Berita

Kuasa hukum Lee Kah Hin, Haris Azhar. (Foto: Dokumentasi RMOL)

Hukum

Haris Azhar Sebut Perkara Bos WKM Termasuk Sengketa Perang Dagang

SENIN, 09 MARET 2026 | 17:00 WIB | LAPORAN: JAMALUDIN AKMAL

Direktur PT Wana Kencana Mineral (WKM), Lee Kah Hin menggugat penetapan tersangka dan penahanannya oleh penyidik Polda Metro Jaya melalui permohonan praperadilan di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Selatan.

Pihak kuasa hukum menilai proses hukum terhadap kliennya sarat kejanggalan dan tidak terlepas dari konflik bisnis di sektor pertambangan nikel.

Kuasa hukum Lee Kah Hin, Haris Azhar mengatakan, salah satu persoalan utama dalam perkara ini adalah dimulainya proses penyidikan sebelum adanya putusan pengadilan yang seharusnya menjadi dasar dugaan keterangan palsu yang dituduhkan kepada kliennya.


"Yang paling penting dan lucunya adalah sudah dimulai proses penyidikan sementara putusan pengadilan belum keluar. Padahal alat bukti itu kan harusnya putusan pengadilan," kata Haris Azhar di PN Jakarta Selatan, Senin, 9 Maret 2026.

Haris menilai, perkara yang menjerat Lee Kah Hin tidak bisa dilepaskan dari konflik bisnis antara dua perusahaan yang beroperasi di kawasan tambang nikel. Ia bahkan menyebut perkara ini sebagai bagian dari "perang dagang".

"Di luar proses ini, saya ingin katakan bahwa kasus ini sebenarnya adalah sengketa 'perang dagang'. Di sinilah isu hak asasi manusia menjadi penting, karena instrumen negara digunakan untuk sikut-sikutan dagang antara dua perusahaan," jelas Haris.

Ia menyebut pelapor dalam perkara tersebut merepresentasikan kepentingan PT Position yang berkaitan dengan perusahaan tambang milik konglomerat Kiki Barki.

"Pelapor, saudara Ardianto, merepresentasikan kepentingan PT Position," terang Haris.

Menurutnya, PT Position merupakan perusahaan terbuka dengan kode saham HRUM atau Harum Energy yang dimiliki oleh keluarga Kiki Barki.

"Pemilik utamanya (beneficial owner) adalah Kiki Barki, dan anaknya bernama Steven," tutur Haris.

Haris juga mengungkap adanya dokumen yang menunjukkan upaya perdamaian di tengah konflik tersebut, namun berisi permintaan agar kliennya mengakui kepemilikan lahan yang menjadi objek sengketa.

"Di tengah proses ini, ada dokumen perdamaian yang tidak muncul di media, di mana Lee Kah Hin diminta meminta maaf dan mengakui bahwa lahan tersebut milik PT Position," jelas Haris.

Ia menilai langkah pidana terhadap Lee Kah Hin terasa kuat sebagai upaya menekan lawan bisnis melalui instrumen negara.

"Pemidanaan ini sangat terasa tujuannya untuk menundukkan lawan bisnis dengan menggunakan instrumen negara," ujar Haris.

Kuasa hukum lainnya, Rolas Sitinjak menambahkan, bahwa dasar alat bukti dalam perkara tersebut juga patut dipertanyakan karena laporan polisi diajukan sebelum adanya putusan pengadilan yang menjadi dasar tuduhan.

"Dalam perkara ini yang digunakan sebagai alat bukti adalah putusan pengadilan. Laporan ini dilakukan sebelum pengadilan mengeluarkan keputusannya," kata Rolas.

Rolas menjelaskan, laporan terhadap Lee Kah Hin diajukan saat perkara yang menjadi dasar tuduhan masih berlangsung di pengadilan.

"Perkaranya masih jalan, mereka sudah lapor di bulan November, sementara perkaranya baru diputus di bulan Desember. Coba bayangkan, apa yang digunakan oleh penyidik dalam hal ini?" jelas Rolas.

Rolas juga menyoroti cepatnya proses penanganan perkara hingga berujung pada penahanan kliennya.

"Belum tiga bulan sejak kasus ini dilaporkan sampai masuk penahanan. Ini rekor buat tim Polda Metro Jaya," pungkas Rolas.


Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

UPDATE

Menteri P2MI Didesak Terbitkan Aturan Transisi SIUKAK-SIP3MI

Selasa, 29 September 2026 | 03:59

Ombudsman Diminta Tindaklanjuti Secara Terbuka Temuan di Lapas Cibinong

Selasa, 29 September 2026 | 03:43

KPK Diminta Periksa Petinggi Summarecon Terkait Aliran Uang ke Pejabat

Selasa, 29 September 2026 | 03:23

28.620 Manajer KDKMP Terima SK, Penempatan Diserahkan ke Agrinas

Selasa, 29 September 2026 | 02:55

Dunia Butuh Penguatan Multilateralisme di Tengah Geopolitik yang Tak Pasti

Selasa, 29 September 2026 | 02:25

PHE Ajak Mahasiswa Kenali Industri Hulu Migas Lewat Upstream Youth Champs 2026

Selasa, 29 September 2026 | 01:56

Polisi Pastikan Bupati Gowa Sitti Husniah Dicekal ke Luar Negeri

Selasa, 29 September 2026 | 01:26

Menhan Sjafrie Serahkan 12 Ranpur Amfibi AAV M-35 Buatan AS ke Marinir

Selasa, 29 September 2026 | 00:47

BEI Buka Short Selling Mulai 1 Oktober, Begini Cara Kerja dan Risikonya

Selasa, 29 September 2026 | 00:20

KPK Diminta Tidak Tebang Pilih Usut Kasus Korupsi Kementerian ATR/BPN

Senin, 28 September 2026 | 23:48

Selengkapnya