Berita

Wakil Ketua MPR Eddy Soeparno (kanan). (Foto: Tim Eddy Soeparno)

Politik

Eddy Soeparno: Transisi Energi Harus Seimbangkan Biaya dan Dampak Iklim

JUMAT, 06 FEBRUARI 2026 | 18:55 WIB | LAPORAN: AHMAD KIFLAN WAKIK

Ketahanan energi (energy security) harus menjadi landasan yang mendasari penyediaan kebutuhan energi, termasuk program transisi energi kita ke depannya. 

Begitu dikatakan Wakil Ketua MPR Eddy Soeparno dalam Diskusi Terbatas Tim Energi Bimasena bersama Wakil Ketua MPR di The Bimasena, Jakarta. Hadir dalam diskusi itu para Pimpinan dan Analis Energi The Bimasena.

Menurut Eddy, kebutuhan energi yang terus meningkat serta besarnya kebutuhan impor saat ini, patut menjadikan ketahanan energi bagian dari ketahanan nasional yang sangat penting.


Ia menjelaskan, secara global batu bara masih menjadi sumber energi paling dominan, meskipun kontribusinya menurun menjadi sekitar 35 persen, terendah dalam 50 tahun terakhir. 

Sementara itu, gas bumi masih berperan besar dengan porsi sekitar 20 persen dalam bauran energi dunia.

Menurut Wakil Ketua Umum PAN ini, kondisi transisi energi global saat ini berlangsung tidak teratur (disorderly). Di satu sisi, penggunaan energi fosil masih meningkat, tetapi di sisi lain pengembangan energi terbarukan, khususnya tenaga surya dan angin, juga tumbuh pesat.

“Kita perlu melihat apakah yang terjadi sekarang benar-benar transisi energi atau hanya penambahan alternatif energi baru,” ujar Eddy dalam keterangan tertulis, Jumat 6 Februari 2026.

Dia juga menyoroti dinamika geopolitik yang mempengaruhi kebijakan energi dunia. Banyak negara kini lebih memprioritaskan kebutuhan energi domestik dibanding kerja sama multilateral, sehingga isu ketahanan energi menjadi tema besar secara global.

Dalam paparannya, Eddy menjelaskan bahwa kebutuhan investasi transisi energi Indonesia hingga 2040 diperkirakan mencapai 263 miliar dollar AS, dengan sekitar 190 miliar dollar AS dibutuhkan hingga 2034.

Kata dia, besarnya kebutuhan investasi ini menjadi tantangan tersendiri karena banyak negara juga berlomba mengembangkan energi terbarukan, sehingga terjadi persaingan dalam teknologi, bahan baku, SDM hingga sumber pendanaan.

Eddy menekankan pentingnya agar pengembangan energi terbarukan juga mendorong industrialisasi dalam negeri, seperti industri panel surya, kabel, dan turbin, sehingga memberikan dampak langsung terhadap pertumbuhan ekonomi dan penyerapan tenaga kerja.

Selain itu, Eddy menyoroti pentingnya kepastian regulasi dan konsistensi kebijakan untuk menarik investasi di sektor energi, termasuk migas. 

Ia mengingatkan bahwa fragmentasi perizinan dan lemahnya koordinasi antar lembaga sering menjadi hambatan dalam mempercepat eksplorasi sumber-sumber migas yang dibutuhkan.

Ke depan, pemerintah dan DPR juga tengah menyiapkan sejumlah legislasi untuk mendukung pengembangan energi, antara lain revisi UU Migas, penyelesaian RUU Energi Baru dan Terbarukan, revisi UU Ketenagalistrikan, serta penyusunan UU Pengelolaan Perubahan Iklim.

Di akhir paparannya, Eddy menegaskan bahwa transisi energi di Indonesia harus disesuaikan dengan kondisi nasional, baik dari sisi kemampuan pembiayaan, kebutuhan masyarakat, maupun pemerataan akses listrik.

“Apapun yang kita lakukan dalam proses transisi energi, kita harus selalu menyeimbangkan antara biaya dan dampak iklim, serta memastikan ketahanan energi nasional tetap terjaga,” demikian Eddy.

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Duit Rp100 Miliar Hasil OTT KPK Dikabarkan Milik Nusron Wahid

Selasa, 15 September 2026 | 13:16

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

Desakan Pecat Nusron Mencuat, Ahmad Doli Memungkinkan jadi Pengganti

Minggu, 20 September 2026 | 05:26

KPK Dikabarkan Tetapkan Tangan Kanan Nusron Wahid Hingga Pihak Summarecon sebagai Tersangka

Selasa, 15 September 2026 | 09:40

UPDATE

Jamaika Nilai Otonomi Sahara Maroko Solusi Paling Layak Ditempuh

Jumat, 25 September 2026 | 10:16

Dibayangi Ketidakpastian Global, Rupiah Dekati Rp18.000 per Dolar AS

Jumat, 25 September 2026 | 10:15

Wacana Pileg dan Pilpres Dipisah, Pengamat Ingatkan Konsekuensi Konstitusional

Jumat, 25 September 2026 | 10:06

KPK Telusuri Aset TPPU Milik Walikota Madiun Maidi, Periksa Sejumlah Saksi

Jumat, 25 September 2026 | 09:58

Syahganda Nazar Gunduli Kepala dan Umrah Jika Gibran Didiskualifikasi MK

Jumat, 25 September 2026 | 09:50

Impor Produk Halal Capai 31 Miliar Dolar AS, Indonesia Kejar Pasar Global

Jumat, 25 September 2026 | 09:48

IHSG Kembali Menguat, Tembus Level 6.300

Jumat, 25 September 2026 | 09:34

Gibran Masih Bocil, Lebih Cocok Jadi Camat Ketimbang Wakil Presiden

Jumat, 25 September 2026 | 09:30

Prabowo Bangga Indonesia Raih Emas Pertama di Asian Games 2026

Jumat, 25 September 2026 | 09:28

Bertemu Trump, Xi Jinping Ingatkan Bahaya Jebakan Thucydides

Jumat, 25 September 2026 | 09:00

Selengkapnya