Berita

Ilustrasi. (Foto: Artificial Intelligence)

Publika

Bom Kata-Kata

SENIN, 23 MARET 2026 | 05:36 WIB | OLEH: AHMADIE THAHA

DI medan perang, bom biasanya meledak dengan suara keras. Gedung runtuh, kaca pecah, dan langit dipenuhi asap hitam. Tetapi dalam dunia jurnalistik modern, ada bom lain yang jauh lebih sunyi. Bom bahasa. Bom kata-kata. Ia tidak menghancurkan bangunan. Ia menghancurkan makna.

Perang Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran belakangan ini memperlihatkan satu fenomena lama yang kembali tampil dengan wajah sangat telanjang yaitu bias sistemik media Barat dalam meliput konflik Timur Tengah.

Bagi pengamat media, ini bukan kejutan. Tetapi bahkan para peneliti lama pun terkejut melihat betapa terang-terangan teknik manipulasi bahasa dipakai dalam liputan perang kali ini.


Manipulasi dilakukan bukan sekadar dalam memilih sudut pandang. Bukan sekadar memilih narasumber. Tetapi mengutak-atik tata bahasa. Kalimat aktif diubah menjadi kalimat pasif. Pelaku dihapus. Kata-kata diperhalus. Fakta dipotong. Sehingga pembaca merasa sedang membaca laporan netral, padahal sebenarnya sedang disuguhi propaganda yang sangat elegan.

Mari mulai dari sebuah tragedi. Pada hari pertama perang, sebuah serangan udara menghantam sekolah dasar di Minab, Iran selatan. Sekitar 175 hingga 180 orang tewas, sebagian besar siswi sekolah.

Dalam hukum humaniter internasional, serangan terhadap fasilitas sipil seperti sekolah dapat dikategorikan sebagai kejahatan perang. Namun anehnya, tragedi sebesar itu hampir tidak muncul dalam liputan utama media kabel Amerika.

CNN, Fox News, MSNBC, dan berbagai jaringan lainnya menyiarkan analisis panjang tentang strategi militer, pergerakan kapal induk, dan manuver geopolitik. Tetapi kematian puluhan anak sekolah nyaris menghilang dari layar.

The New York Times memang menulis laporan singkat tragedi itu. Namun hanya sebagai berita kecil di halaman belakang, tanpa investigasi serius, tanpa tekanan publik untuk mengetahui siapa pelaku serangan.

Apakah jet Amerika? Apakah jet Israel? Tidak ada dorongan kuat untuk mencari jawabannya. Padahal media Barat biasanya sangat agresif dalam investigasi, tentu, selama pelakunya bukan sekutu mereka sendiri.

Manipulasi itu bahkan lebih jelas terlihat dalam judul berita. BBC menulis begini, “At least 153 dead after reported strike on school, Iran says.” The New York Times menulis hampir sama, “Iran says dozens killed in school strike.”

Sekilas liputan mereka tampak netral. Padahal sebenarnya sangat manipulatif. Perhatikan frasa kecil, “Iran says.”

Itulah, yang dalam jurnalistik, disebut teknik framing yang sudah klasik. Dengan menempatkan “Iran says”, pembaca langsung diarahkan untuk meragukan kebenaran informasi tersebut.

Seolah tragedi itu hanya klaim propaganda Iran. Padahal saat itu kematian ratusan korban sudah dikonfirmasi oleh berbagai lembaga internasional, termasuk badan PBB. Tetapi bahasa yang dipakai tetap membuat fakta terlihat seperti rumor.

Trik kedua lebih licik lagi. Pelaku dihapus. Tidak ada kalimat, “US bombs killed children.” Tidak ada kalimat, “Israeli airstrike destroyed a school.”

Yang ada hanya “school strike”. Sekolah itu seolah tiba-tiba diserang oleh sesuatu yang tidak diketahui. Bomnya ada. Korban ada. Pelakunya menghilang.

Dalam kajian linguistik propaganda, ini disebut agent deletion, penghilangan pelaku. Teknik klasik propaganda modern.

Bandingkan dengan berita ketika Iran menyerang Israel. Judulnya langsung berubah, “Iranian missile attack kills nine in Israeli city.”

Perhatikan perbedaannya. Pelaku disebut jelas yaitu Iran. Senjata disebut jelas yakni missile. Korban disebut jelas yaitu warga Israel. Pakai kalimat aktif. Tegas. Dramatis.

Seolah tata bahasa tiba-tiba menjadi sangat jujur. Ajaibnya, kejujuran tata bahasa itu hanya muncul ketika pelakunya adalah musuh Barat.

Selain penggunaan kalimat pasif, media Barat juga sangat kreatif menciptakan eufemisme. Salah satu istilah favorit televisi kabel Amerika adalah, “take out”.

Ketika CIA atau Mossad membunuh seorang tokoh militer Iran, kata yang dipakai bukan “kill” atau “assassinate”. Tetapi “take out”. Secara harfiah artinya “mengeluarkan”. Seperti mengambil sampah keluar rumah. Seperti membeli makanan take-out.

Dampaknya, pembunuhan manusia terdengar seperti aktivitas logistik. Bahasa berubah menjadi obat bius moral.

Istilah lain adalah “decapitate”. Secara literal berarti memenggal kepala. Tetapi dalam bahasa media televisi Amerika, kata ini dipakai untuk menggambarkan strategi pembunuhan pimpinan militer atau politik.

Dengan pilihan kata tersebut, pendengar tidak membayangkan darah atau kekerasan. Yang terbayang justru rapat manajemen perusahaan. Seperti restrukturisasi organisasi.

Dalam manajemen dikenal istilah “Leadership decapitation strategy.” Itulah yang mereka pakai di berita perang. Seolah yang terjadi hanyalah pergantian pejabat. Padahal yang terjadi adalah pembunuhan manusia.

Ada pula istilah romantis yang sering muncul, “boots on the ground”. Kedengarannya seperti kegiatan hiking, naik gunung. Padahal yang dimaksud adalah invasi militer.

Tentaranya bersenjata lengkap. Ada kendaraan lapis baja. Drone tempur. Senapan mesin seperti M134 Minigun yang mampu menembakkan hingga 6000 peluru per menit.

Tetapi semua itu disederhanakan menjadi kalimat yang terdengar santai, “boots on the ground”. Anda sudah tahu artinya yakni sepatu berjalan. Bukan tentara menyerbu.

Istilah lain yang sering muncul adalah “Iranian proxies”. Kelompok bersenjata di Lebanon, Irak, atau Yaman hampir selalu disebut sebagai “proxy Iran”.

Istilah ini memberi kesan bahwa mereka hanyalah boneka Tehran. Padahal banyak kelompok tersebut lahir dari konflik lokal di negara masing-masing. Tetapi menyederhanakan semuanya sebagai “proxy Iran” membuat narasi geopolitik lebih sederhana.

Semua kekacauan di Timur Tengah dapat disalahkan pada satu negara saja. Iran. Ini teknik propaganda klasik: simplifikasi musuh.

-000-

Bias ini juga berkaitan dengan struktur kepemilikan media. Fox News dimiliki Fox Corporation yang dikendalikan keluarga Rupert Murdoch, seorang tokoh media yang dikenal memiliki hubungan politik dekat dengan pemerintah Israel.

The New York Times dimiliki keluarga Sulzberger yang selama puluhan tahun memegang kendali editorial koran tersebut. CNN berada di bawah Warner Bros Discovery, bagian dari jaringan media besar Amerika yang memiliki hubungan kuat dengan elite politik Washington. The Atlantic dimiliki miliarder Laurene Powell Jobs, dengan jaringan kuat dalam komunitas kebijakan luar negeri Amerika.

Tidak berarti semua jurnalis di media-media ini bekerja sebagai propagandis. Banyak reporter lapangan justru bekerja dengan integritas tinggi. Namun struktur editorial, jaringan politik, dan tekanan geopolitik sering menciptakan bias sistemik dalam framing berita.

Bias itu jarang muncul secara kasar. Ia bekerja lewat judul berita. Pilihan kata. Urutan informasi. Penghilangan konteks sejarah. Propaganda yang paling efektif memang selalu yang paling halus.

Edward Said pernah menyebut pola ini sebagai bagian dari tradisi panjang Orientalisme. Dalam konstruksi media Barat, dunia Timur hampir selalu digambarkan sebagai wilayah kekacauan, emosi, dan irasionalitas. Sementara Barat tampil sebagai pembawa rasionalitas dan ketertiban.

Narasi ini sudah diproduksi selama berabad-abad. Dari masa kolonial hingga era televisi kabel. Kini ia hidup kembali dalam bentuk yang lebih modern yaitu headline, framing, dan algoritma media.

Dalam perang modern, kebenaran jarang mati oleh bom. Ia mati oleh kalimat. Dan seperti banyak tragedi dalam sejarah, pembunuhan itu dilakukan dengan sangat sopan. Tidak dengan teriakan. Tetapi dengan tata bahasa yang rapi. Dengan kalimat pasif. Dengan kata-kata yang dipilih sangat hati-hati.

Dampaknya, ketika dunia membaca berita perang, yang terdengar bukan suara bom. Melainkan suara halus dari sebuah kalimat,  “An airstrike hit a school.” Sekolah itu seolah diserang oleh udara. Bukan oleh manusia.

Dan di situlah propaganda bekerja paling sempurna. Ketika bahasa berhasil membuat pembunuhan terlihat seperti cuaca. Seperti badai yang datang dari langit. Tanpa pelaku. Tanpa tanggung jawab. Tanpa rasa bersalah.

Mungkin inilah ironi terbesar dari zaman kita. Senjata propaganda paling kuat bukan lagi tank. Bukan pesawat tempur. Bukan misil balistik. Melainkan sesuatu yang jauh lebih kecil.

Sebuah kata. Beberapa kata.

Populer

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Dadan Hindayana Kena Batunya

Rabu, 03 Juni 2026 | 01:04

Pakai Jaket Gojek Mulyono di Sidang Pledoi, Nadiem Ingin Seret Jokowi?

Rabu, 03 Juni 2026 | 05:18

UPDATE

BNI Ingatkan Nasabah, Waspada Modus Penipuan BNIdirect

Sabtu, 13 Juni 2026 | 16:06

Diduga Palsukan KTA, Sekjen dan Waketum PPP Dipolisikan

Sabtu, 13 Juni 2026 | 15:47

DPR Nilai Dukungan Publik terhadap Program MBG Tetap Kuat Meski Diterpa Kasus Korupsi

Sabtu, 13 Juni 2026 | 15:09

Seleksi Pejabat Kemenag Kini Makin Ketat, Rekam Jejak Jadi Penentu

Sabtu, 13 Juni 2026 | 15:04

Soal Protes Kenaikan BBM, DPR Ingatkan Harga di Indonesia Masih Relatif Murah

Sabtu, 13 Juni 2026 | 14:34

Program Padat Karya Jaga Daya Beli Masyarakat

Sabtu, 13 Juni 2026 | 14:29

Kejagung: Motor Listrik MBG Bukan untuk Disita, Tapi Segera Disalurkan

Sabtu, 13 Juni 2026 | 14:24

LEMIGAS dan Pertagas Resmi Berkolaborasi di Proyek Cisem II

Sabtu, 13 Juni 2026 | 13:55

Fernando Emas: Waspada Reformasi 1998 Jilid II

Sabtu, 13 Juni 2026 | 13:51

Bank Mandiri Siapkan Rp1,95 Triliun untuk Lunasi Green Bond Seri A

Sabtu, 13 Juni 2026 | 13:33

Selengkapnya