Berita

Pesawat pengintai E-3 AWACS milik Amerika Serikat rusak parah terkena serangan rudal Iran. (Foto: Facebook)

Publika

AS Teriak Menang, Iran Malah Hancurkan AWACS dan Tenggelamkan Kapal Perang

SENIN, 30 MARET 2026 | 18:20 WIB

YANG namanya Donald Trump sama menteri pertahanannya selalu teriak menang. Iran kalah. Nyatanya, Iran sukses menghancurkan pesawat canggih AWACS dan enam kapal perang AS. Kok bisa? Ya bisalah, wak. 

Ceritanya begini, angkatan bersenjata Republik Islam Iran yang katanya “sudah melemah” itu tiba-tiba menggelar pertunjukan kembang api yang bukan kaleng-kaleng. Lokasinya? Pangkalan Udara Prince Sultan di Arab Saudi. Tempat yang biasanya tenang, eh mendadak berubah jadi taman bermain api. Romantis? Ya, romantis bagi yang hobi nonton langit penuh cahaya… sambil tiarap.

Yang paling bikin haru adalah nasib pewasat pendeteksi rudal, E-3 Sentry AWACS (Airborne Warning and Control System) kesayangan Amerika. Pesawat yang biasanya mondar-mandir di langit, ngintip sana-sini kayak tetangga kepo, kini terkapar manja di tanah. Rusak parah. Mungkin lagi merenung, “apa salahku, Tuhan, kenapa aku jadi korban plot twist?” Tak hanya itu, beberapa pesawat tanker pengisian bahan bakar juga ikut tumbang. Seolah mereka kompak bilang, “cuti dulu ya, bos, burnout ini.”


Hasilnya? Kemampuan pengawasan dan komando udara Amerika di kawasan langsung ambruk. Kayak sinyal WiFi pas lagi penting-pentingnya. Ditambah lagi, sekitar 10 sampai 12 personel militer AS terluka, dua di antaranya dalam kondisi yang oleh media disebut “agak kurang sehat.” Bahasa halus tingkat dewa itu. Kalau orang Indonesia mungkin bilang, “ya… ntar lagi modar tu.”

Tapi jangan kira ini sudah klimaks. Ini baru opening. Di Kuwait, Iran kembali tampil dengan penuh dedikasi artistik. Enam kapal pendaratan militer AS di Pelabuhan Al-Shuyoukh disapa dengan cara yang sangat… personal. Tiga langsung tenggelam dramatis, kayak adegan Titanic versi geopolitik. Sisanya terbakar, mengapung setengah pasrah, mungkin sambil mikir, “kok kita jadi instalasi seni ya?”

Kapal-kapal yang biasanya gagah di Teluk Persia, kini mendadak jadi reflektif. Lebih rendah hati. Lebih filosofis. Lebih dekat dengan dasar laut.

Lalu masuk babak paling “sweet”hotel-hotel mewah di Dubai dan sekitarnya. Tempat favorit tentara AS untuk rebahan setelah hari yang melelahkan. Iran tampaknya tak ingin mereka terlalu nyaman. Maka dikirimlah “paket kejutan” berupa drone kamikaze. Alarm pagi versi upgrade, bukan bunyi “kring kring”, tapi “boom boom”.

Pesannya sederhana: “Kalau hotel dipakai jadi tempat strategis, ya jangan kaget kalau dianggap bagian dari permainan.” Tegas, lugas, tanpa basa-basi ala customer service.

Yang bikin makin lucu, eh, tragis tapi lucu, adalah timing-nya. Beberapa hari sebelumnya, Komandan CENTCOM Laksamana Brad Cooper dengan percaya diri bilang serangan Iran sudah turun lebih dari 90 persen. Statistik yang indah. Optimisme yang membahana. Tapi seminggu kemudian, Iran malah bikin “festival kembang api” skala besar dengan ratusan proyektil. Akurasinya? Ya… seperti ramalan cuaca Jakarta: “cerah berawan” tapi warga sudah siap perahu karet.

Bagi para pendukung poros perlawanan, ini jelas jadi bahan bakar semangat. Narasinya sederhana. Dibilang lemah, tapi masih bisa bikin pangkalan jadi pesta, kapal jadi karang, dan hotel jadi zona waspada. Sementara Amerika? Sibuk kalkulasi. Berapa aset tersisa, berapa yang jadi kenangan, dan berapa personel yang harus pindah hotel lagi karena “sedikit gangguan teknis.”

Akhirnya, dunia kembali diingatkan. Dalam panggung geopolitik, yang sering bicara belum tentu yang paling menentukan. Kadang yang diam-diam justru datang membawa “paket spesial” lengkap, cepat, dan langsung terasa.

Begitulah, episode kali ini ditutup dengan suasana campur aduk, dramatis, absurd, sekaligus menghibur bagi penonton yang suka nonton dunia seperti nonton serial, penuh plot twist dan karakter yang tak pernah kehabisan cara untuk bikin kejutan.

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

Populer

Dicurigai Ada Peran Mossad di Balik Pengalihan Tahanan Yaqut

Senin, 23 Maret 2026 | 01:38

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

SBY Menolak Silaturahmi Lebaran Anies?

Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

TNI Tegas dalam Kasus Andrie Yunus, Beda dengan Polri

Sabtu, 21 Maret 2026 | 05:03

Polisi Diminta Profesional Tangani Kasus VCS Bupati Lima Puluh Kota

Jumat, 20 Maret 2026 | 00:50

Nasib Hendrik, SPPG Ditutup, 150 Karyawan Diberhentikan

Jumat, 27 Maret 2026 | 06:07

UPDATE

PBB Harus Bertindak Usai TNI Gugur dalam Serangan Israel

Senin, 30 Maret 2026 | 16:08

Apel Perdana Pasca Lebaran, Sekjen DPD Minta Kinerja Pegawai Dipercepat

Senin, 30 Maret 2026 | 16:06

Prajurit TNI Gugur di Lebanon, DPR: Ini Menyakitkan

Senin, 30 Maret 2026 | 16:04

Penerbangan Langsung Tiongkok-Korut Kembali Dibuka Setelah Vakum Enam Tahun

Senin, 30 Maret 2026 | 16:04

Cak Imin Kritik Cara Pandang Aparat dalam Kasus Amsal Sitepu

Senin, 30 Maret 2026 | 16:01

Pemprov DKI Segera Susun Aturan Turunan PP Tunas

Senin, 30 Maret 2026 | 15:53

Lebaran Selesai, Kemenkop Gaspol Operasionalisasi Kopdes Merah Putih

Senin, 30 Maret 2026 | 15:45

Komisi II Kulik Proker hingga Renstra KPU-Bawaslu-DKPP

Senin, 30 Maret 2026 | 15:40

Target Pengesahan RUU Hukum Acara Perdata Masih Abu-Abu

Senin, 30 Maret 2026 | 15:31

Wamenhaj RI Bahas Antisipasi Biaya dan Logistik Haji 2026 dengan Arab Saudi

Senin, 30 Maret 2026 | 15:29

Selengkapnya