Berita

Ilustrasi. (Foto: AI)

Publika

Ilusi Swasembada Pangan Kementan

RABU, 11 FEBRUARI 2026 | 22:45 WIB

KEMENTERIAN Pertanian mengklaim  bahwa  sepanjang tahun 2025 produksi beras nasional sebesar 34,69 juta ton. Meningkat 4,07 juta ton atau 13,29 persen dibandingkan tahun 2024. Diklaim surplus beras sebesar 3,52 juta ton. Sementara luasan panen sebanyak 11,32 juta hektar atau meningkat 12,69 persen. 

Perhitungan produksi beras nasional tersebut didasarkan pada asumsi perhitungan rendemen konversi Gabah Kering Giling (GKG) menjadi beras sebesar 64,12 persen. Sebuah asumsi yang sebetulnya juga kurang representatif karena hanya didasarkan pada satu musim kemarau di bulan Agustus-September 2025. Apalagi dipengaruhi oleh obsesi untuk penyerapan gabah oleh Bulog yang menurunkan kualitas beras dan otomatis rendemen. 

Kalau mau rasional, sebetulnya yang lebih mendekati kenyataan adalah hitungan dari USDA (United State Departement Of Agriculture) yang angkanya sebesar 57,69 persen. Data rendemen USDA ini juga menjadi lebih aman juga bagi kepentingan nasional agar kita tidak bias politik. 


Jangan sampai obsesi politik untuk hanya sekedar tunjukkan kinerja namun ternyata membahayakan bagi kepentingan nasional. Menurut saya, Presiden juga mesti menurunkan tim intelijen khusus untuk mengecek ini secara independen. Angka angka yang over confident ini sepertinya sudah mendekati obsesif-dilutif dan politis. 

Jangan sampai angka ini kelak menimbulkan gejolak sosial ketika kenyataanya kita justru mengalami defisit. Karena hitungan kami dengan pendekatan yang paling konservatif dengan menggunakan pendekatan basis konsumsi dari USDA dan produksi dari BPS saja masih defisit. 

Fenomena "don't count the tail" yang pernah terjadi di Ukraina mestinya jadi pelajaran. Di mana pemerintah optimis kebutuhan susu terpenuhi hanya dengan menghitung jumlah sapi, namun kenyataanya  ibu ibu rumah tangga memprotes kelangkaan susu. 

Jangan sampai faktanya kita alami defisit pangan tapi data-data yang ditampilkan menutup kenyataan. Ilusi surplus beras ini sebetulnya berbahaya karena jika kenyataannya kita defisit maka juga akan dorong aktivitas impor beras ilegal. 

Dalam konteks lebih luas, saya melihat program program yang dilakukan oleh Kementerian Pertanian saat ini juga orientasinya shortcut, dan keberlanjutannya sangat diragukan. Rekayasa kelembagaan dan juga pembiayaan yang memungkinkan petani kita maju juga tidak terjadi. 

Nasib petani kita selalu berada di sektor on farm yang tinggi resiko, dan bermargin rendah. Ini artinya dalam perspektif politik juga menjadi ancaman serius bagi kepentingan stabilitas politik nasional. 

Sektor bisnis off farm-nya dan bahkan non farm-nya seperti pembiayaan di sektor pertanian tidak menunjukkan daya dukung ke petani. Semua masih dikuasai oleh mafia kartel. Mereka panen tapi tidak panen, terjebak para pengijon. 

Sampai kiamat petani kita kalau pola kebijakan yang dilakukan seperti saat ini mereka akan tetap miskin. Informalisasi petani tanpa penguatan kelembagaan petani mendorong guremisasi alias penyempitan lahan dan degenerasi petani. Gambaran kondisi makro yang sesungguhnya terjadi dengan nasib petani ini juga mengancam program kedaulatan pangan Presiden Prabowo.

Suroto
Ketua Asosiasi Kader Sosio-Ekonomi Strategis (AKSES)


Populer

Pensiunan ASN Bakal Terima Uang Pensiun Langsung dari Kas Negara pada 2027

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:07

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Pengusaha Keberatan Masa Kerja Karyawan Kontrak Dipangkas jadi Empat Tahun

Kamis, 08 Oktober 2026 | 18:20

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

UPDATE

Gus Lilur Laporkan Dugaan Jual Beli Suara Muktamar NU ke KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 00:20

Ledakan Besar Guncang Pasar Cimanggis-Ciputat, 2 Orang Dikabarkan Tewas

Kamis, 15 Oktober 2026 | 00:00

Danantara Minta Maaf dan Ambil Alih PLN Batam Usai Listrik Padam

Rabu, 14 Oktober 2026 | 23:36

Pemerintah Diminta Gencar Sosialisasikan Beasiswa Pendidikan untuk Anak Papua

Rabu, 14 Oktober 2026 | 23:08

Ijazah Keluarga Jokowi itu Terus Melahirkan Masalah Bangsa

Rabu, 14 Oktober 2026 | 22:54

GoTo Gelar RUPSLB, Restui Pembatalan Saham Tresuri dan Perombakan Direksi

Rabu, 14 Oktober 2026 | 22:26

Terdakwa Pemerasan Bangun Paulus Dijemput Paksa di Tempat Hiburan, Alasan Mangkir Sakit

Rabu, 14 Oktober 2026 | 22:17

Kaya Omega-3, Bumi Wijaya Pilih Ikan Sidat untuk Gizidat

Rabu, 14 Oktober 2026 | 22:07

Indonesia-Malaysia Perkuat Kerja Sama Imigrasi, Pencegahan TPPO jadi Perhatian

Rabu, 14 Oktober 2026 | 22:05

Pertamina Patra Niaga Maksimalkan Langkah Pemulihan Layanan BBM di Bali

Rabu, 14 Oktober 2026 | 21:52

Selengkapnya