Berita

Ilustrasi KKB Papua dengan peralatan senjata. (Foto: Humas Polri)

Publika

KKB dan Ancaman Nyata terhadap Kemanusiaan di Papua

JUMAT, 20 MARET 2026 | 05:59 WIB

PERISTIWA kekerasan kembali terjadi di Papua. Pada 16 Maret 2026, di Kampung Jokbe, Distrik Bamusbama, Kabupaten Tambrauw, empat tenaga kesehatan diserang saat dalam perjalanan pulang dari Rumah Sakit Pratama Fef. Dua di antaranya meninggal dunia. Mereka adalah Yeremia Lobo dan Edwin, sosok yang sejatinya hadir untuk menyelamatkan nyawa, justru kehilangan nyawanya dalam tugas kemanusiaan.

Peristiwa ini bukan sekadar tragedi lokal. Namun, sebagai cermin dari persoalan yang lebih dalam: rapuhnya rasa aman bagi warga sipil di wilayah konflik, serta menguatnya pola kekerasan yang semakin menjauh dari klaim perjuangan politik.

Serangan terhadap tenaga kesehatan menandai sebuah garis batas yang dilampaui. Dalam norma universal, tenaga medis adalah pihak yang dilindungi, bahkan dalam situasi perang sekalipun. Ketika mereka menjadi sasaran, maka yang diserang bukan hanya individu, melainkan prinsip kemanusiaan itu sendiri.


Sayangnya, kejadian ini bukan yang pertama. Dalam beberapa tahun terakhir, kekerasan terhadap warga sipil di Papua menunjukkan pola yang berulang. Data berbagai insiden sejak 2019 memperlihatkan bahwa korban tidak hanya berasal dari aparat keamanan, tetapi juga dari kalangan masyarakat sipil -- mulai dari tukang ojek, guru, pekerja proyek, hingga tenaga kesehatan.

Rentetan peristiwa ini memperlihatkan satu kecenderungan yang mengkhawatirkan: kekerasan tidak lagi selektif, melainkan menyasar simbol-simbol pelayanan publik dan kehidupan sosial masyarakat.

Dalam perspektif yang lebih luas, kondisi ini tidak dapat dilepaskan dari dinamika separatisme yang masih berlangsung di Papua. Kelompok bersenjata yang kerap disebut sebagai KKB atau bagian dari jaringan separatis, dalam banyak kasus, menggunakan kekerasan sebagai instrumen utama. Namun yang patut dicermati adalah sasaran yang dipilih -- yakni masyarakat sipil yang justru paling rentan.

Di sinilah letak paradoksnya. Narasi yang dibangun sering kali mengatasnamakan kepentingan rakyat Papua, tetapi tindakan yang dilakukan justru merugikan rakyat Papua itu sendiri. Ketika tenaga kesehatan diserang, layanan kesehatan terhenti. Ketika guru menjadi korban, proses pendidikan terganggu. Ketika infrastruktur disabotase, akses kesejahteraan semakin tertutup.

Dengan kata lain, kekerasan tersebut tidak hanya menciptakan ketakutan, tetapi juga memperlambat pembangunan dan memperlebar kesenjangan sosial. Lebih jauh, situasi ini berdampak pada stabilitas nasional. 

Papua bukan sekadar wilayah geografis, melainkan bagian integral dari Indonesia yang memiliki arti strategis, baik dari sisi politik, ekonomi, maupun sosial. Ketidakstabilan yang terus berulang di wilayah ini berpotensi menimbulkan efek domino terhadap persepsi keamanan nasional secara keseluruhan.

Namun demikian, respons terhadap situasi ini tidak dapat disederhanakan hanya pada pendekatan keamanan. Penegakan hukum yang tegas memang diperlukan, terutama terhadap pelaku kekerasan yang secara nyata mengancam keselamatan warga sipil. Akan tetapi, pendekatan tersebut harus diimbangi dengan upaya yang lebih komprehensif.

Pembangunan yang inklusif, dialog yang berkelanjutan, serta penguatan kehadiran negara dalam bentuk pelayanan publik menjadi bagian yang tidak terpisahkan. Negara harus hadir tidak hanya sebagai penjaga keamanan, tetapi juga sebagai penjamin keadilan sosial.

Di tengah kompleksitas ini, satu hal yang tidak boleh dilupakan adalah perlindungan terhadap masyarakat sipil. Mereka adalah pihak yang paling terdampak, sekaligus yang paling berhak untuk hidup dalam rasa aman. 

Tragedi di Tambrauw menjadi pengingat bahwa tanpa jaminan keamanan, pembangunan tidak akan berjalan, dan tanpa kemanusiaan, stabilitas tidak akan pernah tercapai.

Pada akhirnya, persoalan Papua menuntut kejernihan berpikir dan keteguhan sikap. Kekerasan terhadap tenaga kesehatan bukan hanya pelanggaran hukum, tetapi juga pengingkaran terhadap nilai-nilai kemanusiaan yang menjadi fondasi kehidupan bersama.

Negara, masyarakat, dan seluruh pemangku kepentingan perlu memastikan bahwa tragedi semacam ini tidak menjadi pola yang terus berulang. Karena yang dipertaruhkan bukan hanya keamanan, melainkan juga masa depan kemanusiaan di tanah Papua.

Malkin Kosepa 
Tokoh Masyarakat Adat Suku Sebyar, Papua Barat


Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Penggunaan Gedung Kemenhut oleh PSI Berpotensi Melanggar Hukum

Minggu, 28 Juni 2026 | 00:26

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

Karier Gila-gilaan Mufli Budi Ananda: Dari Asisten Raffi Ahmad Jadi Komisaris Krakatau Posco

Senin, 29 Juni 2026 | 00:00

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

Tim Mawar dan Tambang

Minggu, 28 Juni 2026 | 04:59

UPDATE

Pelindo Dukung Konsolidasi Logistik BUMN Perkuat Integrasi Rantai Pasok Nasional

Kamis, 02 Juli 2026 | 00:16

Indonesia Harus Tegas Tolak LGBT!

Kamis, 02 Juli 2026 | 00:08

Catatan HUT ke-80 Polri

Rabu, 01 Juli 2026 | 23:40

Bobby Nasution Pulangkan Kontingen Pesparawi Sumut dari Manokwari dengan Biaya Talangan

Rabu, 01 Juli 2026 | 23:20

Ekodiplomasi di antara Geopolitik dan Kedaulatan Konservasi Indonesia

Rabu, 01 Juli 2026 | 23:01

Danantara Sedang Membersihkan Warisan Lama BUMN

Rabu, 01 Juli 2026 | 23:00

Hibah KNPI Kabupaten Bogor Menuai Polemik di Tengah Konflik Internal

Rabu, 01 Juli 2026 | 23:00

Ketua MPR Bicara Islam Toleran dan Persatuan saat Bertemu Grand Mufti Uzbekistan

Rabu, 01 Juli 2026 | 22:55

Papua Harus Dibangun Tanpa Kehilangan Manusianya

Rabu, 01 Juli 2026 | 22:45

DPR Minta Transparansi Rencana Pengadaan Rudal BrahMos

Rabu, 01 Juli 2026 | 22:44

Selengkapnya