Berita

Direktur Akademika Center for Public Policy Analysis, Edy Priyono (Tangkapan layar RMOL dari siaran YouTube NTV)

Bisnis

Pengamat Soroti Rencana Pemerintah Alihkan Impor BBM dari Singapura ke AS

SENIN, 09 MARET 2026 | 09:11 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Blokade Selat Hormuz oleh Iran terhadap kapal-kapal berbendera Amerika Serikat (AS) dan negara sekutunya memicu kekhawatiran besar terhadap stabilitas rantai pasok energi dunia. 

Jalur pelayaran yang menjadi salah satu urat nadi perdagangan energi global itu kini terganggu, menyebabkan lonjakan harga minyak dunia serta potensi dampak ekonomi bagi banyak negara, termasuk Indonesia.

Direktur Akademika Center for Public Policy Analysis, Edy Priyono, menilai bahwa dampak langsung terhadap pasokan energi Indonesia sebenarnya tidak terlalu besar. Menurutnya, Indonesia tidak terlalu bergantung pada Selat Hormuz untuk impor minyak mentah.


“Mayoritas minyak mentah yang kita impor berasal dari negara-negara Afrika seperti Nigeria dan Angola, dan jalurnya tidak melalui Selat Hormuz,” jelas Edy dalam program NTV Prime Dialog, dikutip redaksi di Jakarta, Senin 9 Maret 2026.

Namun ia menekankan bahwa kerentanan Indonesia justru berada pada impor bahan bakar minyak (BBM), bukan minyak mentah.

“Saat ini sekitar 54 persen BBM yang kita gunakan diimpor dari Singapura. Ini agak unik, karena minyak yang kita beli dari Singapura sebenarnya berasal dari negara-negara Timur Tengah. Jika jalur di kawasan tersebut terganggu, tentu akan berdampak pada pasokan tersebut,” ujarnya.

Karena itu, menurut Edy, meskipun dampak langsung terhadap pasokan relatif kecil, Indonesia tetap harus bersiap menghadapi konsekuensi tidak langsung berupa kenaikan harga energi dan potensi gangguan pasokan.

Lonjakan harga minyak dunia juga menjadi perhatian serius. Edy menjelaskan bahwa Indonesia tidak memiliki kendali terhadap harga minyak karena sepenuhnya mengikuti harga internasional.

“Dalam APBN, asumsi harga minyak berada di 70 dolar per barel. Jika harga di atas itu, maka beban APBN meningkat,” katanya.

Ia mengungkapkan bahwa setiap kenaikan harga minyak dunia sebesar 1 dolar per barel berpotensi menambah beban anggaran negara hingga sekitar Rp6 triliun.

“Jadi tinggal dikalikan saja. Jika harga terus naik, tentu akan menjadi tekanan bagi anggaran negara,” tambahnya.

Di tengah situasi ini, Edy melihat adanya momentum baru bagi Indonesia untuk memperkuat kerja sama energi dengan Amerika Serikat. Menurutnya, perjanjian perdagangan yang baru saja ditandatangani antara kedua negara membuka peluang diversifikasi sumber energi.

“Indonesia baru saja menandatangani perjanjian perdagangan dengan Amerika Serikat, dan salah satu komponen impor dari Amerika adalah energi, baik minyak, BBM, maupun LPG,” jelasnya.

Ia juga menyoroti rencana pemerintah untuk mengalihkan sebagian impor BBM dari Singapura ke Amerika Serikat.

“Jika itu benar dilakukan, maka ketergantungan kita terhadap pasokan yang berasal dari Timur Tengah bisa berkurang,” kata Edy.

Untuk komoditas LPG sendiri, ketergantungan pada Amerika Serikat sebenarnya sudah cukup besar. Edy menyebut sekitar 57 persen impor LPG Indonesia saat ini memang berasal dari negara tersebut.

Meski demikian, ia mengingatkan bahwa harga minyak tetap mengikuti mekanisme pasar internasional sehingga ruang negosiasi harga relatif terbatas.

“Amerika juga tidak bisa menentukan harga minyak secara sepihak karena tetap mengikuti harga internasional,” ujarnya.

Namun, menurut Edy, ada keuntungan lain dari kerja sama energi dengan Amerika Serikat, yakni tarif impor yang lebih rendah.

“Produk energi dari Amerika masuk ke Indonesia dengan tarif nol persen, sehingga harganya bisa lebih kompetitif dibanding jika terkena tarif impor,” jelasnya.

Meski melihat peluang dalam kerja sama tersebut, Edy menilai pemerintah tetap perlu mencermati kembali sejumlah poin dalam perjanjian perdagangan yang ada.

“Secara keseluruhan memang ada beberapa poin dalam perjanjian perdagangan yang mungkin perlu dinegosiasikan ulang,” pungkasnya.

Populer

PIK-2 dan Ancaman Kedaulatan Negara

Rabu, 19 Agustus 2026 | 04:42

Satlap Tri Cakti Diduga Hadang Polisi di Belitung, IPW Desak Ada Tindak lanjut

Senin, 17 Agustus 2026 | 14:30

KPK OTT Rektor Unsoed Prof Akhmad Sodiq

Jumat, 21 Agustus 2026 | 08:01

Rismon Sianipar Bisa Menangkan Sayembara Rp100 Juta dari Denny Indrayana

Rabu, 12 Agustus 2026 | 05:19

KPK Temukan Dokumen Pengurusan Perkara Lain di Rumah Ayah Iptu Setya Budi Dias

Rabu, 12 Agustus 2026 | 22:18

TNI Kuasai Wilayah OPM di Intan Jaya dan Sita Sejumlah Senjata

Minggu, 16 Agustus 2026 | 01:24

Boyamin Sebut Ada Dua Brankas Kosong di Rumah Febrie, Ini Respons Kejagung

Rabu, 12 Agustus 2026 | 11:14

UPDATE

DPR Khawatir Pekerjaan Debt Collector jadi Ilegal, Ini Sebabnya

Minggu, 23 Agustus 2026 | 01:43

Keripik Pisang Lokal Besutan Rumah BUMN BRI Tembus Malaysia dan Hong Kong

Minggu, 23 Agustus 2026 | 01:19

Menlu China Mesra dengan Luhut, Sejumlah Tawaran Kerja Sama Mengalir

Minggu, 23 Agustus 2026 | 00:54

Program Gerakan “Warga Peduli Warga” Jaringan Aktivis 98 Berlanjut di Lampung

Minggu, 23 Agustus 2026 | 00:28

Sejumlah Elemen Mahasiswa Ogah Ikut Demo AMPB 27 Agustus, Ini Sebabnya

Minggu, 23 Agustus 2026 | 00:10

Ribuan Warga Meriahkan Panggung Rakyat Merdeka PANsar Murah di Kendal

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 23:50

BRI Raih Tiga Penghargaan Bergengsi Alpha Southeast Asia 2026

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 23:28

DPR Tekankan Penguatan Pengendalian Lingkungan untuk Hentikan Karhutla

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 22:58

YLBHI Dorong Bareskrim Usut Perwira Diduga Terlibat Penipuan Investasi Tambang Emas

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 22:14

Pikat Pembeli dari Singapura hingga Belanda, Produk UMKM Asal Sumut Berdaya Bersama BRI

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 21:55

Selengkapnya