Berita

Anggota DPR RI dari Fraksi Gerindra Mulyadi. (Foto: Istimewa)

Bisnis

Bobibos Jadi Alternatif Energi di Tengah Ancaman Krisis Global

MINGGU, 29 MARET 2026 | 12:00 WIB | LAPORAN: AHMAD ALFIAN

Perang di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat memicu ancaman serius terhadap krisis energi global, seiring pembatasan pergerakan kapal di Selat Hormuz yang berdampak pada terganggunya pasokan minyak dan lonjakan harga bahan bakar di berbagai negara.

Sejumlah negara termasuk Indonesia mulai memikirkan opsi untuk melakukan penghematan energi dengan cara melakukan penerapan Work From Home atau WFH. Namun demikian perlunya opsi alternatif energi di tengah ancaman krisis saat ini.

Salah satu upaya pengembangan alternatif energi di tengah ancaman krisis ialah melalui Bahan Bakar Original Buatan Indonesia, Bos atau BOBIBOS. Sebuah inovasi energi baru yang lahir dari tangan anak muda Indonesia bisa menjadi pilihan masyarakat.


BOBIBOS diklaim setara BBM RON 98 (Pertamax Turbo) yang dijual seharga Rp 13.100 -Rp13.250 per liter pada 10 Maret 2026. BOBIBOS lahir melalui riset panjang selama satu dekade. M. Ikhlas Thamrin bersama timnya menyebut bahan bakar alternatif dari Jerami ini ramah lingkungan dan diklaim mampu mengurangi emisi hingga mendekati nol.

Anggota DPR RI dari Fraksi Gerindra Mulyadi memaparkan sejumlah manfaat jika Bobibos dapat menjadi bagian roadmap transisi energi sumber bioenergi dengan bahan baku jerami di Indonesia. Pertama, kata dia, masyarakat akan terbantu dengan kehadiran BBM murah dan berkualitas.

“Masyarakat terbantu, murah dan berkualitas(biaya produksi kurang dari 5 ribu rupiah),” jelas dia, Minggu, 29 Maret 2026.

Lebih lanjut, ia mengatakan, pengembangan Bobibos sebagai BBM alternatif juga akan meningkatkan pendapatan petani. Yang terpenting, pengembangan Bobibos ini juga tidak sampai dengan melakukan alih fungsi hutan.

“Petani meningkat pendapatannya. Tidak perlu alih fungsi hutan, luas sawah Indonesia 11 juta menurut BPS, satu Hektar menghasilkan 2000 liter,” imbuh dia.

Yang lebih menguntungkan, lanjut dia, kehadiran Bobibos ini akan membantu negara untuk melakukan penghematan lantaran dapat mengurangi impor BBM.

“Anggaran negara lebih hemat karena mengurangi import dan alam lebih bersih karena sumber nabati hampir zero emisi,” ungkap dia.

Ia pun memastikan, pengembangan Bobibos sebagai alternatif energi juga akan menyerap lapangan kerja baru bagi masyarakat. Ujungnya, Indonesia akan menjadi mandarin energi.

“Indonesia menjadi mandiri energi,” tutur dia.

Sebagai Pembina BOBIBOS, Mulyadi, mengungkapkan, bahwa produknya tersebut akan dilauching pada bulan April 2026 di Timur Leste. Menurut Mulyadi, Timur Leste berkomitmen untuk memberikan regulasi, investasi dan proteksi kepada Bobibos.

“Bobibos akan launching di Timur Leste bulan April  mereka berkomitmen untuk memberikan regulasi, investasi dan proteksi. Setelah  Timur Leste kita di tunggu Vietnam Malaysia dan lanjut Norwegia,” beber dia.

Mulyadi pun mengungkapkan, produk Bobibos sendiri belum akan bisa beroperasi di Indonesia lantaran tidak ada regulasi dari negara untuk mendukung. Sementara, tegas dia, bisnis energi perlu memerlukan payung hukum karena padat modal dan karya.

“Indonesia belum ada regulasi, sementara bisnis energi perlu payung hukum, karena padat modal dan padat karya,” tandasnya. 

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

UPDATE

Jawab Tantangan Digital, Bawaslu Jadikan Kampus Laboratorium Demokrasi

Kamis, 01 Oktober 2026 | 05:54

DPD Ungkap Pola Investor ‘Berjudi’ Properti di Bali, Beli Aset Lalu Jual Lagi

Kamis, 01 Oktober 2026 | 05:24

Denny Indrayana Cs Debat Sengit dengan KPU soal Verifikasi Data Calon

Kamis, 01 Oktober 2026 | 04:50

Nakhoda KM Virgo Transport 8 Langsung Ditahan Penyidik

Kamis, 01 Oktober 2026 | 04:20

Digagas di Era Purbaya, Wacana Insentif Motor Listrik Masih Belum Jelas

Kamis, 01 Oktober 2026 | 03:59

Saksi Denny Indrayana Ungkap Tak Ada Bahasa Verifikasi Faktual Dokumen Capres-cawapres

Kamis, 01 Oktober 2026 | 03:34

Sjafrie Sematkan Tanda Kehormatan ke Tentara Jepang yang Bantu Atasi Karhutla

Kamis, 01 Oktober 2026 | 03:09

Kader PDIP Berpotensi Jabat Wapres Jika Gibran Didiskualifikasi

Kamis, 01 Oktober 2026 | 02:55

TNI Hormati Kejagung Imbas Penetapan Kolonel Budi Tersangka Korupsi MBG

Kamis, 01 Oktober 2026 | 02:42

Kemenperin Dukung Impor KRL Bekas dari Jepang, Ini Alasannya

Kamis, 01 Oktober 2026 | 02:18

Selengkapnya