Berita

Mantan penambang ilegal di Pongkor beralih profesi. (Foto: Dok. Antam)

Nusantara

Cerita Tobat Mantan Penambang Ilegal Pongkor

RABU, 04 MARET 2026 | 19:59 WIB | LAPORAN: DIKI TRIANTO

Praktik Penambangan Tanpa Izin (Peti) menjadi persoalan klasik di berbagai wilayah tambang. Aktivitas ilegal tersebut tidak hanya menimbulkan kerusakan lingkungan dan gesekan sosial, tetapi juga membahayakan keselamatan pelakunya.

Di wilayah Pongkor, Kabupaten Bogor, isu Peti sudah bergulir sejak lama. Namun dalam beberapa tahun terakhir, muncul kesadaran baru di tengah masyarakat. Sejumlah mantan penambang ilegal mulai mencari jalan hidup yang lebih aman dan berkelanjutan.

Salah satu potret perubahan itu terlihat di Kampung Cisangku, Desa Malasari, Kecamatan Nanggung. Kawasan ini berada dalam bentang Taman Nasional Gunung Halimun Salak, wilayah konservasi yang sebelumnya kerap menghadapi tekanan sosial dan ekonomi.


Pada masa lalu, sebagian warga menggantungkan hidup pada aktivitas yang beririsan dengan penebangan liar dan tambang ilegal. Hutan menjadi ruang eksploitasi, sementara pilihan ekonomi masyarakat terbatas.

“Dulu isu penambang liar seperti hal biasa. Banyak yang melihatnya sebagai pilihan hidup. Tapi semakin dijalani, saya merasa itu bukan sesuatu yang baik untuk jangka panjang. Risikonya besar, hasilnya tidak pasti, dan hidup penuh kekhawatiran,” ujar Hendrik, mantan penambang ilegal dikutip redaksi, Rabu, 4 Maret 2026. 

Bersama PT Aneka Tambang Tbk Unit Bisnis Pertambangan Emas (UBPE) Pongkor, Hendrik dan masyarakat setempat memilih menjadi bagian dari upaya membangun kembali kampungnya melalui pendekatan konservasi program Pepeling Cisangku.

Bersama warga, ia menguatkan Kelompok Model Kampung Konservasi Cisangku. Warga diperkenalkan pada alternatif mata pencaharian berbasis konservasi dan pemulihan lingkungan.

Kegiatan yang dikembangkan antara lain persemaian bibit tanaman endemik, produksi pupuk bokashi, hingga inovasi pupuk hayati mikoriza.

“Sekarang kami belajar melihat alam dengan cara berbeda. Dulu orang berpikir bagaimana mengambil dari hutan. Sekarang kami merawat dan menanam. Ada kebanggaan ketika melihat pohon tumbuh di tempat yang dulu rusak,” lanjut Hendrik.

Perubahan serupa terjadi di Desa Cisarua. Sudin, yang akrab disapa Kang Gemer, pernah menjalani kehidupan sebagai gurandil dalam waktu yang panjang.

“Dulu saya berpikir yang penting bisa bekerja dan ada penghasilan. Tapi lama-lama terasa, pekerjaan itu penuh risiko. Bukan cuma keselamatan, tapi juga kesehatan dan keluarga,” ujarnya.

Melalui Program Sistem Pengembangan Usaha dan Perlindungan Lingkungan Cisarua (Sundung Cisarua) yang juga digagas UBPE Pongkor, Kang Gemer beralih ke sektor peternakan. Ia menekuni budidaya domba setelah mengikuti pelatihan dan pendampingan.

“Beternak domba memberi rasa yang berbeda. Ada kepastian yang dulu tidak saya rasakan. Kami bisa merencanakan dan mengembangkan usaha. Hidup terasa lebih tenang,” katanya.

Di sisi lain, Sekretaris Perusahaan PT Aneka Tambang Tbk, Wisnu Danandi Haryanto mengatakan, pengelolaan lingkungan di sekitar wilayah operasi merupakan bagian integral dari bisnis perusahaan.

“Melalui berbagai inovasi sosial UBPE Pongkor, kami bersama masyarakat, termasuk mantan PETI, berjalan bersama membangun Pongkor menjadi wilayah yang mandiri dan hijau,” ujar Wisnu.

Populer

Pensiunan ASN Bakal Terima Uang Pensiun Langsung dari Kas Negara pada 2027

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:07

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

Pengusaha Keberatan Masa Kerja Karyawan Kontrak Dipangkas jadi Empat Tahun

Kamis, 08 Oktober 2026 | 18:20

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

UPDATE

Perlindungan Orang Utan Kalimantan dari Karhutla Terus Diperkuat

Rabu, 14 Oktober 2026 | 03:43

Benarkah Hari Kliwon Lebih Rawan Kecelakaan?

Rabu, 14 Oktober 2026 | 03:17

Lindungi Kehidupan Nelayan, KKP Segel Tambak Udang Tak Berizin di Karimunjawa

Rabu, 14 Oktober 2026 | 02:46

Pasis Dikreg Seskoad Peroleh Doktrin Kepemimpinan dari Wapang TNI

Rabu, 14 Oktober 2026 | 02:20

Dampak MBG Bikin Konsumsi Protein Anak Naik hingga Hampir 80 Persen

Rabu, 14 Oktober 2026 | 01:57

Ekonomi Biru Dijaga, Nelayan Disejahterakan

Rabu, 14 Oktober 2026 | 01:40

Peradi Profesional Dukung Langkah Presiden Bersih-bersih Mafia Tambang

Rabu, 14 Oktober 2026 | 01:16

DPR Minta PLN Percepat Pemulihan Listrik di Batam-Bintan

Rabu, 14 Oktober 2026 | 00:59

Staf Ahli Kapolri Pastikan Penanganan Maksimal Kabut Asap di Kalteng

Rabu, 14 Oktober 2026 | 00:43

Kepala BRAN dan Menteri PKP Bidik Percepatan Lahan untuk Rumah Rakyat

Rabu, 14 Oktober 2026 | 00:20

Selengkapnya