Berita

Diskusi bertajuk “World Terrorism Index: Peluncuran dan Diskusi WTI 2025” di Gedung IASTH Universitas Indonesia, Kampus Salemba, Jakarta, Rabu 11 Februari 2025. (Foto: Istimewa)

Politik

WTI 2025: Radikalisasi pada Anak Muda Meningkat di Platform Digital

KAMIS, 12 FEBRUARI 2026 | 00:26 WIB | LAPORAN: AHMAD KIFLAN WAKIK

Peluncuran World Terrorism Index (WTI) patut diapresiasi sebagai bagian data bagi Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) dalam merencanakan pencegahan dan penanggulangan terorisme.

Begitu disampaikan Kepala BNPT yang diwakili BJP Mochamad Rosidi dalam diskusi bertajuk “World Terrorism Index: Peluncuran dan Diskusi WTI 2025” di Gedung IASTH Universitas Indonesia, Kampus Salemba, Jakarta, Rabu 11 Februari 2025.

Kata Rosidi, BNPT selalu memandang penting data berbasis riset guna mempertajam Rencana Aksi Nasional Pencegahan dan Penanggulangan Ekstremisme (RAN PE).


"Hal ini agar kebijakan negara tetap relevan di tengah dinamika ancaman yang terus berubah," kata Rosidi.

Dalam sesi pemaparan, peneliti WTI Muhamad Syauqillah dan Adhiascha Soemitro memaparkan bahwa Indonesia pada 2024 berada di peringkat 51 dengan skor 18 dan masuk kategori low impact. 

"Pada 2025, Indonesia masih berada dalam kategori low impact dengan perbaikan skor menjadi 15," tuturnya.

Tim peneliti menjelaskan bahwa perbaikan skor tersebut dipengaruhi oleh penurunan jumlah operasi penangkapan sebelum aksi teror, yang secara langsung menurunkan skor total berdasarkan bobot penilaian indeks. 

Meski demikian, peringkat Indonesia bergeser dari posisi 51 pada 2024 menjadi 45 pada 2025. Kenaikan peringkat ini terjadi karena sejumlah negara lain mengalami perbaikan skor yang lebih signifikan atau kondisi keamanannya relatif stabil, sehingga mempengaruhi posisi relatif Indonesia dalam pemetaan global.

Laporan WTI 2025 juga menyoroti sejumlah tren utama. Salah satunya adalah meningkatnya kerentanan anak muda dan remaja terhadap radikalisasi di era digital.

"Kami menemukan peningkatan dalam radikalisasi dan rekrutmen anak muda melalui platform digital. Kelompok ekstremis kini memanfaatkan media sosial, pesan terenkripsi, hingga fitur percakapan dalam gim daring (online games) untuk menyebarkan propaganda," katanya.

"Metode ini mempercepat proses radikalisasi karena berlangsung efektif, cepat, dan sulit terdeteksi oleh pengawasan konvensional," ungkap tim peneliti.

Sementara Ketua Program Studi Kajian Terorisme SPPB UI, Dr. Zora A. Sukabdi memaparkan mengenai kerentanan psikologis anak terhadap paparan ideologi radikal-ekstrem. 

Ia menjelaskan bahwa perkembangan kognitif dan emosi yang belum matang membuat anak-anak rentan terhadap narasi ekstremis.

"Terutama ketika pengawasan orang tua di ruang digital minim," pungkasnya.

Populer

Pensiunan ASN Bakal Terima Uang Pensiun Langsung dari Kas Negara pada 2027

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:07

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

UPDATE

Ketika Gerakan Sosial Baru Menggugat Tatanan Politik

Selasa, 20 Oktober 2026 | 00:15

Ada Demo Mahasiswa, Masyarakat Diimbau Hindari Kawasan Monas

Selasa, 20 Oktober 2026 | 00:00

Cegah Perpecahan, Bagusnya Gibran Mundur

Senin, 19 Oktober 2026 | 23:38

Ada Indikasi Dendam Politik di Balik Wacana Pelengseran Gibran

Senin, 19 Oktober 2026 | 23:24

Legislator PKB Serahkan Bantuan bagi Korban Kebakaran di Majalengka

Senin, 19 Oktober 2026 | 23:01

Realisasi Investasi Hingga Kuartal III Sentuh Rp1.539 T

Senin, 19 Oktober 2026 | 22:58

Dua Tahun Pemerintahan Prabowo, Investasi Tembus Rp3.923 Triliun

Senin, 19 Oktober 2026 | 22:58

Ferry Juliantono Terpilih Jadi Presiden Syarikat Islam

Senin, 19 Oktober 2026 | 22:53

Masyarakat Adat Wanam Merauke Butuh Pelatihan Pertanian Berkelanjutan

Senin, 19 Oktober 2026 | 22:45

BEM-KSI Gelar Silaturahmi ke PBNU dan Beri Apresiasi ke Gus Gudfan

Senin, 19 Oktober 2026 | 22:29

Selengkapnya