Berita

Roadmap APDESI Periode 2026-2031. (Foto: Istimewa)

Politik

Hasil Munas V Jadi Momentum APDESI Menjawab Tantangan Kepemimpinan Desa

SENIN, 09 FEBRUARI 2026 | 10:17 WIB | LAPORAN: AHMAD SATRYO

Kepengurusan Asosiasi Pemerintahan Desa Seluruh Indonesia (APDESI) hasil Musyawarah Nasional (Munas) V yang digelar di Jakarta pada 28-30 Januari 2026 diperkirakan akan menghadapi sejumlah tantangan yang tidak ringan.

Direktur Eksekutif Pusat Pengkajian Agraria dan Sumber Daya Alam (PPASDA), Irvan Mahmud, menilai bahwa meskipun Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) APDESI masih dijabat oleh sosok yang sama, peran organisasi tersebut dinilai belum optimal di tingkat akar rumput.

“Keberadaan dan fungsi organisasi masih kurang dikenal oleh warga desa,” ujar Irvan kepada Kantor Berita Politik dan Ekonomi RMOL, Senin, 9 Februari 2026.


Menurut Irvan, terpilihnya Junaedhi Mulyono - Kepala Desa Ponggok, Kecamatan Polanharjo, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah -  untuk periode 2026-2031 seharusnya menjadi penegas atas kepercayaan para kepala desa sekaligus pengakuan atas kinerjanya. Ia menilai Junaedhi berhasil mentransformasi Desa Ponggok dari desa miskin menjadi desa maju dan termasuk salah satu desa terkaya di Indonesia.

“Bukti empirik tersebut menjadi modal simbolik yang sangat kuat dan menumbuhkan harapan bagi masa depan APDESI,” tuturnya.

Irvan menjelaskan, sebelum berlakunya Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa, kondisi Desa Ponggok tidak jauh berbeda dengan desa-desa lain di Indonesia, yakni memiliki ruang fiskal terbatas, bergantung pada transfer pemerintah, minim inovasi, serta pengelolaan pemerintahan yang belum berbasis manajemen modern.

“Tahun 2015 menjadi titik balik. Dana desa dari pemerintah pusat dimanfaatkan secara tepat, dan inilah yang membedakan Ponggok dengan desa lainnya,” jelas Irvan.

Dengan dukungan akademisi dan penerapan pendekatan manajemen modern, potensi sumber daya air di Desa Ponggok berhasil dikembangkan menjadi destinasi wisata air unggulan. Strategi promosi berbasis teknologi digital dan media sosial mampu menarik wisatawan dalam jumlah besar.

“Hasilnya, pendapatan desa meningkat signifikan, dari sekitar Rp80 juta per tahun menjadi Rp3,9 miliar, bahkan sempat mencapai Rp14 miliar,” paparnya.

Pendapatan tersebut dikelola melalui BUMDes Tirta Mandiri yang mengelola berbagai unit usaha, antara lain wisata air, budidaya ikan nila hingga 570 kilogram per hari, budidaya udang galah sekitar 100 kilogram per bulan, usaha kuliner, penginapan, serta jasa event organizer.

“Dengan pendapatan sebesar itu, desa mampu menjalankan berbagai program sosial, seperti program Satu Rumah Satu Sarjana melalui pemberian beasiswa Rp300 ribu per bulan, jaminan kesehatan, asuransi, dan program kesejahteraan lainnya,” lanjut Irvan.

Ia menegaskan bahwa pengalaman Desa Ponggok menunjukkan desa bukan sekadar unit administrasi, melainkan aktor pembangunan yang manfaatnya dirasakan langsung oleh masyarakat.

Oleh karena itu, PPASDA mendorong Junaedhi Mulyono menjadikan keberhasilan Desa Ponggok sebagai inspirasi dan rujukan bagi desa-desa lain di Indonesia. Dengan visi, keberanian berinovasi, serta tata kelola yang akuntabel, APDESI diharapkan tidak lagi dipersepsikan semata-mata sebagai organisasi politis yang justru menurunkan kepercayaan publik.

“Dengan modal sosial yang kuat, Junaedhi memahami bagaimana desa mengelola aset, membangun BUMDes yang sehat, serta menerjemahkan kebijakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran warga,” ujarnya.

“Tantangannya adalah mentransformasikan pengalaman Desa Ponggok menjadi gerakan kolektif nasional dan menjadikannya sebagai platform kerja APDESI,” pungkas Irvan.

Populer

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Pencopotan Agus Suparmanto dan Taj Yasin Bukan Keinginan Ketum PPP

Kamis, 29 Oktober 2026 | 11:16

Rencana Insentif MBG Rp1 Triliun Tuai Kritik dari DPR

Kamis, 29 Oktober 2026 | 15:47

Silfester Matutina Diduga Masuk List Saksi Sidang Ijazah Jokowi

Minggu, 25 Oktober 2026 | 04:00

Ketua KPK Bakal Babak Belur Gara-gara Nusron

Senin, 26 Oktober 2026 | 13:02

UPDATE

Digelar di Ambon, Muktamar XIV KAMMI Usung Semangat Ale Rasa, Beta Rasa

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 16:29

KPU Perlu Keluarkan Surat Gibran Tidak Memenuhi Syarat Wapres

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 16:13

Gumarang Soroti Perubahan Sikap Rocky Gerung Setelah Masuk Lingkaran Istana

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 15:48

10 Saham Paling Tertekan saat IHSG Anjlok 7 Persen

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 15:16

OJK Serahkan Lagi Hasil Penelusuran Aset DSI, Bareskrim Sudah Sita Rp432 Miliar

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 15:04

Eksekusi Suntik Mati Gagal, Christa Pike Akui Alami Trauma dan Rasa Sakit

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 14:52

Harga Bitcoin Tertekan Setelah Binance Dibobol Hacker

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 14:44

Pendiri Ayam Goreng Suharti Tutup Usia, Merintis Bisnis Sejak 1956

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 14:30

Intel Babak Belur, Saham Anjlok 29 Persen

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 14:19

Kemlu Dalami Informasi WNI Tewas Saat Dinas Militer di Rusia Lewat KBRI Moskow

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 14:05

Selengkapnya