Berita

Mantan Presiden Joko Widodo. (Foto: Dokumentasi RMOL)

Politik

Jokowi Pakai Isu KPK untuk Kepentingan Politik

SENIN, 23 FEBRUARI 2026 | 02:08 WIB | LAPORAN: JAMALUDIN AKMAL

Revisi UU KPK di era Presiden ke-7 Joko Widodo alias Jokowi kembali disorot karena dinilai mengubah wajah lembaga antirasuah dari institusi independen menjadi bagian dari orbit kekuasaan. Kondisi itu disebut membuat KPK rawan dimanfaatkan sebagai alat kepentingan politik.

Direktur Eksekutif Studi Demokrasi Rakyat (SDR), Hari Purwanto mengatakan, perubahan regulasi tersebut telah menggeser posisi KPK ke dalam rumpun eksekutif sehingga independensinya semakin tergerus.

"Jokowi entah sadar atau tidak sadar atas revisi UU KPK saat itu. Pada akhirnya KPK hanya dijadikan kepentingan bagi yang kepemimpinan siapapun," kata Hari kepada RMOL, Minggu 22 Februari 2026.


Ia menilai, masuknya KPK dalam struktur kekuasaan membuat lembaga itu tidak lagi berdiri bebas seperti saat awal dibentuk, padahal independensi merupakan syarat utama untuk memberantas korupsi secara efektif.

"Apalagi saat ini KPK rumpun yang sama dengan eksekutif," tegasnya.

Hari mengingatkan bahwa sejak awal, KPK didesain sebagai lembaga adhoc yang keberadaannya tidak permanen, sehingga sangat bergantung pada dukungan politik untuk tetap bertahan.

"Awal berdirinya KPK sebagai lembaga adhoc yang kapan pun bisa dibubarkan," terang Hari.

Meski kewenangannya dinilai melemah, Hari menyebut KPK masih memiliki nilai strategis tinggi dalam arena politik nasional karena citra dan kekuatan penindakan yang melekat padanya. Sehingga, Jokowi sengaja melontarkan isu revisi UU KPK.

"Tapi KPK masih jadi lembaga ‘seksi’ untuk dijadikan kepentingan politik yang menggunakannya," pungkas Hari.

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Duit Rp100 Miliar Hasil OTT KPK Dikabarkan Milik Nusron Wahid

Selasa, 15 September 2026 | 13:16

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

KPK Belum Tutup Peluang Periksa Bos Rokok HS M Suryo

Sabtu, 12 September 2026 | 06:08

Pendatang Baru, Partai Gema Bangsa Siap Verifikasi Pemilu 2029

Minggu, 13 September 2026 | 17:39

Desakan Pecat Nusron Mencuat, Ahmad Doli Memungkinkan jadi Pengganti

Minggu, 20 September 2026 | 05:26

UPDATE

Bea Cukai Sita 1.435 Bale Pakaian Bekas Ilegal Senilai Rp11,4 Miliar

Selasa, 22 September 2026 | 12:26

Bea Cukai Gagalkan 30 Kontainer Berisi Beras-Garam hingga Balpres, Nilainya Rp27,3 Miliar

Selasa, 22 September 2026 | 12:14

Lulus Kuliah, Sarjana SGU Ditantang Adaptif Hadapi Perubahan

Selasa, 22 September 2026 | 12:03

KPK Bakal Dalami Keterlibatan Dua Dirjen ATR/BPN yang Belum Jadi Tersangka

Selasa, 22 September 2026 | 11:55

Keselamatan Warga Harus Diprioritaskan di Tengah Banjir Bandang Solok

Selasa, 22 September 2026 | 11:51

Menlu Sugiono Serukan Langkah Nyata Group Eight Hentikan Krisis Gaza

Selasa, 22 September 2026 | 11:49

Harga Bitcoin Melonjak 6,66 Persen ke 86.614 Dolar AS

Selasa, 22 September 2026 | 11:47

Parpol Nonparlemen Bakal Kesulitan Jika Wacana Dua Fraksi untuk Capres Diterapkan

Selasa, 22 September 2026 | 11:37

NPCT1 Pastikan Tidak Ada Korban Pasca-Kebakaran Kontainer

Selasa, 22 September 2026 | 11:32

Sjafrie Apresiasi Jepang, dari Kemitraan Pertahanan hingga Bantuan Chinook

Selasa, 22 September 2026 | 11:05

Selengkapnya