Berita

Ilustrasi. (Foto: Artificial Intelligence)

Publika

Kalkulasi Prabowo

RABU, 04 MARET 2026 | 12:03 WIB | OLEH: AHMADIE THAHA

DI negeri yang mataharinya terbit dari timur dan isu global terbit dari mana saja, Presiden Prabowo Subianto berdiri dengan satu radar yang tak pernah dimatikan yakni radar perang.

Maklum, latar belakangnya bukan sekadar alumni kelas diplomasi, melainkan mantan panglima lapangan, eks Menteri Pertahanan, dan pernah lama memimpin Kopassus. Orang yang pernah mencium bau mesiu tentu lebih peka pada aroma barut yang samar terbawa angin geopolitik.

Sejak awal menjabat, ia seperti satpam dunia yang tak digaji PBB. April 2025, bahkan sebelum Amerika Serikat menggempur fasilitas pengayaan uranium Iran, ia sudah melempar peringatan tentang kemungkinan Perang Dunia III.


Waktu itu, sebagian orang tersenyum kecut, mengira ini trailer film yang terlalu dramatis.

Februari 2026 di Sentul, ia ulangi lagi. Pidatonya tegas tentang nuclear winter, partikel radioaktif lintas batas, ikan-ikan terkontaminasi, matahari redup puluhan tahun. Dunia digambarkan seperti kulkas raksasa tanpa listrik, dan kita semua ada di dalamnya.

Filosofi luar negeri yang diungkapnya terdengar puitis sekaligus realistis yaitu “Seribu kawan terlalu sedikit, satu lawan terlalu banyak.”

Kalimat itu seperti nasihat orang tua kepada anak kos yang baru merantau bahwa “Jangan cari musuh, tetapi jangan pula terlalu polos percaya semua orang.”

Namun di tengah narasi bebas aktif dan nonblok itu, publik membaca gerak lain. Bukan satu, melainkan beberapa langkah yang memunculkan polemik.

Kedekatan dengan Amerika Serikat dan Israel, keikutsertaan dalam Board of Peace, penandatanganan perjanjian dagang resiprokal yang dinilai sebagian kalangan lebih menguntungkan pihak mitra, semuanya menjadi bahan tafsir.

Di sisi lain, saat Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, wafat akibat serangan militer, Prabowo memilih hening. Ia tak menyampaikan ucapan belasungkawa secara terbuka. Padahal, dalam tradisi diplomasi, gestur kemanusiaan kerap dipisahkan dari sikap politik.

Maka pertanyaan publik muncul, mengapa kepada Washington dan Tel Aviv sikapnya terasa lebih hangat, sementara kepada Teheran yang sama-sama negeri Muslim terasa lebih dingin?

Prabowo sendiri berkali-kali menegaskan bahwa jika kita memilih nonblok, jangan berharap ada yang menolong ketika ancaman datang. Logikanya jelas. Dunia nyata bukan seminar etika, melainkan arena kekuatan.

Para pendiri bangsa pun paham, sejak era blok komunis dan kapitalis, dunia terkotak-kotak. Indonesia belajar berdiri di antara gajah-gajah raksasa yang bila berkelahi, rumputlah yang remuk.

Namun sejarah juga menunjukkan, tak ada kekuatan yang permanen. Gajah pun bisa terpeleset. Rusia pernah pecah. Amerika Serikat yang lama dianggap polisi dunia, dalam eskalasi mutakhir dengan Iran tampak menghadapi tekanan yang meremukkan.

Israel yang selama ini diyakini superior secara teknologi militer pun dalam sejumlah eskalasi terakhir kewalahan menghadapi serangan balasan yang signifikan dan terukur dari Iran. Kekuatan militer Israel dilucuti tanpa ampun.

-000-

Marsekal Agung Sasongkojati, alumni US Air War College dan penerbang pertama F-16 Indonesia, dalam analisanya menilai dominasi eskalasi yang selama ini menjadi keunggulan Amerika Serikat dan Israel tidak lagi sepenuhnya utuh.

Serangan balasan Iran dengan kombinasi drone dan rudal jarak jauh berkecepatan tinggi memaksa Washington dan Tel Aviv masuk dalam pola perang atrisi yang menguras sumber daya dan logistik. Serangan Iran tak terbendung.

Di Israel, pangkalan udara strategis seperti Nevatim dan Tel Nof dilaporkan mengalami kerusakan signifikan pada infrastruktur. Landasan pacu dan fasilitas pendukung hancur, sehingga operasional pesawat tempur generasi lanjut, termasuk F-35 dan F-15, menghadapi keterbatasan.

Dalam analisis Agung, superioritas udara tak berarti banyak ketika runway retak dan depot bahan bakar terbakar. Pesawat secanggih apa pun menjadi kurang efektif jika basis operasionalnya terganggu. Kekuatan udara Israel kini dirujak Iran.

Sistem pertahanan berlapis Israel, dari Iron Dome, David’s Sling, hingga Arrow, menghadapi tekanan berat akibat taktik saturasi. Gelombang drone murah Iran dipadukan dengan rudal presisi menciptakan radar dan baterai pertahanan kewalahan.

Di kawasan Teluk, semua pangkalan utama AS dilaporkan rata dengan tanah. Terjadi pula gangguan pada sistem radar dan identifikasi kawan-lawan (IFF). Insiden jatuhnya beberapa pesawat F-15 akibat tembakan pertahanan sendiri menampar muka AS.

Dari sisi logistik, konsumsi amunisi presisi jarak jauh dalam jumlah besar menciptakan tekanan pada stok strategis AS. Perang berkepanjangan berisiko membuka celah kesiapan di kawasan lain.

Di laut, gugus tugas kapal-kapal induk AS berada dalam posisi yang semakin kompleks. Serangan rudal-rudal jarak jauh dan drone Iran membuat manuver AS di sekitar Selat Hormuz terbatasi.

Kesimpulan Agung adalah konflik ini mengikis aura tak tersentuh kekuatan Barat di kawasan. Kerusakan pangkalan, tekanan sistem pertahanan, insiden friendly fire, serta beban logistik menunjukkan supremasi militer mereka tidak lagi sehebat klaim teknologi mereka.

-000-

Melihat kenyataan tersebut, pertanyaan nurani bangsa muncul lirih namun tajam, apakah kalkulasi Prabowo masih berbasis peta lama, sementara medan telah berubah?

Teori hubungan internasional mengenal bandwagoning dan balancing. Mendekat pada yang kuat untuk ikut selamat, atau menyeimbangkan agar tak ada yang terlalu dominan.

Pilihan mana yang sedang ditempuh Prabowo? Belum sepenuhnya terang. Mungkin condong ke Amerika Serikat. Atau mungkin ia mencoba memainkan keduanya sekaligus, seperti pemain catur yang memegang dua warna bidak dalam satu papan.

Tentang nuclear winter, para ilmuwan memang telah mensimulasikan bahwa perang nuklir skala besar dapat memicu pendinginan global drastis dan krisis pangan lintas generasi. Itu bukan dongeng, melainkan hasil model iklim dan pengalaman sejarah.

Namun dalam politik, ketakutan bisa menjadi kompas atau justru belenggu.

Jadi, apakah Prbowo salah kalkulasi? Atau justru sedang membaca realitas keras yang tak populer?

Karena itulah, ancaman Perang Dunia III bukan sekadar soal berpihak ke siapa. Ia adalah cermin bagi Indonesia bahwa sejauh mana kita sungguh-sungguh siap berdiri di atas kaki sendiri.

Mandiri bukan hanya dalam pidato, tetapi dalam industri pertahanan, ketahanan pangan, energi, dan kohesi nasional. Iran sudah membuktikan soal ini.

Jika matahari benar-benar redup, yang menyelamatkan kita bukan tepuk tangan blok mana pun, melainkan daya tahan kita sendiri.

Karena dalam sejarah panjang umat manusia, yang bertahan bukan yang paling keras berteriak tentang perang, melainkan yang paling tekun menyiapkan damai.

Populer

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Langsung Terbang ke Jakarta, Maukah Chatib Basri Ganti Purbaya?

Jumat, 05 Juni 2026 | 06:58

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Ironis! Terima Penghargaan Negara tapi Terjerat Korupsi

Jumat, 05 Juni 2026 | 01:00

Kasus MBG Melebar, Tersangka Sebut 30 Tokoh Besar Terlibat

Sabtu, 06 Juni 2026 | 23:39

UPDATE

PDIP Duga Ada Pengerahan Komcad Saat Pengamanan Demo Mahasiswa, Ini Penjelasannya

Senin, 15 Juni 2026 | 08:19

Bursa Asia Hijau Sambut Kesepakatan Damai AS-Iran

Senin, 15 Juni 2026 | 08:12

Harga Minyak Dunia Rontok Usai Trump Umumkan Kesepakatan Iran

Senin, 15 Juni 2026 | 07:54

Harga Logam Mulia Melonjak, Emas Mendekati Rekor Baru

Senin, 15 Juni 2026 | 07:42

AS dan Iran Bakal Teken Perjanjian Damai di Swiss Jumat Ini

Senin, 15 Juni 2026 | 07:26

Pemerintah Dorong Susu Hadir Setiap Hari dalam Program MBG

Senin, 15 Juni 2026 | 07:15

Trump Klaim Amankan Kesepakatan Damai Terbesar dengan Iran

Senin, 15 Juni 2026 | 07:00

Pengelolaan Blok Andaman Diusulkan Pakai Skema Hybrid

Senin, 15 Juni 2026 | 06:50

Dokter Tifa Dukung Prabowo Pimpin RI Tanpa Gibran

Senin, 15 Juni 2026 | 06:27

Suap di Bea Cukai Sangat Mengerikan, Bukti Negeri Ini Semakin Busuk oleh Koruptor

Senin, 15 Juni 2026 | 06:23

Selengkapnya