Berita

Logo PBNU (RMOL/Abdul Rouf Ade Segun)

Politik

NU Harus Bisa Menjawab Tantangan Zaman di Abad Kedua Perjalanan

RABU, 11 FEBRUARI 2026 | 21:38 WIB | LAPORAN: AHMAD ALFIAN

Memasuki abad kedua perjalanannya, Nahdlatul Ulama (NU) menghadapi beragam tantangan zaman yang menuntut transformasi tradisi tanpa meninggalkan akar nilai Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) sebagai fondasi gerak dan khidmahnya kepada umat dan bangsa.

Jika pada abad pertama NU berhasil meneguhkan diri sebagai jangkar Islam rahmatan lil ‘alamin yang mengawal tradisi Nusantara berlandaskan Aswaja, maka pada abad kedua, NU dituntut mampu beradaptasi dengan disrupsi teknologi, dinamika politik nasional-global, serta perubahan sosial yang sangat cepat.

“NU kini berada di persimpangan antara mempertahankan warisan kultural yang disimbolkan oleh sarung dan kitab kuning dan kebutuhan untuk bertransformasi menghadapi realitas zaman," ungkap tokoh muda NU dan Pengasuh Pondok Pesantren Bina Insan Mulia, Cirebon, KH Imam Jazuli, lewat keterangan resminya, Rabu, 11 Februari 2026.


Menurutnya, NU tidak boleh terjebak dalam romantisme masa lalu. Tradisi harus tetap dijaga, tetapi visi, strategi, dan cara kerja harus diperbarui agar NU benar-benar hadir sebagai pelayan umat di abad modern.

Salah satu tantangan krusial yang disoroti adalah hubungan antara Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Sebagai partai yang lahir dari rahim NU, PKB semestinya menjadi instrumen politik yang memperjuangkan kepentingan nahdliyin secara substantif.

Namun, dalam praktiknya, relasi keduanya kerap diwarnai konflik elite, saling delegitimasi, dan tarik-menarik kepentingan, terutama menjelang Pemilu.

“Atas nama Khittah 1926, sebagian elit NU justru bersikap terlalu menjauh dari PKB. Di sisi lain, PKB terkadang lebih sibuk dengan agenda elektoral daripada agenda keberpihakan pada umat. NU perlu kembali berperan sebagai pengawal moral tanpa bersikap antipati terhadap PKB sebagai wadah aspirasi politik warga NU,” ujarnya.

Tantangan berikutnya yang mendesak NU adalah kesenjangan digital. Saat dunia dakwah beralih ke layar kaca digital, konten moderat seringkali kalah cepat dengan narasi ekstrem. Umat membutuhkan bimbingan agama yang instan namun mendalam, sesuatu yang belum sepenuhnya terpenuhi oleh gerakan dakwah konvensional. Secara keilmuan dan sanad, NU harus melahirkan ulama digital. 

“Karenanya, NU perlu proaktif dalam memanfaatkan teknologi digital untuk menyebarkan nilai-nilai moderasi dan Aswaja An-Nahdliyah. Penguatan literasi digital di kalangan nahdliyin dan pengembangan konten digital yang menarik menjadi tantangan untuk melawan narasi ekstremisme di ruang siber," jelasnya.

Kemudian, Kiai Imam Jazuli mengungkapkan perlunya revitalisasi format dakwah. Dakwah NU selama abad pertama sering mengandalkan panggung dan gebyar seremonial, serta banyak diisi dengan agenda ritual tradisi. Bukan tak penting, tapi perlu beradaptasi dengan perubahan sosial dan teknologi yang lebih mengarah pada peningkatan kualitas hidup yang lebih baik.

Berikutnya adalah perlunya peningkatan sumber daya manusia (SDM) di lingkungan NU menjadi krusial untuk menghadapi tantangan global. Hal ini mencakup peningkatan akses dan kualitas pendidikan, pelatihan vokasional, dan pengembangan keterampilan yang relevan dengan perkembangan zaman. 

Alumni Pondok Pesantren Lirboyo Kediri itu menambahkan, tantangan berikutnya adalah penguatan akses kesehatan dan jejaring sosial-ekonomi. NU peru membuka akses terhadap layanan kesehatan yang merata dan terjangkau bagi seluruh warga, termasuk nahdliyin, adalah hal mendesak. 

“NU mendatang perlu menjadikan isu kesehatan dan penguatan jaring pengaman sosial sebagai target utama, seperti membangun klinik NU minimal di setiap kecamatan, serta memastikan pengawalan program BPJS bagi warga miskin, sebagai prioritas utama,” ucapnya.

Lebih jauh, struktur ekonomi jamaah yang masih lemah membuat NU rentan terhadap polarisasi. Kemandirian NU bukan lagi wacana, melainkan keharusan untuk memberdayakan ekonomi melalui digitalisasi UMKM. Jika tidak, "sarung" yang menjadi simbol kebersahajaan berisiko tertinggal oleh laju teknologi yang serba cepat.

Adapun wacana tentang Islam Nusantara dan Fiqih Peradaban tidak boleh terlalu melambung ke langit, tapi perlu menyentuh bumi, dengan kontekstualisasi dan internalisasi di tengah kebutuhan umat, juga harus diterjemahkan ke dalam program-program konkret yang menyentuh kebutuhan riil nahdliyin di akar rumput.

“NU di abad kedua membutuhkan keberanian untuk berinovasi, beradaptasi, dan kembali fokus pada pemberdayaan umat demi mewujudkan masyarakat yang adil, makmur, dan beradab. Tradisi harus dipertahankan, namun visi misi harus diperbarui,” harapnya.

Populer

KPK Bakal Dalami Data Intelijen soal Dugaan Suap ke Purbaya dan Anggota Komisi XI DPR

Kamis, 27 Agustus 2026 | 02:24

Muhadjir Terbitkan Surat Pengalihan Kuota Haji Usai Konsultasi ke Jokowi

Selasa, 01 September 2026 | 15:17

MAKI Puji Kerja Senyap Jampidsus Kuntadi Fokus Rampas Aset

Selasa, 01 September 2026 | 01:59

Dakwaan Lemah, Perkara Chromebook Murni Rekayasa

Kamis, 27 Agustus 2026 | 14:31

Tidak Benar Menag Nasaruddin Umar Mundur

Rabu, 26 Agustus 2026 | 18:06

KPK Sebut Iptu Dias Tak Bisa Dijerat Dewas, Penanganan Etik Diserahkan ke Polri

Senin, 24 Agustus 2026 | 11:47

KPK Sita Rumah Mewah Milik Vinna Ledy Anggraheni di Jaksel

Selasa, 01 September 2026 | 11:03

UPDATE

RI Dorong Status 742 Cagar Budaya Nasional Baru

Kamis, 03 September 2026 | 18:29

Di Forum Ekonomi Vladivostok, Prabowo Beberkan Alasan RI Tetap Jalankan MBG

Kamis, 03 September 2026 | 18:23

BGN ‘Berdosa’ Jika Biarkan Korban Keracunan MBG

Kamis, 03 September 2026 | 18:19

Profil Lionel Messi, Akhiri Karier Internasional dengan 125 Gol

Kamis, 03 September 2026 | 17:57

Prabowo Dorong Rute Langsung RI-Vladivostok untuk Perkuat Hubungan Ekonomi

Kamis, 03 September 2026 | 17:43

Anggaran MBG 2027 Capai Rp232,876 Triliun

Kamis, 03 September 2026 | 17:40

Kemenkop Tegaskan Anggaran Rp103 Miliar Bukan untuk Podcast

Kamis, 03 September 2026 | 17:35

Mantan Pemain Timnas Iwan Setiawan Meninggal Dunia, Ini Jejak Kariernya di Sepak Bola Indonesia

Kamis, 03 September 2026 | 17:25

IHSG-Rupiah Kompak Cerah Hari Ini

Kamis, 03 September 2026 | 17:23

Demo Kantor Agrinas Diduga Ditunggangi Oknum

Kamis, 03 September 2026 | 17:08

Selengkapnya