Berita

Ilustrasi (RMOL via Gemini AI)

Politik

Dunia Siaga saat Energi Menipis: Akankah 'Lockdown' Kembali Lumpuhkan Asia?

JUMAT, 27 MARET 2026 | 09:31 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Asia kini berada di titik nadir. Pemerintah di seluruh kawasan mulai mengaktifkan protokol darurat demi menghadapi skenario terburuk: terhentinya aliran energi global secara masif. 

Ketegangan antara AS dan Iran yang tak kunjung mereda menjadi sumbu yang membakar ketidakpastian pasar, memaksa negara-negara importir minyak untuk bersiap menghadapi "badai sempurna".

Blomberg menulis bahwa negara-negara raksasa Asia tidak lagi sekadar waspada, mereka telah beralih ke mode tempur.


Korea Selatan misalnya, mereka membentuk satuan tugas darurat ekonomi untuk memitigasi guncangan. Kemudian Filipina telah menetapkan status darurat nasional akibat ancaman krisis pasokan yang sudah di depan mata.

Sementara itu Jepang merombak total strategi rantai pasok minyak bumi guna melindungi stabilitas ekonominya. 

Di India, Perdana Menteri Narendra Modi menyamakan skala krisis ini dengan pandemi Covid-19, memperingatkan rakyatnya untuk bersiap menghadapi tantangan yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Fokus utama dunia kini tertuju pada Selat Hormuz. Jalur sempit ini adalah urat nadi yang mengalirkan seperempat perdagangan minyak laut dunia ke Asia. Dengan Iran yang terus memperketat akses, Menteri Luar Negeri Singapura, Vivian Balakrishnan, tanpa ragu menyebut situasi ini sebagai 'Krisis Asia'.

Dampaknya terasa langsung di sektor keuangan. Chris Kent, asisten gubernur Reserve Bank of Australia, dalam pidatonya di Sydney memperingatkan risiko penyesuaian harga aset yang ekstrem.

"Semakin lama konflik berlangsung, semakin besar dampak ekonomi dan risiko penyesuaian besar harga aset," ujarnya sebagaimana dikutip dari Bloomberg, Jumat 27 Maret 2026. 

Di Filipina, bank sentral (BSP) mengambil langkah mengejutkan dengan mempertahankan suku bunga di luar jadwal rutin, seiring proyeksi inflasi yang melambung dari 3,6 persen menjadi 5,1 persen.

Krisis ini bukan sekadar angka di atas kertas; ia mulai mengubah wajah keseharian warga Asia

Di Pakistan, warga diminta menonton kriket di rumah demi hemat listrik. Di tempat lain, jam kerja dipangkas dan lampu jalan mulai dipadamkan. SPBU tutup, operasional nelayan terhenti, hingga pembatalan jadwal penerbangan.

Bangladesh bahkan terpaksa menghentikan produksi pupuk akibat defisit energi yang parah.

Demi mengamankan perut sendiri, negara-negara mulai menutup diri. China membatasi ekspor pupuk, sementara Indonesia berencana memajaki ekspor batu bara dan nikel. 

Di sisi lain, etika politik mulai tergeser oleh kebutuhan mendesak; India kini makin gencar memborong minyak Rusia meski harus membayar premi hingga 15 Dolar AS di atas harga acuan Brent.

Bahkan, peta konflik lama mulai bergeser. Filipina kini membuka pintu negosiasi eksplorasi migas dengan China di Laut China Selatan demi mencari kepastian energi.

Laporan dari Barclays plc memberikan peringatan keras. Jika krisis ini memburuk, dunia mungkin akan melihat kembalinya kebijakan era pandemi: pelonggaran fiskal besar-besaran, pencetakan uang, hingga skenario ekstrem berupa pembatasan aktivitas ekonomi (lockdown) akibat ketiadaan daya untuk menggerakkan mesin industri.

Populer

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Bonatua akan Diperiksa Bareskrim terkait Dugaan Pemalsuan Dokumen Suket Gibran

Rabu, 04 November 2026 | 23:19

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Jokowi Jangan Mimpi PSI Jadi Partai Besar

Selasa, 03 November 2026 | 02:41

Kapolri Suyudi Berpeluang dapat Serangan Balik

Jumat, 06 November 2026 | 04:27

Boikot Raffi Ahmad-Willie Salim Cederai Nilai Demokrasi

Senin, 02 November 2026 | 20:11

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

UPDATE

OASE III PTKIN 2026: UIN Sunan Kalijaga Raih Juara Umum

Sabtu, 07 November 2026 | 08:19

Wall Street Rebound, Nasdaq Masih Babak Belur

Sabtu, 07 November 2026 | 08:05

Luruskan Tudingan Rekayasa, Muhammad Munawar: Proses Etik Dasaad Dilakukan secara Kelembagaan

Sabtu, 07 November 2026 | 07:38

Siapa Stephen Miller, Orang Kepercayaan Trump yang Jadi Kepala Staf Gedung Putih?

Sabtu, 07 November 2026 | 07:28

Gejolak Politik AS dan Krisis Prancis Tekan Pasar Saham Eropa

Sabtu, 07 November 2026 | 07:10

Ahmad Doli Kurnia dan Masa Depan Golkar

Sabtu, 07 November 2026 | 06:50

Penyadapan Presiden Bukan Pengalihan Isu, Tapi Operasi Terorganisir

Sabtu, 07 November 2026 | 06:25

Palestina dan Percaturan Imperium Global

Sabtu, 07 November 2026 | 05:59

Penyadapan Prabowo Ancaman Serius terhadap Negara

Sabtu, 07 November 2026 | 05:41

Kasus Listyo Sigit Momentum Evaluasi Sistem Keamanan Nasional

Sabtu, 07 November 2026 | 05:18

Selengkapnya