Berita

Pengamat ekonomi Fakhrul Fulvian (Tangkapan layar RMOL dari siaran YouTube Metro TV)

Bisnis

Ketegangan Timur Tengah Bayangi Pasar Saham, Ini Sektor yang Paling Terdampak

SABTU, 07 MARET 2026 | 07:49 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Ketegangan geopolitik di Timur Tengah menjadi sorotan pasar global setelah meningkatnya konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Salah satu risiko terbesar yang kini diperhatikan pelaku pasar adalah potensi terganggunya jalur distribusi energi dunia, khususnya di Selat Hormuz.

Pengamat ekonomi Fakhrul Fulvian menilai, eskalasi konflik tersebut berpotensi menimbulkan gangguan besar terhadap pasokan minyak global. Sekitar 20 persen suplai minyak dunia diketahui melewati Selat Hormuz, sehingga setiap gangguan di jalur tersebut dapat memicu gejolak harga energi dalam waktu singkat.

Menurutnya, dalam jangka pendek pasar kemungkinan akan merespons secara cepat melalui kenaikan harga minyak.


“Dalam satu minggu ke depan harga minyak cenderung naik karena konsumen global akan berusaha mengamankan pasokan untuk beberapa bulan ke depan,” ujarnya dalam tayangan di stasiun televisi, dikutip redaksi di Jakarta, Sabtu 7 Maret 2025.

Ia menjelaskan bahwa reaksi awal pasar biasanya bersifat spontan atau yang dikenal sebagai knee-jerk reaction. Dalam periode satu minggu hingga satu bulan berikutnya, negara-negara dan pelaku industri akan mulai melakukan penyesuaian terhadap rantai pasok serta kebijakan domestik.

Bagi Indonesia, dampak langsung mungkin tidak serta-merta terasa. Namun tekanan terhadap inflasi dinilai hampir pasti terjadi.

Fakhrul mengingatkan bahwa Indonesia merupakan negara pengimpor bersih minyak (net oil importer). Setiap kenaikan harga minyak sebesar 10 Dolar AS berpotensi menekan neraca perdagangan sekitar 250 juta Dolar AS per tahun.

Karena itu, pemerintah dinilai perlu memperkuat ketahanan energi sekaligus ketahanan ekonomi nasional.

“Pemerintah perlu memastikan kecukupan suplai minyak untuk enam hingga dua belas bulan ke depan serta melakukan diversifikasi sumber energi dan negara pemasok,” jelasnya.

Dari sisi pasar saham, Fakhrul menilai tidak semua sektor akan terdampak dengan cara yang sama. Beberapa sektor justru berpotensi tertekan akibat kenaikan harga energi dan biaya produksi.

Ia menyebut sektor yang bergantung pada impor sebagai yang paling rentan terhadap tekanan pasar.

“Sektor yang terkait importir, pupuk, perusahaan dengan input berbasis minyak, serta otomotif berpotensi mengalami tekanan,” kata Fakhrul.

Industri pupuk dan bahan kimia, misalnya, sangat sensitif terhadap pergerakan harga energi karena minyak dan gas merupakan bahan baku utama dalam proses produksinya. Kenaikan harga energi otomatis meningkatkan biaya produksi dan menekan margin perusahaan.

Selain itu, sektor otomotif juga dapat terdampak karena biaya logistik dan bahan baku yang lebih mahal.

Di sisi lain, tidak semua sektor akan mengalami tekanan. Fakhrul menilai perusahaan yang bergerak di sektor komoditas justru bisa mendapat sentimen positif dari kondisi tersebut.

Harga komoditas yang cenderung tinggi berpotensi menopang kinerja perusahaan berbasis sumber daya alam, termasuk sektor minyak dan gas.

“Indonesia masih memiliki leverage dari kenaikan harga komoditas tersebut,” ujarnya.

Karena itu, meskipun Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpotensi mengalami penurunan dalam jangka pendek, ia menilai kondisi tersebut belum tentu mencerminkan memburuknya fundamental ekonomi nasional.

“Jika penurunannya signifikan, justru bisa menjadi peluang beli bagi investor lokal,” tambahnya.

Dalam situasi geopolitik yang semakin kompleks, Fakhrul menilai investor global akan semakin berhati-hati dalam menghitung risiko investasi.

Konflik mungkin tidak berlangsung sangat lama, namun pasar kemungkinan akan mulai menganggap risiko geopolitik sebagai faktor yang lebih permanen dalam perhitungan ekonomi global.

“Investor akan menghitung ulang prospek pertumbuhan ke depan,” katanya.

Karena itu, menurutnya, respons kebijakan pemerintah harus tetap tenang namun sigap. Langkah penting yang perlu dilakukan antara lain memperkuat cadangan energi, diversifikasi pasokan, serta menyediakan bantalan fiskal untuk menghadapi potensi lonjakan harga minyak.

“Indonesia tidak boleh panik, tetapi juga tidak boleh abai. Energi kini menjadi variabel strategis dalam pengambilan keputusan makroekonomi,” pungkasnya.

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

Muhadjir Terbitkan Surat Pengalihan Kuota Haji Usai Konsultasi ke Jokowi

Selasa, 01 September 2026 | 15:17

MAKI Puji Kerja Senyap Jampidsus Kuntadi Fokus Rampas Aset

Selasa, 01 September 2026 | 01:59

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

Usai Dimaafkan Jusuf Hamka, KAKI Dorong Polri Buka Kembali Kasus NCD Unibank

Sabtu, 05 September 2026 | 19:53

KPK Sita Rumah Mewah Milik Vinna Ledy Anggraheni di Jaksel

Selasa, 01 September 2026 | 11:03

UPDATE

Tim Hukum Febrie Curiga Ada Nama Pejabat Kejagung Dicatut terkait Duit Rp40 Miliar

Rabu, 09 September 2026 | 04:16

Merawat Aceh, Memprioritaskan Kepentingan Rakyat

Rabu, 09 September 2026 | 04:04

Polda Banten-Basarnas Maksimalkan Pencarian Jurnalis Hilang Kontak di Selat Sunda

Rabu, 09 September 2026 | 03:32

Bahaya Abu Vulkanik bagi Penerbangan: Ancaman Tak Kasat Mata yang Mematikan

Rabu, 09 September 2026 | 03:22

PDIP Tafsirkan Pidato AHY: Bisa Jadi Pesan untuk Presiden Menuju 2029

Rabu, 09 September 2026 | 03:09

Wow! Hadiah Sayembara Ijazah Gibran Tembus Rp10,25 Miliar

Rabu, 09 September 2026 | 02:52

Sekolah Tatap Muka di Lampung Batal Gegara Anak Krakatau Kembali Erupsi

Rabu, 09 September 2026 | 02:14

Survei Digdaya: Kepuasan Publik terhadap Prabowo Capai 56,3 Persen

Rabu, 09 September 2026 | 02:01

Pencarian 8 Orang Hilang Kontak di Selat Sunda Terkendala Arus Kencang

Rabu, 09 September 2026 | 01:34

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Selengkapnya