Berita

Ilustrasi (Artificial Inteligence)

Bisnis

Analisis Kebijakan MBG: Antara Tanggung Jawab Sosial dan Mitigasi Risiko Ekonomi

SABTU, 07 FEBRUARI 2026 | 09:41 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Diskusi mengenai program Makan Bergizi Gratis (MBG) belakangan ini lebih banyak berfokus pada kalkulasi fiskal dan relevansinya di tengah ketidakpastian ekonomi global. 

Di tengah kekhawatiran akan beban anggaran, Fakhrido Susilo, seorang pengamat kebijakan publik, melihat bahwa tantangan ekonomi global sebenarnya adalah fenomena umum yang juga dihadapi oleh banyak negara lain tanpa harus membatalkan komitmen sosial mereka. 

“Dinamika ekonomi global ini tidak hanya dirasakan Indonesia. Seluruh negara di dunia juga menempuh ini. Ada India India juga tidak lepas dari gejolak ekonomi dunia, juga Brazil, dan Amerika. Tapi tetap ada tanggung-jawab sosial negara yang harus dipenuhi dan mereka tidak menghentikan program midday meal-nya," papar Fakhrido, dalam keterangan yang dikutip redaksi di Jakarta, Sabtu 7 Februari 2026.


"Saya pikir ada banyak instrumen kebijakan yang bisa ditawarkan pemerintah untuk bisa memitigasi atau mengatasi dinamika ekonomi, tanpa harus mengorbankan MBG,” tambah Direktur Eksekutif di lembaga penelitian Kiprah ini.

Fakhrido juga melihat fenomena orang tua Indonesia yang bisa bekerja pagi-siang-malam karena memiliki lebih dari satu profesi. 

“Terkadang mereka memiliki pekerjaan utama menjadi buruh di pagi hari dan pengemudi ojek online di sore hari. Ini membuat perhatian terhadap gizi anak sering terabaikan. Adanya MBG justru meringankan beban orang tua, memastikan anak mendapatkan asupan berkualitas tanpa mengganggu produktivitas kerja mereka,” ujarnya. 

Secara makro, MBG dipandang sebagai bentuk investasi pada modal manusia (human capital) yang dampaknya memang tidak instan, namun menentukan produktivitas masa depan. 

Fakhrido menilai perhatian terhadap gizi anak merupakan fondasi agar investasi infrastruktur fisik tidak menjadi sia-sia. 

Ia memberikan perumpamaan, "Jika kita punya jalan tol yang luas tapi manusianya tidak berkualitas, bagaimana kita mau bersaing di 2045?"

Menurutnya,  Indonesia Emas adalah tentang pembangunan manusia. Namun, agar program ini tidak menjadi beban fiskal yang tidak efisien, ia menekankan perlunya transparansi tata kelola dan riset berbasis data melalui evaluasi dampak yang melibatkan pihak independen. 

“Pemerintah perlu menggandeng lembaga penelitian independen untuk melakukan impact evaluation, sekaligus studi komparatif dengan program serupa dengan efisiensi tinggi seperti India dan Brasil,” tambahnya, guna memastikan setiap Rupiah yang dikeluarkan memiliki daya ungkit ekonomi yang nyata.

Dari sisi ketahanan ekonomi rumah tangga dan sektor riil, dr. Rita Ramayulis menyoroti bahwa kebijakan ini bisa menjadi katalis bagi ekosistem pangan lokal. 

Dengan memprioritaskan komoditas daerah, program ini memiliki potensi untuk menciptakan efek pengganda (multiplier effect) terhadap pendapatan penduduk di tingkat akar rumput. 

"Kehadiran program MBG ini sebenarnya untuk mendekatkan dan memudahkan akses ke makanan bergizi," kata dr. Rita. 

Kuncinya terletak pada pemanfaatan keanekaragaman pangan lokal yang sangat kaya di Indonesia, yang jika dikelola dengan strategi diversifikasi yang tepat, dapat menekan biaya logistik sekaligus menggerakkan sektor UMKM. 

"Kalau kita fokus pada pangan lokal, aneka ragam pangan anak meningkat, lapangan pekerjaan dan pendapatan penduduk pun tentu ikut naik. Jadi efek ekonominya nyata," jelasnya. 

Pendekatan berbasis potensi lokal ini diharapkan mampu menjawab keraguan publik terkait stabilitas stok dan efisiensi biaya dalam jangka panjang.

Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

Pengusaha Keberatan Masa Kerja Karyawan Kontrak Dipangkas jadi Empat Tahun

Kamis, 08 Oktober 2026 | 18:20

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

UPDATE

Persib Naik Peringkat Usai Tahan Imbang Dewa United

Senin, 12 Oktober 2026 | 02:20

Menata Kembali Pendidikan Kita

Senin, 12 Oktober 2026 | 01:58

Koperasi di Bima Sukses Produksi Garam Merah Putih

Senin, 12 Oktober 2026 | 01:35

Golkar Perkenalkan Sistem Dapil Nasional, Begini Penjelasannya

Senin, 12 Oktober 2026 | 01:15

Dua Tahun Prabowo-Gibran: Paradoks Kebijakan Pertahanan Negara

Senin, 12 Oktober 2026 | 00:48

Baintelkam Polri Alami Perombakan di Era Suyudi

Senin, 12 Oktober 2026 | 00:20

Taruna Merah Putih Gelar Taman Talks Kupas Masa Depan Kerja di Era AI

Minggu, 11 Oktober 2026 | 23:45

Polemik Revitalisasi Taman Coatesville, Warga Protes Bangunan 480 Meter Persegi

Minggu, 11 Oktober 2026 | 23:33

Pangandaran Run 2026 Rajut Kebersamaan TNI dan Rakyat

Minggu, 11 Oktober 2026 | 23:18

Manggala Agni Turun Tangan Padamkan Karhutla yang Mendekati Permukiman

Minggu, 11 Oktober 2026 | 23:07

Selengkapnya