Berita

Ketua Dewan Direktur GREAT Institute, Syahganda Nainggolan. (Foto: RMOL)

Publika

Rekonstruksi Pemikiran Prabowo dan Tantangan ke Depan

MINGGU, 08 FEBRUARI 2026 | 20:28 WIB | OLEH: DR. SYAHGANDA NAINGGOLAN*

PROF Dr SITI ZUHRO telah menyebutkan nama saya ada dalam pertemuan 5 tokoh nasional bersama Prabowo Subianto, pada 30 Januari lalu, di dalam podcast dia di Madilog kemarin. Bagi saya itu adalah pertemuan kedua yang intensif dengan Prabowo, sebelumnya saya sendiri juga sudah diundang ke Hambalang 9 Januari lalu bersama Jumhur Hidayat, selama 7 jam.

Posisi saya yang selama ini dikenal sebagai aktivis sekaligus penulis tentu penting untuk menjelaskan apa yang saya ketahui dari pertemuan tersebut. Meskipun sesungguhnya dalam beberapa podcast, saya sudah ceritakan dalam gaya bahasa tidak langsung.

Nasionalisme Prabowo


Nasionalisme Prabowo berakar dari kesadaran historis bahwa Indonesia sudah ada sejak era Majapahit, atau bahkan sebelumnya. Artinya eksistensi bangsa kita bukan sebuah fenomena baru, yang gampang terombang-ambing dalam pengaruh global, khususnya penetrasi budaya barat dan juga Asia Timur.

Seperti, misalnya India dan China, Indonesia bisa mengarungi masa depannya dengan melanjutkan eksistensi di masa lalu.

Nasionalisme Prabowo Subianto juga menerima sintesis yang digagas Sukarno pada 1926, bahwa akulturasi telah berlangsung dari kebudayaan Islam dan sosialisme barat pada ke Indonesia yang ada saat ini. Namun, Indonesia tetap menjadi Indonesia sebagai inti eksistensinya.

Indonesia tidak boleh merasa kebudayaan kulit putih maupun Arab lebih tinggi dari dirinya. Dan menurut Prabowo, hal itu merupakan tugas sejarah bangsa kita mengembalikan kebanggaan kebangsaan kita, secara berulang-ulang.

Dalam konteks keindonesiaan, Prabowo juga mendorong istilah-istilah pribumi dan Islam menjadi arus utama. Misalnya, Prabowo menghendaki agar ekonomi nasional dikendalikan secara seimbang oleh pribumi, Islam dan keturunan China. Tanpa keseimbangan ini menurut Prabowo nasionalisme kita akan semu dan rentan hancur.

Demokrasi

Dalam urusan demokrasi Prabowo ingin bangsa kita tidak mereferensikan diri pada ajaran barat. Menurutnya, barat adalah rezim berwajah ganda. Mereka meneriakkan HAM, tapi membiarkan pembantaian massal di Palestina dan lain-lain. Mereka berteriak demokrasi, tapi memelihara rezim-rezim boneka yang otoriter di mana-mana.

Ajaran Bangsa Indonesia, dalam berdemokrasi, menurut Prabowo, adalah kebebasan yang bertanggung jawab. Tidak semua rakyat harus mengklaim dirinya sebagai “suara tuhan”. Sebab, rakyat yang kurang berpendidikan merupakan korban manipulasi

Di mata Prabowo demokrasi ala Indonesia adalah demokrasi cerdik cendekia dan para nasionalis. Untuk itu dibutuhkan musyawarah para pemimpin yang bertanggung jawab.

Selama dua puluh tahun terakhir, Indonesia dikendalikan demokrasi barbar. Mereka yang mengatur negara berniat jahat untuk merampok sumber daya alam dan memperkaya diri sendiri, keluarga dan kerabatnya. Sehingga, Bangsa Indonesia mengalami krisis kepercayaan diri, kemiskinan massal dan di ambang kehancurannya.

Musyawarah menurut Prabowo adalah kunci penting dalam pengelolaan kepemimpinan nasional. Dan itu merupakan warisan sejarah. Sedangkan demokrasi yang ada saat ini adalah demokrasi ala barat yang berbahaya bagi kelangsungan bangsa kita.

Prabowonomics

Dalam menjalankan perekonomian, Prabowo memastikan pegangannya adalah Pasal 33 UUD 45 asli. Menurutnya, Indonesia berutang budi pada Mubiyarto, Dawam Raharjo, Sri Edi Swasono dan Adi Sasono yang berhasil mempertahankan Pasal 33 tersebut dari intervensi asing di era amandemen UUD 45.

Prabowo menerjemahkan pasal 33 UUD 45 sebagai sosialisme, yakni memberikan senyuman kemenangan bagi orang-orang miskin, petani miskin, buruh miskin, tukang becak, nelayan dan lainnya. Tanpa senyum dan sejahtera, diantara kekayaan sumber daya alam yang luar biasa besarnya dianugerahi Allah, menurut Prabowo Indonesia adalah produk gagal.

Tantangan terbesar saat ini di Indonesia adalah ketimpangan ekonomi. Hanya segelintir manusia memiliki atau mengendalikan 70% perekonomian nasional. Orang-orang itu menurut Prabowo adalah kekuatan anti konstitusional atau serakahnomics.

Untuk mengatasi itu, Prabowo perlu negara mengambil alih kendali perekonomian, baik secara damai maupun perang.

Prabowo meyakini seharusnya dia sudah menjadi presiden 20 tahun lalu. Namun kaum serakahnomis menghancurkan harapan dia. Meskipun terlambat 20 tahun, Prabowo yakin dia akan mampu mengembalikan arah negara. Setidaknya arah yang baik untuk Indonesia ke depan.

Front Nasional

Untuk visinya ke depan, Prabowo membangun demarkasi antara bandit dan serakahnomics dengan kaum nasionalis patriotik alias kaum Merah Putih. Tahun kedua kepemimpinan beliau mulai terlihat Prabowo akan unjuk power melalui aliansi membangun front kaum nasionalis serta bersekutu dengan tentara rakyat. 

Beberapa waktu terakhir ini Prabowo terlihat melakukan itu dan sepertinya akan mengerahkan 1 juta massa rakyat unjuk kekuatan. Ini merupakan pertarungan Prabowo ke depan.

*Ketua Dewan Direktur GREAT Institute

Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

Pengusaha Keberatan Masa Kerja Karyawan Kontrak Dipangkas jadi Empat Tahun

Kamis, 08 Oktober 2026 | 18:20

Pensiunan ASN Bakal Terima Uang Pensiun Langsung dari Kas Negara pada 2027

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:07

UPDATE

Bareskrim Gerebek 9 Lokasi Rawan Narkoba di Sumut, Puluhan Pengedar dan Pemakai Diamankan

Senin, 12 Oktober 2026 | 12:28

Pasar Serdang Kemayoran Segera Direvitalisasi

Senin, 12 Oktober 2026 | 12:15

Hadiah Bibit Korupsi

Senin, 12 Oktober 2026 | 12:01

Aparat Usut Dugaan Investasi Emas Bodong Rp25 Miliar yang Seret Sejumlah Artis

Senin, 12 Oktober 2026 | 11:55

Putusan MK soal Gibran Bergulir ke Ranah Politik

Senin, 12 Oktober 2026 | 11:39

Karhutla Belum Tuntas, Pemerintah Kaji Langkah Penanganan Terbaik

Senin, 12 Oktober 2026 | 11:34

Kemenhub Catat 1.673 Penerbangan Terdampak Karhutla: 907 Batal

Senin, 12 Oktober 2026 | 11:17

Radja Nainggolan Ungkap Penyesalan Besar Belum Pernah Bela Timnas Indonesia

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Trump Pertimbangkan Bantu Arab Saudi Perangi Houthi

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:48

Selengkapnya