Berita

Ilustrasi. (Foto: Istimewa)

Publika

Fatimah az-Zahra, Cahaya yang Tak Pernah Padam

JUMAT, 27 FEBRUARI 2026 | 05:16 WIB

FATIMAH AZ-ZAHRA, anak kandung Nabi Muhammad SAW seperti cahaya tak pernah padam. Inspirasi bagi perempuan Muslim di seluruh dunia. 

Dalam panggung besar sejarah Islam, ketika nama-nama lelaki sering diperebutkan untuk legitimasi kuasa, ada satu perempuan yang justru menjadi poros moralnya, Fatimah az-Zahra. Putri bungsu Nabi Muhammad SAW dari Khadijah binti Khuwailid. 

Fatimah bukan sekadar anak kesayangan Rasul, tetapi simpul peradaban, istri dari Ali bin Abi Thalib, ibu dari Hasan ibn Ali dan Husayn ibn Ali, serta mata air garis Ahlul Bait. 


Gelarnya berderet: az-Zahra (yang bercahaya), al-Batul (yang suci), Ummu Abiha (ibu bagi ayahnya), ash-Shiddiqah, al-Muhaddatsah, Sayyidah Nisa’ al-‘Alamin, hingga Sayyidah Nisa’ al-Jannah. Kalau hari ini, mungkin ia akan disebut “perempuan paling berpengaruh abad ke-7” tanpa perlu tim pencitraan.

Riwayatnya tercatat dalam al-Tabaqat al-Kubra karya Ibn Sa'd, Tarikh al-Tabari karya al-Tabari, hadis sahih Bukhari-Muslim, juga dalam Bihar al-Anwar dari al-Majlisi. 

Akademisi modern seperti Wilferd Madelung membedah fase suksesi dalam The Succession to Muhammad. 

Perbedaan Sunni-Syiah memang ada, soal tanggal lahir (605 M menurut mayoritas Sunni; 615 M menurut banyak riwayat Syiah), juga soal peristiwa pascawafat Nabi dan sebab wafatnya. 

Namun inti yang disepakati jelas, hidupnya adalah kombinasi kebahagiaan keluarga dan kesedihan mendalam, dijalani dengan sabar, cerdas, dan bermartabat.

Sejak kecil ia tidak tumbuh di taman bermain, tetapi di tengah badai dakwah. Ia menyaksikan ayahnya dihina, bahkan pernah membersihkan kotoran unta yang dilemparkan ke punggung Nabi saat sujud. 

Di usia belia, ia sudah belajar, membela kebenaran tidak selalu disambut tepuk tangan. Tahun 619 M, Am al-Huzn, ibunya wafat, disusul Abu Thalib. Kesedihan bertumpuk seperti pajak progresif kehidupan. Namun ia tetap berdiri di sisi Nabi, hingga dijuluki Ummu Abiha karena kasihnya yang menguatkan.

Ia ikut merasakan boikot tiga tahun di Syi’b Abi Thalib, menahan lapar dan isolasi. Hijrah ke Madinah bukan perjalanan wisata rohani. Ketabahan menjadi pakaian hariannya.

Tahun 2 H (624 M), ia menikah dengan Ali. Mahar sederhana, baju besi atau alat giling. Walimahnya cukup roti dan kurma. Tidak ada dekorasi berlebihan, tidak ada utang konsumtif demi gengsi. 

Rumah tangga mereka miskin secara materi, kaya secara nilai. Fatimah menggiling gandum hingga tangannya kapalan. Nabi mengajarkan tasbih 33-33-34 setiap malam sebagai kekuatan ruhani. Pendidikan spiritual menggantikan subsidi tenaga kerja.

Anak-anak mereka lahir: Hasan (3 H), Husain (4 H), Zainab, Ummu Kultsum, dan menurut riwayat Syiah, Muhsin yang wafat kecil. 

Dalam kisah nazar tiga hari puasa, saat makanan berbuka diberikan kepada miskin, yatim, dan tawanan, turun ayat Surah al-Insan 76:5-22 memuji ketulusan mereka. Lapar tiga hari, tetapi tetap berbagi. 

Di zaman kini, mungkin sudah dijadikan konten viral dengan tagar kepedulian. Mereka melakukannya tanpa kamera.

Ia hadir di Uhud, membersihkan luka Nabi. Dalam peristiwa Kisa, ia bersama Ali, Hasan, dan Husain berada di bawah mantel Nabi saat turun ayat Tathir (33:33). Simbol kemuliaan yang diakui lintas mazhab.

Lalu datang bab paling sensitif, wafatnya Nabi tahun 11 H (632 M). Dunia Fatimah runtuh. Ia teringat bisikan Nabi, ia akan menjadi keluarga pertama yang menyusul beliau. 

Namun sebelum itu, muncul polemik Fadak. Abu Bakr RA mengambilnya untuk baitul mal berdasar hadis “para nabi tidak mewariskan”. 

Fatimah menyampaikan khutbah di Masjid Nabawi, mengutip ayat-ayat warisan (misalnya 27:16), menuntut haknya. Sunni berpendapat ia akhirnya ridha; Syiah melihatnya sebagai simbol perlawanan terhadap ketidakadilan. 

Sejarah mencatat ketegangan, dan politik umat sudah berdenyut sejak generasi pertama. Rupanya kursi kekuasaan selalu lebih panas dari gurun Hijaz.

Versi Syiah menyebut adanya tekanan ke rumahnya yang menyebabkan luka dan keguguran Muhsin; Sunni menolak tuduhan kekerasan itu. Perbedaan ini tetap menjadi diskursus panjang. 

Yang pasti, Fatimah wafat enam bulan setelah Nabi, usia muda (18–29 tahun tergantung versi), dimakamkan malam hari di Baqi’. Lokasi makamnya tidak diketahui, seolah ia ingin meninggalkan pesan sunyi, kemuliaan tidak butuh monumen megah.

Bagi perempuan, Fatimah adalah inspirasi yang lengkap. Berbakti pada orang tua tanpa kehilangan keberanian bersuara. Mengelola rumah tangga tanpa kehilangan intelektualitas. 

Sederhana tanpa kehilangan harga diri. Taat tanpa menjadi pasif. Ia menunjukkan, perempuan bisa menjadi pusat moral peradaban, bukan sekadar pelengkap narasi laki-laki.

Di tengah dunia yang gemar mempolitisasi simbol agama demi elektabilitas, Fatimah az-Zahra berdiri sebagai pengingat, kekuasaan bisa diperebutkan, tetapi kemuliaan hanya diraih dengan akhlak. Cahaya tidak perlu berteriak untuk bersinar. Ia cukup menjadi dirinya, dan sejarah yang akan bersaksi.

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

Gaji 26 Wantimpres Prabowo Tembus Rp1,9 Miliar Tiap Bulan, Belum Termasuk Fasilitas

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 19:06

Jenderal Dedi Langsung Tancap Gas Siapkan Struktur Organisasi BRAN

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:43

DPRD DKI Bakal Panggil Dishub Buntut Tarif Valet Tembus Rp250 Ribu

Minggu, 27 September 2026 | 14:20

UPDATE

Penyerahan Aset Hasil Kejahatan ke Negara jadi Benchmark Baru Penegakan Hukum

Rabu, 07 Oktober 2026 | 22:12

Polda Kalteng Berjibaku Lakukan Pembasahan di Area Titik Panas

Rabu, 07 Oktober 2026 | 21:59

Mazhab Tebet dan Pokok-pokok Pikiran Ekonomi Heterodoks

Rabu, 07 Oktober 2026 | 21:51

Peringati Hari Tani, PalmCo Dorong Kemandirian KUD Melalui Tata Kelola Sawit Berkelanjutan

Rabu, 07 Oktober 2026 | 21:44

Melihat Sahara dari Denyut Pembangunan

Rabu, 07 Oktober 2026 | 21:27

3.474 Napi Pindah ke Nusakambangan, 115 dari Rutan Depok

Rabu, 07 Oktober 2026 | 21:04

Bos Danantara Ungkap Hilirisasi Dongkrak Ekspor Nikel RI 10 Kali Lipat

Rabu, 07 Oktober 2026 | 20:55

KPK Geledah Dinkes Pemkot Madiun, Sita Dokumen hingga Uang Tunai

Rabu, 07 Oktober 2026 | 20:32

Titiek Soeharto Diminta Turun Gunung Pimpin FKPPI

Rabu, 07 Oktober 2026 | 20:25

RUU Migas dan BUK Migas Harus Menyalakan Kembali Mesin Eksplorasi Indonesia

Rabu, 07 Oktober 2026 | 20:01

Selengkapnya