Berita

Serangan Israel dibantu Amerika Serikat ke Iran, Sabtu 28 Februari 2026. (Foto: Antara)

Politik

Operasi Militer AS untuk Lumpuhkan Sistem Rudal Balistik Iran

MINGGU, 01 MARET 2026 | 04:24 WIB | LAPORAN: WIDODO BOGIARTO

Secara militer, tujuan serangan yang dilancarkan Israel dan Amerika Serikat ke wilayah Iran adalah melumpuhkan sistem rudal balistik, jaringan komando dan kontrol, serta infrastruktur militer yang dinilai mengancam Israel dan pangkalan AS di kawasan Teluk. 

Hal ini dikatakan Pengamat politik dan militer dari Universitas Nasional (Unas) Selamat Ginting dalam keterangannya kepada RMOL, Minggu 1 Maret 2026.

"Target yang lebih sensitif adalah program nuklir Iran-- isu yang selama ini menjadi sumber ketegangan Utama," kata Ginting.


Namun secara geopolitik, menurut Ginting, serangan tersebut lebih dari sekadar “pencegahan”. 

"Ini adalah bentuk pemaksaan strategis (strategic coercion). Memaksa Iran menerima batasan yang sebelumnya gagal dicapai lewat diplomasi," kata Ginting.

Meski begitu, lanjut Ginting, sejarah menunjukkan bahwa tekanan militer eksternal sering kali memperkuat konsolidasi internal rezim, bukan melemahkannya. 

Serangan terhadap wilayah metropolitan seperti Teheran berisiko membangkitkan nasionalisme defensif di dalam negeri Iran.

Risiko terbesar bukanlah serangan pertama, tetapi respons berikutnya. Iran memiliki spektrum balasan yang luas: rudal balistik, drone jarak jauh, serangan siber, hingga aktivasi jaringan proksi di Lebanon, Irak, Suriah, dan Yaman. 

Jika kelompok seperti Hezbollah ikut terlibat, Israel akan menghadapi perang dua front. Jika pangkalan AS di Teluk diserang, Washington akan terdorong untuk memperluas operasi.

"Konflik dapat berubah dari operasi terbatas menjadi perang regional yang melibatkan Levant dan Teluk Persia secara simultan," kata Ginting.

Di sinilah kalkulasi militer menjadi sangat kompleks. Serangan cepat mungkin berhasil secara taktis, tetapi tanpa strategi keluar (exit strategy) yang jelas, operasi bisa berubah menjadi konflik berkepanjangan.

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Duit Rp100 Miliar Hasil OTT KPK Dikabarkan Milik Nusron Wahid

Selasa, 15 September 2026 | 13:16

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Pendatang Baru, Partai Gema Bangsa Siap Verifikasi Pemilu 2029

Minggu, 13 September 2026 | 17:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

Desakan Pecat Nusron Mencuat, Ahmad Doli Memungkinkan jadi Pengganti

Minggu, 20 September 2026 | 05:26

UPDATE

Wall Street Variatif, Nasdaq Naik Ditopang Saham AI

Rabu, 23 September 2026 | 08:21

Kejagung Garap Lima Saksi di Kasus Korupsi MBG, Ada Pegawai SPPG Karawang

Rabu, 23 September 2026 | 08:06

Emas Gagal Bersinar, Tertekan Ekspektasi Suku Bunga Ketat dan Penguatan Dolar AS

Rabu, 23 September 2026 | 07:41

Dolar AS Berfluktuasi Ditopang Ketidakpastian Minyak

Rabu, 23 September 2026 | 07:23

Bursa Eropa Beragam: Dorongan Sektor Teknologi Imbangi Tekanan Sektor Keuangan

Rabu, 23 September 2026 | 07:07

Ruang Amal Indonesia-IFG Life-Kemenko PM Hadirkan Program bagi Ojol Tunarungu

Rabu, 23 September 2026 | 06:40

Sering Kebakaran, Gedung Wajib Miliki Alat Deteksi Dini

Rabu, 23 September 2026 | 06:28

MUI Minta Pelaku Usaha Bersiap Hadapi Wajib Halal 18 Oktober

Rabu, 23 September 2026 | 06:18

Kursi Gibran Goyang

Rabu, 23 September 2026 | 06:03

Dua Jemaah Haji Indonesia Masih Dirawat di RS Arab Saudi

Rabu, 23 September 2026 | 05:45

Selengkapnya