Berita

Ilustrasi. (Foto: Istimewa)

Publika

Penguasa Bisa Semena-mena Bila Hasil Survei Kepuasan Tinggi

SELASA, 17 FEBRUARI 2026 | 13:01 WIB

MERASA dukungan rakyat tinggi, tak jarang penguasa semena-mena menerapkan kebijakan. Kalau ada protes, itu hanya 0,00. Tak perlu didengarkan. Jogetin aja. 

Angka survei kepuasan tembus 70 persen. Bahkan 80 persen. Rakyat mayoritas bilang puas. Tepuk tangan terdengar di istana. Meja rapat bergetar oleh rasa percaya diri. Para penjilat pajoh nasi kebanggaan. Penguasa tersenyum lebar, macam baru dapat wahyu statistik.

Secara angka, itu legitimasi. Secara psikologis, itu doping kekuasaan. Secara politik, itu modal besar. Tapi dalam sejarah, angka tinggi sering menjadi pintu gelap.


Survei itu alat. Ia seperti cermin. Tapi cermin hanya memantulkan wajah hari ini, bukan menjamin besok tak berkerut.

Masalah muncul ketika 70 persen dibaca sebagai cek kosong. Ketika penguasa merasa mayoritas ada di belakangnya, ia mulai yakin semua kebijakannya pasti diterima. Yang berbeda dianggap gangguan teknis. “Ah, itu cuma 0,00 persen.”

Kalimat itu terdengar kecil. Tapi dari situlah tirani lahir.

Sejarah mengajarkan, legitimasi mayoritas bisa berubah menjadi kultus individu. Lihat bagaimana Adolf Hitler naik lewat dukungan besar rakyat, lalu menjadikan negara mesin totaliter. Atau bagaimana Ferdinand Marcos merasa kuat oleh dukungan politik sebelum akhirnya menetapkan darurat militer.

Lebih tragis lagi ketika pemimpin mulai dianggap bukan sekadar kepala negara, tapi sosok nyaris suci.

Di Ethiopia, Mengistu Haile Mariam membangun kultus kepemimpinan yang begitu kuat. Ia dielu-elukan sebagai penyelamat revolusi. Kritik dibungkam. Lawan politik disapu bersih dalam periode yang dikenal sebagai Red Terror. Ketika kekuasaan tak lagi punya rem, darah menjadi harga. Akhirnya? Ia tumbang. Negeri luka. Ia hidup di pengasingan.

Di Rumania, Nicolae Ceausescu bahkan dipuja seperti titisan sejarah. Potretnya di mana-mana. Pidatonya disanjung bak sabda. Survei? Tentu saja tinggi. Siapa berani bilang tak puas? 

Tapi ketika krisis ekonomi mencekik dan rakyat tak lagi tahan, kekuasaan yang tampak kokoh runtuh hanya dalam hitungan hari. Ia dan istrinya dieksekusi setelah pengadilan singkat. Tragis. Sang “manusia setengah dewa” jatuh sebagai manusia biasa.

Apa pelajarannya, wak?

Ketika pemimpin mulai dipercaya tanpa batas, ketika angka kepuasan dijadikan legitimasi mutlak, ketika kritik dianggap nol koma nol nol, maka demokrasi sedang diganti dengan kultus.

Mayoritas memang penting. Tapi demokrasi bukan sekadar hitungan kepala. Ia juga soal perlindungan terhadap suara kecil. 

Dalam ilmu sosial ada istilah tirani mayoritas. Dalam fisika, tekanan tanpa katup meledak. Dalam agama, kekuasaan tanpa amanah menjadi zalim. Semua disiplin ilmu berbisik hal yang sama, jangan mabuk angka.

Survei tinggi itu boleh saja. Tapi ia harus dibaca sebagai tanggung jawab, bukan lisensi. Sebagai alarm agar makin hati-hati, bukan makin semena-mena.

Karena sejarah sudah berulang kali memperlihatkan, pemimpin yang merasa dirinya tak tergantikan, tak tersentuh, dan selalu benar, biasanya sedang berjalan menuju akhir yang tak ia duga.

Angka 70 persen bisa membuat istana riuh.
Tapi satu persen suara yang diabaikan, bisa menjadi gema perubahan.

Jangan pernah meremehkan yang dianggap nol. Sebab kadang, dari nol itulah revolusi bermula.

Ramadan mengajarkan, setinggi apa pun posisi dan sekuat apa pun dukungan, manusia tetap hamba yang wajib menahan diri. 

Puasa bukan cuma menahan lapar, tapi menahan kuasa, agar tak gelap mata ketika dipuji, tak jumawa ketika disanjung, dan tak menutup telinga ketika dikritik. 

Sebab di hadapan Allah, bukan angka survei yang menentukan kemuliaan, melainkan keadilan dan amanah. 

Ramadan adalah pengingat, kekuasaan tanpa kendali diri hanya akan membawa pada kehancuran. Sementara pemimpin yang mau berlapar bersama rakyatnya justru akan kenyang oleh kehormatan.

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

Populer

Dicurigai Ada Peran Mossad di Balik Pengalihan Tahanan Yaqut

Senin, 23 Maret 2026 | 01:38

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

SBY Menolak Silaturahmi Lebaran Anies?

Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

TNI Tegas dalam Kasus Andrie Yunus, Beda dengan Polri

Sabtu, 21 Maret 2026 | 05:03

Polisi Diminta Profesional Tangani Kasus VCS Bupati Lima Puluh Kota

Jumat, 20 Maret 2026 | 00:50

Pertemuan Megawati-Prabowo Menjungkirbalikkan Banyak Prediksi

Sabtu, 21 Maret 2026 | 04:12

UPDATE

KH Sholeh Darat Diusulkan jadi Pahlawan Nasional

Senin, 30 Maret 2026 | 05:59

Pentingnya Disiplin Informasi dalam KUHP Baru

Senin, 30 Maret 2026 | 05:43

Dikenal Warga sebagai Orang Baik, Pegawai Ayam Geprek Ditemukan Tewas

Senin, 30 Maret 2026 | 05:16

Aburizal Bakrie Kenang Juwono Sudarsono sebagai Putra Terbaik Bangsa

Senin, 30 Maret 2026 | 04:57

Mitra MBG Jangan Coba-coba Markup Harga Bahan Baku

Senin, 30 Maret 2026 | 04:40

Ikrar Setia ke NKRI

Senin, 30 Maret 2026 | 04:23

Pertamina Fasilitasi Pemudik Balik ke Jakarta dengan Lancar

Senin, 30 Maret 2026 | 03:59

Merajut Hubungan Sipil-Militer

Senin, 30 Maret 2026 | 03:50

Hadapi Bulgaria, Timnas Indonesia Bakal Tertolong Dukungan Suporter

Senin, 30 Maret 2026 | 03:27

BGN Dorong Penguatan Ekosistem Peternakan Demi Serap Lapangan Kerja

Senin, 30 Maret 2026 | 02:59

Selengkapnya