Berita

Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo dan jajaran dalam rapat kerja (raker) bersama Komisi III DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta Pusat pada Senin, 26 Januari 2026 (Dokumentasi TV Parlemen)

Publika

Kapolri Rela Jadi Petani

SELASA, 27 JANUARI 2026 | 06:30 WIB

SAKING ngototnya tidak mau dibentuk Kementerian Kopolisian, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo rela menjadi petani. 

Lah, kok harus jadi petani, sih! Kenapa tidak menjadi komisaris aja. Ternyata, itu hanya seloroh beliau saja. “Gurau jak,” kata budak Pontianak. 

Di ruangan itu duduk Jenderal Listyo Sigit Prabowo, Kapolda se-Indonesia, anggota Komisi III DPR, mikrofon berjajar, kamera menyala, dan satu wacana lawas yang dipanaskan ulang, Polri di bawah kementerian. 


Entah kenapa, ide ini selalu muncul seperti mantan, sudah ditolak tapi rajin menyapa. Bahkan ada yang sampai kirim WhatsApp ke Kapolri, nanya dengan polos dan berbahaya, “Mau enggak Pak Kapolri jadi Menteri Kepolisian?” Pertanyaan sederhana, dampaknya nasional.

Jawaban Kapolri tidak kalah sederhana, tapi efeknya seperti cabe rawit ditelan bulat-bulat. Kalau disuruh jadi Menteri Kepolisian, katanya, dia lebih memilih jadi petani. 

Bukan petani wacana, bukan petani opini, tapi petani beneran. Yang bangun pagi, lawannya matahari, pulangnya bau lumpur, bukan bau rapat. 

Lebih jauh lagi, dia bilang lebih baik dicopot dari jabatan Kapolri ketimbang menerima skema kementerian itu. Negara mendadak mikir keras, netizen langsung panen tafsir.

Padahal maksudnya terang, cuma dibungkus humor kering. Menurut Listyo Sigit, posisi Polri paling ideal ya di bawah Presiden. Bukan karena ingin dekat istana, tapi karena realitas kerja. 

Indonesia ini punya 17.380 pulau. Kalau dibentangkan, luasnya setara perjalanan London sampai Moskow. Dengan kondisi begitu, Polri perlu fleksibel, cepat, tidak berbelit. 

Tugasnya menjaga harkamtibmas, menegakkan hukum, melindungi dan melayani masyarakat. Kalau ditambah satu lapis kementerian, kerja polisi bisa kayak bajak sawah ditarik ke belakang.

Tenang, ini bukan kisah Kapolri terinspirasi Susno Duadji yang benar-benar turun ke ladang setelah pensiun. “Jadi petani” di sini cuma simbol. 

Simbol hidup sederhana, simbol penolakan total, simbol sindiran halus tapi nyelekit ke wacana yang dianggap bikin Polri makin ribet. Ini guyonan pejabat tinggi. Kalau salah tafsir bisa bikin satu republik debat tiga hari tiga malam.

Sementara publik sibuk ketawa dan sebagian sibuk marah. Di sisi lain negara tetap jalan dengan wajah paling seriusnya. 

Komisi Reformasi Polri yang diketuai Jimly Asshiddiqie, dibentuk lewat Keppres Nomor 122/P Tahun 2025, beranggotakan 10 orang, bekerja selama tiga bulan sejak November 2025. 

Sampai Januari 2026, progresnya baru sekitar 50 persen draf rekomendasi. Fokusnya transparansi, partisipasi publik, perbaikan internal, dan memastikan Polri tetap di bawah Presiden tapi dengan pengawasan lebih kuat. Semua rapi, semua formal, dan tentu saja tanpa humor.

Rapat Komisi III hari itu juga melahirkan delapan poin kesimpulan. Polri tetap di bawah Presiden sesuai TAP MPR Nomor VII/MPR/2000. Revisi UU Polri akan dibahas. Reformasi kultural digenjot lewat kurikulum dan budaya organisasi. Teknologi mutakhir didorong masuk. Perpol Nomor 10 Tahun 2025 disetujui. Kompolnas dimaksimalkan. Kamtibmas 2025 dilaporkan relatif kondusif meski sempat ada “Agustus Kelabu”. 

Survei Global Safety dan Litbang Kompas bilang kepercayaan publik naik. Semua fraksi di Komisi III sepakat. Kompak seperti foto keluarga menjelang Lebaran.

Di antara tumpukan rekomendasi, data, dan jargon kelembagaan itu, yang paling lengket di kepala publik justru satu kalimat ngawur, “Saya lebih baik jadi petani.” 

Begitulah republik ini bekerja. Serius tapi bercanda, resmi tapi absurd. Kalau wak berharap pencerahan, silakan kecewa. Negara ini tidak kekurangan aturan, hanya kelebihan ironi.

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

UPDATE

Jawab Tantangan Digital, Bawaslu Jadikan Kampus Laboratorium Demokrasi

Kamis, 01 Oktober 2026 | 05:54

DPD Ungkap Pola Investor ‘Berjudi’ Properti di Bali, Beli Aset Lalu Jual Lagi

Kamis, 01 Oktober 2026 | 05:24

Denny Indrayana Cs Debat Sengit dengan KPU soal Verifikasi Data Calon

Kamis, 01 Oktober 2026 | 04:50

Nakhoda KM Virgo Transport 8 Langsung Ditahan Penyidik

Kamis, 01 Oktober 2026 | 04:20

Digagas di Era Purbaya, Wacana Insentif Motor Listrik Masih Belum Jelas

Kamis, 01 Oktober 2026 | 03:59

Saksi Denny Indrayana Ungkap Tak Ada Bahasa Verifikasi Faktual Dokumen Capres-cawapres

Kamis, 01 Oktober 2026 | 03:34

Sjafrie Sematkan Tanda Kehormatan ke Tentara Jepang yang Bantu Atasi Karhutla

Kamis, 01 Oktober 2026 | 03:09

Kader PDIP Berpotensi Jabat Wapres Jika Gibran Didiskualifikasi

Kamis, 01 Oktober 2026 | 02:55

TNI Hormati Kejagung Imbas Penetapan Kolonel Budi Tersangka Korupsi MBG

Kamis, 01 Oktober 2026 | 02:42

Kemenperin Dukung Impor KRL Bekas dari Jepang, Ini Alasannya

Kamis, 01 Oktober 2026 | 02:18

Selengkapnya