Berita

Ilustrasi. (Foto: Dokumentasi RMOL)

Bisnis

SPPG di Sumba dan Tasikmalaya Sukses Dongkrak Ekonomi Petani

KAMIS, 19 MARET 2026 | 23:58 WIB | LAPORAN: ADITYO NUGROHO

Badan Gizi Nasional (BGN) terus berupaya melakukan pengetatan standar mutu dan evaluasi kepada Satuan Pelayanan Program Gizi (SPPG).

Di balik itu, ada beragam kisah dari SPPG yang sudah berjalan baik dan berhasil membangun ekosistem perekonomian saling menguntungkan dengan penduduk di sekitarnya. 

Sebagian SPPG pun kini bukan sekadar sarana dapur umum, namun sudah bertransformasi menjadi jantung baru bagi perekonomian desa. Dengan begitu, program MBG tidak hanya menjadi penyemangat baru bagi anak-anak di pelosok negeri untuk terus bersekolah, tetapi juga sebagai penggerak ekonomi lokal.
 

 
Kisah inspiratif pertama datang dari SPPG Kadi Wano di Wewewa Timur, Sumba Barat Daya. Di bawah kepemimpinan Edwin Putra Kadege, SPPG ini berhasil membuktikan dengan baik kiprahnya dan dinanti banyak anak-anak.

"Banyak anak yang datang ke sekolah tanpa sarapan karena keterbatasan ekonomi orang tua. Fakta di lapangan, guru-guru melapor anak-anak kini jauh lebih bersemangat sekolah meskipun jarak rumah mereka sangat jauh," ujar Edwin Putra Kadege dalam keterangan yang diterima redaksi di Jakarta, Kamis malam, 19 Maret 2026.
 
Hal ini sejalan dengan temuan Research Institute Of Socio-Economic Development (RISED) yang melakukan penelitian Dampak Awal Program MBG Terhadap Kesejahteraan Anak yang diluncurkan Februari 2026 lalu. Hasil survei RISED di tiga Kabupaten/Kota di Jawa Tengah tersebut menunjukkan anak-anak jadi lebih ceria setelah program MBG berjalan.
 
Direktur RISED, M. Fajar Rachmadi menjelaskan sekitar separuh dari 1.800 responden orang tua siswa yang mengikuti surveinya menyatakan setuju bahwa anak menjadi lebih jarang sakit dan terlihat lebih ceria. 

“50 persen orang tua siswa menganggap terlihat lebih ceria, 48 persen orang tua menilai anak mereka menjadi lebih jarang sakit setelah menerima MBG,” terang Fajar.
 
SPPG Bersinergi dengan Petani Lokal

Selain memberikan makanan bernutrisi bagi 2000 anak-anak di 15 sekolah di Sumba Barat, SPPG Kadi Wano juga membuktikan bahwa ketahanan pangan bisa dimulai dari memberdayakan petani lokal. Hampir seluruh kebutuhan sayur-mayur SPPG ditopang langsung oleh kelompok tani setempat.
 
Hal ini menciptakan ekosistem perputaran ekonomi yang nyata. Petani lokal tidak lagi bingung menjual hasil panennya karena SPPG bertindak sebagai pembeli siaga (offtaker). 

Hal yang sama juga terjadi di SPPG Cibuntu di Kecamatan Taraju, Tasikmalaya, menunjukkan sinergi yang tak kalah apik. Dengan tingkat pemenuhan pangan lokal mencapai 85 persen, SPPG ini telah menggandeng petani, pedagang pasar, hingga karang taruna desa setempat untuk bersinergi membangun ekosistem yang tangguh.
 
Menariknya, kehadiran SPPG ini memicu revolusi pertanian kecil-kecilan di Taraju. Mitra SPPG Cibuntu, Tino Rirantino, menyebutkan bahwa kehadiran program ini mendorong perubahan pola tanam petani. Jika sebelumnya buah-buahan harus didatangkan dari luar wilayah, kini para petani lokal mulai bersemangat menanam buah secara mandiri agar bisa diserap langsung oleh dapur SPPG.
 
"SPPG ini adalah jembatan strategis. Kami memfasilitasi petani agar hasil bumi mereka memiliki pasar yang jelas dan memberikan kontribusi positif bagi kesejahteraan warga desa," jelas Tino.
 
Keberhasilan SPPG tidak hanya diukur dari angka ekonomi, tetapi juga dari senyum para penerima manfaat. Melalui evaluasi berkala, pengelola SPPG dituntut untuk tetap kreatif dan disiplin. Menjamin higienitas dapur dan kualitas bahan baku tetap pada standar tertinggi adalah kunci agar SPPG bisa beroperasi dengan baik. Tidak kalah penting lagi, SPPG harus kreatif dalam mengatur porsi nutrisi sesuai usia anak, namun tetap menyesuaikan dengan selera lokal agar makanan selalu habis disantap.
 
Melibatkan guru dalam proses distribusi untuk memastikan setiap anak merasa diperhatikan secara personal juga jadi strategi yang perlu dikelola SPPG dengan pihak sekolah. Salah satu hal yang patut dicontoh dari SPPG Cibuntu, Taraju, mereka juga turut menjalankan program CSR berupa penyaluran bantuan sarana dan prasarana sekolah bagi anak yatim dan yatim piatu di lingkungan sekolah.  


Populer

Jumlah Personel TNI Tidak Masuk Akal

Sabtu, 30 Mei 2026 | 03:36

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Ketika Pencalonan Ryamizard Ryacudu sebagai Panglima TNI Dianulir SBY

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:18

UPDATE

DPR Minta Pengusaha Klub Malam Jangan Beri Ruang Peredaran Narkoba

Selasa, 09 Juni 2026 | 02:09

Telkom Bersama KIP Dukung Literasi Keterbukaan Informasi Publik

Selasa, 09 Juni 2026 | 01:45

Buku ‘Presiden Solusi’ Ulas Rekam Jejak Transformasi Prabowo

Selasa, 09 Juni 2026 | 01:20

Ratifikasi ILO C188 Jangan Ulangi Kesalahan Implementasi MLC 2006

Selasa, 09 Juni 2026 | 01:01

Miris! Purbaya Belum Siapkan Insentif buat Pedagang Tahu Tempe

Selasa, 09 Juni 2026 | 00:42

Keanu Bantah Terima Duit Penipuan Jemaah Umrah Hanania

Selasa, 09 Juni 2026 | 00:16

Ketum PPP Mardiono Dilaporkan ke Polisi, Dugaan Pemalsuan Dokumen

Selasa, 09 Juni 2026 | 00:12

iPhone Raffi Ahmad Dikirim dari AS Tanpa Disebut dalam Dokumen

Selasa, 09 Juni 2026 | 00:01

Bupati Muara Enim Dkk Langsung Digiring ke KPK Usai Terjaring OTT

Senin, 08 Juni 2026 | 23:45

Segel Gerai Tiffany & Co Dibuka Usai Sepakat Bayar Denda Rp97,49 M

Senin, 08 Juni 2026 | 23:16

Selengkapnya