Berita

Penetapan tersangka Bupati Pati, Sudewo, disambut dengan penyalaan kembang api dan flare di alun-alun Simpang Lima Pati. (Foto: Istimewa)

Publika

Sudewo Kembang Api, Maidi Karangan Bunga

RABU, 28 JANUARI 2026 | 06:33 WIB

NEGARA ini memang ajaib. Pada hari yang sama, lembaga yang sama, borgol yang sama, dua kepala daerah ditangkap. Tapi reaksi rakyatnya bertolak belakang sejauh langit dan got. 

Di Pati, saat Bupati Sudewo ditangkap KPK, langit malam disulut kembang api. Di Madiun, ketika Walikota Maidi dibawa KPK di hari yang sama, jalanan justru dipenuhi karangan bunga. Fenomena unik.

Ini bukan sekadar cerita kembang api dan bunga. Ini potret psikologi publik yang telanjang bulat.


Rakyat Pati menyalakan kembang api bukan karena mereka gemar pesta. Mereka merayakan sesuatu yang lebih mahal dari hiburan, harapan. Harapan bahwa penderitaan mereka selama ini akhirnya mendapat titik. Bahwa keluhan yang mungkin tak pernah didengar, kini dijawab oleh suara borgol yang berbunyi “klik”. 

Kembang api itu bukan simbol kegembiraan atas kejatuhan seseorang, tapi luapan emosi kolektif yang sudah lama dipendam. Seperti orang yang lama menahan kentut, lalu akhirnya meledak, pada mabur, bau tahu, ups.

Sebaliknya, Madiun menangis dalam diam. Karangan bunga berdiri rapi, seolah berkata, “Kami tahu beliau salah, tapi kami juga tahu beliau bekerja.” Di mata banyak warga, Maidi bukan sekadar walikota, tapi sosok yang terasa hadir. 

Ada kesan ia seperti Robin Hood versi lokal. Keras pada aturan, berani pada risiko, dan, menurut persepsi rakyat, lebih sering “mengambil dari yang kuat untuk memperindah hidup yang kecil-kecil”. Entah persepsi itu sepenuhnya benar atau tidak, yang jelas, kota ini pernah merasakan hasilnya.

Di sana, Maidi menjadi simbol perubahan. Jalan-jalan dibenahi, kota ditata, pelayanan dirasakan. Maka ketika KPK datang, rasa yang muncul bukan hanya kaget, tapi juga duka. 

Duka karena sosok yang dianggap hadir dalam kehidupan sehari-hari tiba-tiba dicabut dari panggung. Robin Hood boleh salah melanggar hukum kerajaan, tapi rakyat tetap mengenangnya sebagai pembela.

Menariknya, dua reaksi ini sama-sama jujur. Sama-sama rakyat. Sama-sama tidak direkayasa buzzer. Tidak dibayar. Tidak dikomandoi.

Inilah yang sering gagal dipahami para pejabat. Penilaian rakyat bukan soal pidana semata, tapi soal pengalaman. Rakyat menilai dengan perut, bukan pasal. Dengan jalan berlubang, bukan konferensi pers. Dengan antrean pelayanan, bukan baliho prestasi. 

Ketika pemimpin hanya hadir saat kampanye, lalu menghilang dalam kekuasaan, jangan kaget jika rakyat menyalakan kembang api saat ia jatuh. Tapi ketika pemimpin hadir dalam denyut keseharian, meski akhirnya tergelincir, rakyat akan tetap mengantar dengan bunga.

KPK, dalam cerita ini, hanyalah pemantik. Reaksi rakyatlah yang menjadi cermin paling jujur tentang kualitas kepemimpinan. Bukan soal siapa lebih bersalah atau lebih bersih, itu urusan hukum. 

Ini soal ikatan emosional antara pemimpin dan yang dipimpin. Ikatan yang tidak bisa dibangun dengan spanduk, tapi dengan kerja yang terasa.

Fenomena Pati dan Madiun memberi pesan keras, jabatan tidak otomatis melahirkan cinta. Kekuasaan tidak identik dengan penghormatan. 

Ada pemimpin yang jatuh lalu dirayakan. Ada yang jatuh lalu diratapi. Itu ditentukan jauh sebelum KPK datang, ditentukan oleh cara mereka memimpin setiap hari.

Maka bagi para pejabat yang hari ini masih duduk nyaman di kursi empuk, jangan sibuk bertanya bagaimana caranya lolos dari jerat hukum. Tanyakan satu hal yang lebih menohok, kalau suatu hari saya ditangkap, rakyat menyiapkan apa -- kembang api atau karangan bunga?

Pada akhirnya, kembang api dan karangan bunga adalah rapor yang paling jujur. Tidak bisa dimanipulasi. Tidak bisa dibantah dengan konferensi pers. 

Jika saat Anda ditangkap rakyat menyalakan kembang api, itu pertanda kepemimpinan Anda meninggalkan luka. Rakyat merasa lebih lega ketika Anda pergi daripada saat Anda berkuasa. Itu sinyal, selama ini Anda hadir sebagai beban, bukan harapan.

Sebaliknya, jika yang datang adalah bunga, itu tanda lain. Bukan tanda Anda suci, bukan pula pengampunan hukum. Itu tanda Anda pernah memperhatikan rakyat. 

Pernah mendengar keluhan tanpa mikrofon. Pernah bekerja tanpa harus dipuji. Bunga adalah bahasa sunyi rakyat yang berkata, “Kami tahu Anda salah, tapi kami juga tahu Anda peduli.”

Maka jangan remehkan reaksi publik. Di sanalah cermin kepemimpinan sesungguhnya. Hukum akan mencatat perkara, sejarah akan mencatat kebijakan, tapi rakyat akan mencatat rasa. 

Rasa itulah yang menentukan, saat Anda jatuh, apakah langit menyala oleh kembang api, atau jalanan hening oleh bunga.

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

Populer

10.060 Jemaah Umrah Telah Kembali ke Tanah Air

Kamis, 05 Maret 2026 | 09:09

Menyorot Nuansa Politis Penetapan Direksi Pelindo

Senin, 02 Maret 2026 | 06:59

Rumah Bersejarah di Menteng Berubah Wujud

Sabtu, 07 Maret 2026 | 22:49

Harga Tiket Pesawat Kembali Tidak Masuk Akal

Selasa, 03 Maret 2026 | 03:51

Pengacara Terkenal yang Menyita Perhatian Publik

Minggu, 08 Maret 2026 | 11:44

Siapa Berbohong, Fadia Arafiq atau Ahmad Luthfi?

Sabtu, 07 Maret 2026 | 06:42

Rusia dan China akan Dukung Iran dari Belakang Layar

Minggu, 01 Maret 2026 | 04:20

UPDATE

Koops TNI Papua Gelar Baksos di Panti Asuhan Santa Susana Mimika

Rabu, 11 Maret 2026 | 02:09

Mahfud MD Usul Fraksi DPR Dibikin Dua Blok

Rabu, 11 Maret 2026 | 02:00

Wakapolri Ingin Setiap Kebijakan Polri Bisa Dipertanggungjawabkan secara Ilmiah

Rabu, 11 Maret 2026 | 01:33

Jimly Asshiddiqie Usul Masa Jabatan KPU seperti MK

Rabu, 11 Maret 2026 | 01:20

Iran Menolak Tunduk kepada Trump

Rabu, 11 Maret 2026 | 01:09

Inilah 11 Pimpinan Baru Baznas

Rabu, 11 Maret 2026 | 00:40

Cara Licik Fadia Arafiq Korupsi

Rabu, 11 Maret 2026 | 00:25

Setara Institute Catat 221 Pelanggaran KBB Sepanjang 2025

Rabu, 11 Maret 2026 | 00:15

Operasional TPST Bantargebang Ditargetkan Pulih dalam Sepekan

Rabu, 11 Maret 2026 | 00:01

Pramono-Rano Berhasil Tuntaskan PR Pemimpin Terdahulu

Selasa, 10 Maret 2026 | 23:29

Selengkapnya