Berita

Bendera Partai Gema Bangsa dan Partai Gerakan Rakyat. (Foto: Istimewa)

Publika

Indonesia Disodorkan Dua Parpol Baru

SENIN, 19 JANUARI 2026 | 20:59 WIB

PENGGEMAR politik, ngumpul di sini. Kita hidup selalu dipengaruhi politik. Perlu diketahui, Januari 2026, awal tahun sudah lahir dua parpol baru. Gema Bangsa dan Gerakan Rakyat. Total negeri ini sudah memiliki 78 parpol. 

Indonesia membuka kalender 2026 bukan dengan doa awal tahun, melainkan dengan ulek-ulekan politik skala nasional. 

Belum sempat rakyat menimbang resolusi hidup sehat, Januari sudah menyodorkan dua sambal baru ke meja demokrasi, Partai Gema Bangsa dan Partai Gerakan Rakyat. 


Negeri berpenduduk 270 juta jiwa ini tampaknya bukan kekurangan masalah, tapi kelebihan resep partai, seperti rumah makan Padang yang punya 78 jenis sambal tapi pelanggan tetap ribut soal rendang.

Tanggal 17 Januari 2026, di JCC Senayan, Partai Gema Bangsa dideklarasikan dengan dentuman seremoni yang tak kalah heboh dari pesta gol. 

Hari itu memang spesial. Di belahan bumi lain, Manchester United menaklukkan Manchester City 2–0 di Old Trafford. Dua gol, dua partai, dua rasa pedas. 

Semesta seperti sedang sinkron. Dipimpin Ahmad Rofiq, mantan Sekjen Perindo, Gema Bangsa datang membawa sambal terasi mangga muda. Asam, pedas, dan penuh klaim menyegarkan. Visinya digiling halus, Indonesia Mandiri, Desentralisasi Politik, Indonesia Reborn. 

Ini seakan tiga cabai rawit kosmik yang siap membakar lidah wacana publik. Mereka mengaku sebagai wadah rakyat yang muak dengan politik transaksional, sambil dengan mantap menyatakan dukungan kepada Prabowo Subianto untuk Pilpres 2029. Ini seperti mengaku anti gorengan, tapi pesan tahu isi satu lusin.

Sehari setelah euforia itu, 18 Januari 2026, giliran Partai Gerakan Rakyat muncul dari Hotel Arya Duta Menteng, Jakarta Pusat. 

Kalau Gema Bangsa itu sambal terasi, Gerakan Rakyat adalah sambal matah politik. Segar, berisik, dan irisan tokohnya kelihatan dari jauh. 

Dipimpin Sahrin Hamid dengan M. Ridwan sebagai Sekjen. Partai ini berevolusi dari ormas sejak 2023, diputuskan lewat Rakernas I (17-18 Januari 2026) dengan musyawarah mufakat plus e-voting, biar terasa demokratis dan kekinian. 

Panggungnya semakin panas ketika Anies Baswedan hadir sebagai anggota kehormatan. Ia memberi orasi kebangsaan, dan diproyeksikan sebagai menu utama. Tanpa saus rahasia, tanpa kode keras, sambal ini dari awal sudah berlabel “Anies”.

Publik pun menyaksikan dua sambal disajikan berurutan. Yang satu pedasnya filosofis, yang satu pedasnya personal. Yang satu bicara Indonesia Reborn, yang satu langsung menunjuk calon presiden. 

Semua itu terjadi di negara yang, berdasarkan data Ditjen AHU Kemenkum per September 2024, sudah memiliki 76 partai politik terdaftar. Tambah dua di Januari 2026, genaplah 78 parpol resmi. Angka yang lebih cocok jadi katalog festival sambal Nusantara ketimbang daftar ideologi bangsa.

Ironinya makin nikmat ketika diingat. Dari 76 partai itu, hanya 18 yang ikut Pemilu 2024. Dari 18 itu, cuma delapan yang berhasil lolos ambang batas parlemen. Sisanya seperti sambal etalase, cantik, pedas di nama, tapi tak pernah dipesan. 

Namun fakta ini sama sekali tak menyurutkan semangat mendirikan partai baru. Di politik Indonesia, kegagalan bukan akhir cerita, ia hanya tanda ganti botol dan stiker.

Maka masuklah kita ke 2026 dengan optimisme. Gema Bangsa menyiapkan diri menuju Pemilu 2029, membangun struktur sejak 2025, mengklaim diri sebagai jawaban kegelisahan rakyat. 

Gerakan Rakyat memilih jalur gerakan sosial yang naik kelas, dengan target jelas mendorong Anies Baswedan ke Istana. Dua jalur, dua rasa, satu dapur bernama demokrasi Indonesia, kompornya menyala terus, minyaknya tak pernah diganti.

Rakyat pun tertawa sambil berkeringat, seperti penonton derby Manchester yang baru saja berteriak gol. Sendok di tangan, sambal di piring, kepala penuh spanduk. 

Di tengah hiruk-pikuk 78 partai, satu pertanyaan menggantung pedas di udara, ini kita sedang memilih masa depan bangsa, atau sedang ikut liga sambal nasional dengan sistem degradasi yang tak pernah benar-benar turun kasta?

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Penggunaan Gedung Kemenhut oleh PSI Berpotensi Melanggar Hukum

Minggu, 28 Juni 2026 | 00:26

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

Karier Gila-gilaan Mufli Budi Ananda: Dari Asisten Raffi Ahmad Jadi Komisaris Krakatau Posco

Senin, 29 Juni 2026 | 00:00

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

Tim Mawar dan Tambang

Minggu, 28 Juni 2026 | 04:59

UPDATE

KPK Panggil PNS dan Karyawan Swasta di Kasus Gratifikasi Mantan Sekjen MPR

Rabu, 01 Juli 2026 | 14:21

Kapolda Riau: Penghargaan Nugraha Sakanti Prestasi Seluruh Personel

Rabu, 01 Juli 2026 | 14:20

Mahfud MD Ajak Masyarakat Tetap Cintai Polri Seburuk Apa Pun Kinerjanya

Rabu, 01 Juli 2026 | 14:16

KPK Panggil Sejumlah Pejabat Imigrasi di Kasus Pemerasan Silmy Karim

Rabu, 01 Juli 2026 | 14:10

KPK Masih Periksa Bupati Kuansing Suhardiman Amby

Rabu, 01 Juli 2026 | 13:48

Audit Dugaan Penyimpangan Impor Sianida PPI, KPK dan BPKP Didesak Turun Tangan

Rabu, 01 Juli 2026 | 13:39

Komisi I DPR Ungkap Alasan Draf RUU KKS Belum Dibuka ke Publik

Rabu, 01 Juli 2026 | 13:35

Bos Maktour yang Juga Mertua Dito Ariotedjo Dipanggil KPK

Rabu, 01 Juli 2026 | 13:21

Masih Penyesuaian Sistem, Pajak Olshop di Marketplace Berlaku Mulai 1 Agustus

Rabu, 01 Juli 2026 | 13:16

Prabowo Layak Dicontoh Bagi Siapa Pun yang Ingin Jadi Presiden

Rabu, 01 Juli 2026 | 13:01

Selengkapnya