Berita

Gedung Bursa Efek Indonesia (Foto: RMOL/Reni Erina)

Bisnis

Emiten dan Investor Butuh Kepemimpinan BEI yang Profesional

SENIN, 02 FEBRUARI 2026 | 00:32 WIB | LAPORAN: JAMALUDIN AKMAL

Mundurnya Direktur Utama (Dirut) Bursa Efek Indonesia (BEI), Iman Rachman yang diikuti sejumlah pimpinan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dinilai layak diapresiasi. Namun hal itu belum menjadi solusi atas tekanan pasar pasca-rontoknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

Menurut dosen ilmu komunikasi Universitas Al Azhar Indonesia, Wildan Hakim, emiten dan investor di lantai bursa justru membutuhkan kepemimpinan yang profesional dan netral di tengah situasi yang sensitif.

"Emiten dan investor di lantai BEI membutuhkan kepemimpinan yang profesional dan netral. Seharusnya Dirut BEI dan pimpinan OJK mundur setelah berunding dan menyepakati solusi yang terbaik dalam merespons penilaian indeks yang dirilis oleh MSCI," kata Wildan kepada RMOL di Jakarta, Minggu, 1 Februari 2026.


Ia menilai, pernyataan Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa yang menyebut Dirut BEI telah melakukan kesalahan fatal menunjukkan persoalan tersebut bukan sekadar teknis pasar, melainkan menyentuh dimensi kebijakan yang lebih luas.

"Menkeu Purbaya menyebut, Dirut BEI Iman Rachman telah melakukan kesalahan fatal. Guna membayar kesalahannya tersebut, seharusnya Iman dan pimpinan OJK lainnya berkonsultasi terlebih dahulu dengan pemerintah sebelum mundur. Artinya, sudah ada pembicaraan serius tentang pejabat pengganti yang diharapkan bisa direspons positif oleh pasar," terang Wildan.

Pengamat politik dari Motion Cipta (MC) Matrix ini menyebut bahwa, publik sebelumnya juga mencatat adanya janji komunikasi dengan MSCI yang belum terealisasi.

"Seharusnya Iman Rachman dan jajarannya meminta waktu dulu untuk menjalankan tugas ini dan setelah itu baru mundur. Yang terjadi saat ini, diskusi dengan MSCI belum terjadi, tapi pejabatnya sudah mundur lebih awal," tutur Wildan.

Ia menjelaskan, manajemen BEI dan OJK semestinya telah memahami poin-poin kritik yang menjadi dasar penilaian MSCI, khususnya terkait transparansi informasi komposisi kepemilikan saham serta porsi saham yang dapat diperdagangkan publik (free float).

"Mulai dari transparansi informasi seputar komposisi kepemilikan saham serta persentase saham yang bisa diperjualbelikan oleh masyarakat di lantai bursa. Kedua poin inilah yang seharusnya dijelaskan Iman Rachman dan OJK saat berdiskusi dengan MSCI," jelasnya.

Wildan melihat, meski tampak sebagai isu ekonomi, dinamika ini juga memunculkan kesan politis. Pemerintah, lanjutnya, perlu segera menetapkan sosok pengganti yang kredibel untuk memulihkan kepercayaan pasar dan melanjutkan negosiasi dengan MSCI.

Ia menegaskan, stabilitas kepemimpinan lembaga pasar modal menjadi faktor penting agar sentimen negatif tidak berkepanjangan dan kepercayaan investor bisa dipulihkan.

"Yang jelas, ini masalah sangat serius di Bursa Efek Indonesia. Pukulan keras dirasakan para investor ritel yang mencoba mencari cuan dari aktivitas trading dan investasi. Saya sebagai investor ritel merasakan dampak dari anjloknya IHSG pasca pengumuman dari MSCI," pungkas Wildan.


Populer

Panglima TNI Bantah Seskab Teddy Diperiksa Polisi Militer

Sabtu, 07 November 2026 | 09:32

Kapolri Suyudi Berpeluang dapat Serangan Balik

Jumat, 06 November 2026 | 04:27

Upaya Makar Geng Solo

Sabtu, 07 November 2026 | 05:07

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Bonatua akan Diperiksa Bareskrim terkait Dugaan Pemalsuan Dokumen Suket Gibran

Rabu, 04 November 2026 | 23:19

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Jokowi Jangan Mimpi PSI Jadi Partai Besar

Selasa, 03 November 2026 | 02:41

UPDATE

Helikopter Pemadam Karhutla BNPB Jatuh di Sungai Barito

Minggu, 08 November 2026 | 14:30

Putin Pastikan Rusia-AS-Ukraina Kembali Berunding Pekan Depan di Abu Dhabi

Minggu, 08 November 2026 | 14:26

Plt Bupati Klaten Dicecar KPK soal Penerimaan Uang Hamenang dan Era Sebelumnya

Minggu, 08 November 2026 | 14:19

Al Aqsha Travel Gelar Akademi Marketing Haji untuk Perkuat Kompetensi Mitra

Minggu, 08 November 2026 | 14:02

Bahlil Ancam Tempuh Jalur Hukum Gegara Namanya Dikaitkan dengan Isu Penyadapan Prabowo

Minggu, 08 November 2026 | 13:47

Gempa 5,7 Magnitudo Guncang Jepang, 20 Orang Terluka

Minggu, 08 November 2026 | 13:42

Penyadapan Presiden Prabowo Biang Kerok Ekonomi Tidak Stabil

Minggu, 08 November 2026 | 13:28

Green Wakaf, Memperluas Manfaat Wakaf untuk Menjaga Kelestarian Alam

Minggu, 08 November 2026 | 13:08

Pengamat: Peran Seskab Teddy Strategis dalam Komunikasi Politik Pemerintah

Minggu, 08 November 2026 | 13:02

AS Siapkan Rp362 Miliar untuk Pembocor Informasi Nuklir Iran

Minggu, 08 November 2026 | 12:40

Selengkapnya