru memicu antrean panjang dan ketidakpuasan masyarakat.


Di kota terbesar, Yangon, harga bahan bakar melonjak drastis. Dalam waktu satu minggu, harga bensin dan solar naik sekitar 800 hingga lebih dari 1.200 Kyat per liter. Di beberapa daerah lain seperti Mawlamyine, harga bensin bahkan mencapai sekitar 4.825 kyat per liter. Jika dikonversi, angka ini setara dengan sekitar Rp35.000-Rp40.000 per liter, jauh lebih mahal dibanding harga BBM di Indonesia.

Keluhan masyarakat pun membanjiri media sosial, terutama terkait lamanya antrean dan pembatasan pembelian. 

Salah satu warga menulis, “Kami harus mengantre selama empat jam setiap hari. Saya mulai pukul 5 pagi hari ini dan masih belum mendapatkan bahan bakar.”

Keluhan lain datang dari Mandalay, di mana aturan resmi disebut tidak dijalankan secara konsisten. Warga mengaku hanya bisa membeli satu hingga dua liter bensin, meskipun aturan memperbolehkan lebih.

Selain itu, muncul dugaan praktik tidak adil dalam distribusi BBM. Sejumlah warga menilai ada permainan antara oknum pengusaha dan pejabat, karena bahan bakar yang langka di SPBU justru dijual bebas dengan harga jauh lebih tinggi di luar jalur resmi.

Krisis ini semakin memperburuk kondisi ekonomi masyarakat Myanmar yang sebelumnya sudah tertekan oleh tingginya biaya hidup dan keterbatasan transportasi. Aktivitas sehari-hari menjadi terganggu, terutama bagi pekerja yang bergantung pada kendaraan.

Sementara itu, pihak militer melalui juru bicara Mayor Jenderal Zaw Min Tun menyatakan bahwa cadangan bahan bakar nasional sebenarnya masih mencukupi. Ia menegaskan bahwa kebijakan pembatasan dilakukan untuk memastikan distribusi berjalan lebih teratur.

Namun demikian, fakta di lapangan menunjukkan bahwa kelangkaan, kenaikan harga, serta antrean panjang masih terus terjadi. Hal ini membuat kekhawatiran publik semakin meningkat dan kritik terhadap kebijakan pemerintah terus bermunculan. 

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Mengenal Pantas Sutardja, Orang Super Kaya AS Berdarah Indonesia

Kamis, 10 September 2026 | 05:04

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

KPK Belum Tutup Peluang Periksa Bos Rokok HS M Suryo

Sabtu, 12 September 2026 | 06:08

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

Usai Dimaafkan Jusuf Hamka, KAKI Dorong Polri Buka Kembali Kasus NCD Unibank

Sabtu, 05 September 2026 | 19:53

UPDATE

KPK Periksa Sejumlah Pejabat BPK di Kasus Suap Audit Pemkab Muara Enim

Senin, 14 September 2026 | 14:27

Pembukaan Rekening Massal Bikin Fiskal Pemerintah Makin Tertekan

Senin, 14 September 2026 | 14:26

Menteri Haji Minta Jemaah Bersiap, Biaya Haji Ditargetkan Tuntas Sepekan

Senin, 14 September 2026 | 14:16

Pembunuh Wanita Muda di Kamar Hotel di Tanah Abang Dibekuk

Senin, 14 September 2026 | 14:12

Megaproyek Northern Metropolis Ambisi Hong Kong Cetak Pusat Ekonomi Baru

Senin, 14 September 2026 | 14:09

Dolar AS Jadi Aset Paling Aman Setahun ke Depan

Senin, 14 September 2026 | 14:01

Mantan Aspri Ridwan Kamil Dipanggil KPK

Senin, 14 September 2026 | 14:01

Mobil Listrik China Mulai Jadi Favorit, JAECOO dan BYD Adu Penjualan

Senin, 14 September 2026 | 13:56

Kemenhaj Kawal Keberangkatan 282 Jemaah Umrah PT AAT Mulai 15 September

Senin, 14 September 2026 | 13:48

Kenaikan Harga Cabai Tak Picu Inflasi di Jakarta

Senin, 14 September 2026 | 13:48

Selengkapnya