Berita

John Tobing. (Foto: Istimewa)

Publika

John Tobing dan Darah Juang

JUMAT, 27 FEBRUARI 2026 | 01:40 WIB

SEORANG sahabat menjapri pada saya. “Benarkah kawan John Tobing telah berpulang malam ini”? 

Saya membalas: “saya belum mendapat info, akan saya cek dulu ke beberapa teman di Yogya, tentang berita kepergian sahabat kami John Tobing”.

Tak lama, sekitar setengah jam kemudian, di beberapa beranda grup WA aktivis tersiar kabar, John sony Maharsak Lumban Tobing meninggal dunia, Rabu malam pukul 20.45’ di di Rumah Sakit Akademik UGM Yogyakarta.


Kabar ini saya lanjutkan ke sahabat Heroe Dumairi yang tadi menjapri saya dan tak lama di berbagai grup WA terdapat berita yang sama. 

John Tobing adalah seorang yang mempunyai jiwa filsafat dan seni. Dua background itu menjadi satu ide dalam kontek perjuangan ketika ia menjadi aktivis mahasiswa. 

Salah satu orang dari sekian banyak mahasiswa Filsafat Universitas Gajah Mada (UGM) yang ingin hidup merdeka. 

Merdeka berpikir, merdeka berkesenian, merdeka dari penjajahan bangsa sendiri, merdeka dari kemiskinan dan kebodohan. Itulah John Tobing dalam semangatnya. 

Rambut gondrong terurai panjang, di dadanya terpasang kalung yang senantiasa melekat. Membuat orang lain terkesan dan tidak akan pernah lupa dengan sosok John Tobing. 

Saya mengenalnya sejak 39 tahun lalu. Saat itu saya sering menyambanginya di gedung Filsafat UGM. Saya bergaul dengan teman-temannya John Tobing, seperti Weby Warau, Zul Tery Apsupsi, Sugeng Bagiyo, Untoro Hariadi, Agung, Yayan Sofyan dll. 

Kenangan yang sudah begitu lama tapi rasanya terus membekas. Karena teman-teman Filsafat bagi saya memiliki potret kehidupan tersendiri. 

Bukan saja asyik dan enak diajak berdiskusi tentang teori-teori Filsafat. Tapi, kawan- kawan itu mempunyai sikap yang kuat dalam perjuangan menuju cita-cita perubahan. 

Mereka adalah kaum muda yang selalu gelisah melihat bangsa dan negaranya dibawah penindasan Orde Baru. Tanpa perjuangan mereka, reformasi tak akan pernah ada. 

Mereka bangkit memperjuangkan Hak Asasi Manusia dan membangun kesadaran pada mahasiswa  baru, agar memiliki cara berpikir yang progresif bahwa mahasiswa adalah agent of change. 

John Tobing adalah sosok yang mempunyai jiwa aktivis yang sangat kental dengan perlawanannya. Di berbagai forum maupun acara, ia tampil membawa Gitar menyanyikan lagu-lagu perjuangan. 

Kritis dan sarkasme terhadap penguasa. Kemanapun pergi, John bermain gitar dan menyanyikan lagu Iwan Fals. 

Selain itu juga melantunkan lagu Darah Juang yang liriknya di ciptakan oleh Dadang Juliantara, aktivis mahasiswa Fakultas MIPA UGM. 

Sekian puluh tahun lalu, saya ditelepon oleh John ketika saya masih tinggal di Jakarta. Kabarnya dia akan pindah dari Pekan Baru, Riau dan akan bermukim di Jakarta. 

Menurut info, John sempat bergabung di kantor Kemenaker bersama Muhaimin Iskandar dan Dita Indah Sari. Tapi tampaknya ia tidak betah duduk di kursi pemerintahan. 

Jiwa seninya lebih dominan dan memilih tinggal di Yogyakarta. Sekitar dua tahun lalu, saya bertemu John Tobing ketika takziah di kediaman almarhum Raharja Waluyo Jati. 

Nampakanya, John Tobing sudah sakit-sakitan. Ia didera penglihatan yang kurang sempurna. Matanya kesulitan untuk melihat. Akibat sakit komplikasinya. 

John Tobing menyadari bahwa ia sedang sakit, tetapi semangatnya masih seperti ketika ia menjadi aktivis mahasiswa. Semangat juangnya tak pernah padam meski masa telah berganti. 
Ia tetap hidup  seperti dalam semangat lagu Darah Juang. 

“Bunda relakan darah Juang kami, Padamu kami mengabdi”.

Eko S Dananjaya
Aktivis 

Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Penggunaan Gedung Kemenhut oleh PSI Berpotensi Melanggar Hukum

Minggu, 28 Juni 2026 | 00:26

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

Karier Gila-gilaan Mufli Budi Ananda: Dari Asisten Raffi Ahmad Jadi Komisaris Krakatau Posco

Senin, 29 Juni 2026 | 00:00

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

Jokowi Tinggalkan Jejak Buruk bagi Masyarakat Adat Lampung

Rabu, 01 Juli 2026 | 04:23

UPDATE

Marak OTT Kepala Daerah, PKB Minta Evaluasi Desain Pilkada

Jumat, 03 Juli 2026 | 16:25

Program Digitalisasi Pembelajaran Jangkau 288.865 Sekolah

Jumat, 03 Juli 2026 | 16:20

8 Dekade BNI Tumbuh Bersama Indonesia dalam Semangat Swadharma Bhakti Nagara

Jumat, 03 Juli 2026 | 16:00

10 Biksu Thailand Tewas Tertabrak Pikap yang Dikemudikan Bocah 11 Tahun

Jumat, 03 Juli 2026 | 15:47

Kemandirian Energi, Masa Depan Pembangunan Ekonomi Indonesia

Jumat, 03 Juli 2026 | 15:42

UMiMAX Pertamina Bantu Masyarakat Rentan Kembangkan Usaha

Jumat, 03 Juli 2026 | 15:30

Lewat X-ray, Bea Cukai Bongkar Penyelundupan 3,37 Ton Narkotika

Jumat, 03 Juli 2026 | 15:24

13 Negara Pastikan Tempat di Babak 16 Besar Piala Dunia 2026

Jumat, 03 Juli 2026 | 15:23

Aktivis Tibet Tewas Bakar Diri di Dekat Markas PBB New York

Jumat, 03 Juli 2026 | 15:23

Bupati Langkat Syah Afandin Digiring ke Gedung Merah Putih KPK

Jumat, 03 Juli 2026 | 15:11

Selengkapnya