Berita

Ghislaine Maxwell dan Jeffrey Epstein berfoto di lokasi yang diyakini merupakan Rusia (Foto: Telegraph UK)

Global

Epstein Diduga Agen Rusia, Jejak ke Putin dan Mata-mata Kremlin Terkuak

SENIN, 02 FEBRUARI 2026 | 18:24 WIB | LAPORAN: HANI FATUNNISA

Keterkaitan mendiang finansier pedofil Jeffrey Epstein dengan Presiden Rusia Vladimir Putin serta jaringan intelijen Kremlin (KGB) kembali mencuat dan memicu kekhawatiran serius bahwa ia bukan sekadar predator seksual, melainkan bagian dari operasi intelijen berskala global. 

Dugaan itu mengarah pada kemungkinan Epstein terlibat dalam apa yang disebut sebagai operasi honeytrap terbesar di dunia.

Honeytrap adalah taktik rahasia yang menggunakan daya tarik seksual atau hubungan romantis palsu untuk memanipulasi target demi mendapatkan informasi sensitif, memberikan pengaruh politik, atau melakukan pemerasan finansial. 


Dalam salah satu email tahun 2010, Epstein menawarkan seorang perempuan muda kepada Pangeran Andrew dengan jaminan khusus.  Ia menulis bahwa perempuan tersebut adalah orang Rusia, cantik, dan dapat dipercaya. 

Email itu kini menjadi bagian dari lebih dari tiga juta dokumen, 180.000 gambar, dan 2.000 video yang dirilis Kementerian Kehakiman AS.

Sementara itu, ribuan dokumen lain mengaitkan Epstein langsung dengan Rusia dan Presiden Vladimir Putin. Tercatat lebih dari 1.056 dokumen yang menyebut nama Vladimir Putin dan lebih dari 9.000 dokumen yang merujuk pada Moskow.  

Arsip itu mengindikasikan bahwa Epstein bahkan memperoleh akses atau janji pertemuan dengan Presiden Rusia, meskipun ia telah dinyatakan bersalah pada tahun 2008 atas kejahatan seksual terhadap anak di bawah umur.

Dalam sebuah email pada tahun 2010, Epstein mengklaim memiliki akses langsung ke lingkaran kekuasaan Rusia.  

“Saya punya teman Putin, haruskah saya bertanya padanya?”  tulisnya saat menawarkan bantuan pengurusan visa Rusia kepada seorang rekan.

Sejumlah analis menilai pola ancaman perempuan muda asal Rusia mengarah pada praktik intelijen klasik Soviet dan Rusia, yaitu kompromat, menjebak tokoh yang berpengaruh dalam situasi seksual untuk kemudian diperas atau dikendalikan.

"Ada Andrew, Bill Gates, Donald Trump, Bill Clinton, dan lainnya yang ditempatkan pada posisi yang membahayakan di sebuah pulau yang penuh dengan teknologi. Ini adalah operasi honeytrap terbesar di dunia," ungkap seorang sumber intelijen kepada Daily Mail, seperti dikutip Senin, 2 Februari 2026.

Konsep pemerasan ini juga muncul dalam korespondensi Epstein dengan Sergei Belyakov, saat itu Wakil Menteri Pembangunan Ekonomi Rusia dan lulusan akademi FSB.  

Dalam email tahun 2015, Epstein merasa bahwa seorang gadis Rusia dari Moskow sedang mencoba memeras sekelompok pengusaha berpengaruh di New York

Dalam email lain yang dikirim ke dirinya sendiri, Epstein bahkan diduga merancang skema pembayaran 50.000 dolar AS per bulan untuk meredakan upaya pemerasan tersebut.

Dokumen terbaru juga menyebut rencana pertemuan Epstein dengan Putin pada tahun 2011 dan kemungkinan pertemuan lanjutan pada tahun 2014. 

Namun, rencana terakhir disebut batal karena jatuhnya pesawat Malaysia Airlines MH17 yang ditembak jatuh di Ukraina timur.

Epstein juga mengaku mampu memberi saran kepada Kremlin terkait Presiden AS Donald Trump.  Dalam email kepada pejabat Rusia, ia menulis:

Selain Rusia, dokumen tersebut mengungkap pertanda lama bahwa Epstein juga memiliki hubungan dengan intelijen Israel, Mossad.  

FBI mencatat laporan sumber rahasia yang menyatakan bahwa Epstein dilatih sebagai mata-mata dan memiliki kedekatan dengan mantan Perdana Menteri Israel, Ehud Barak.

Dugaan ini dikaitkan dengan Robert Maxwell, ayah Ghislaine Maxwell, pasangan lama Epstein, yang diduga bekerja untuk Mossad.  

Maxwell meninggal secara misterius pada tahun 1991 setelah jatuh dari kapal pesiarnya, kematian yang hingga kini memicu spekulasi luas.

Populer

Panglima TNI Bantah Seskab Teddy Diperiksa Polisi Militer

Sabtu, 07 November 2026 | 09:32

Kapolri Suyudi Berpeluang dapat Serangan Balik

Jumat, 06 November 2026 | 04:27

Upaya Makar Geng Solo

Sabtu, 07 November 2026 | 05:07

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Bonatua akan Diperiksa Bareskrim terkait Dugaan Pemalsuan Dokumen Suket Gibran

Rabu, 04 November 2026 | 23:19

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Jokowi Jangan Mimpi PSI Jadi Partai Besar

Selasa, 03 November 2026 | 02:41

UPDATE

Helikopter Pemadam Karhutla BNPB Jatuh di Sungai Barito

Minggu, 08 November 2026 | 14:30

Putin Pastikan Rusia-AS-Ukraina Kembali Berunding Pekan Depan di Abu Dhabi

Minggu, 08 November 2026 | 14:26

Plt Bupati Klaten Dicecar KPK soal Penerimaan Uang Hamenang dan Era Sebelumnya

Minggu, 08 November 2026 | 14:19

Al Aqsha Travel Gelar Akademi Marketing Haji untuk Perkuat Kompetensi Mitra

Minggu, 08 November 2026 | 14:02

Bahlil Ancam Tempuh Jalur Hukum Gegara Namanya Dikaitkan dengan Isu Penyadapan Prabowo

Minggu, 08 November 2026 | 13:47

Gempa 5,7 Magnitudo Guncang Jepang, 20 Orang Terluka

Minggu, 08 November 2026 | 13:42

Penyadapan Presiden Prabowo Biang Kerok Ekonomi Tidak Stabil

Minggu, 08 November 2026 | 13:28

Green Wakaf, Memperluas Manfaat Wakaf untuk Menjaga Kelestarian Alam

Minggu, 08 November 2026 | 13:08

Pengamat: Peran Seskab Teddy Strategis dalam Komunikasi Politik Pemerintah

Minggu, 08 November 2026 | 13:02

AS Siapkan Rp362 Miliar untuk Pembocor Informasi Nuklir Iran

Minggu, 08 November 2026 | 12:40

Selengkapnya