Berita

Gerakan menanam yang diprakarsai Yayasan Swatantra Pangan Nusantara (YSPN) di Buleleng, Bali. (Foto: Dokumentasi YSPN)

Nusantara

Ketahanan Pangan Berbasis Sekolah Sasar Etos Siswa Sejak Dini

MINGGU, 18 JANUARI 2026 | 23:12 WIB | LAPORAN: ADITYO NUGROHO

Gerakan menanam dalam rangka mewujudkan ketahanan pangan berbasis sekolah diprakarsai Yayasan Swatantra Pangan Nusantara (YSPN) di Buleleng, Bali beberapa waktu lalu.
 
Peluncuran gerakan ini di SD Negeri 3 Banjar Jawa, SMP Negeri 1 Singaraja, SMA Negeri 1 Singaraja, dan SMK Negeri 3 Singaraja dihadiri Direktur Jenderal Politik dan Pemerintahan Umum Kementerian Dalam Negeri, Akmal Malik yang juga merupakan salah satu Pembina YSPN. 

“Ini adalah program ketahanan pangan berbasis sekolah. Fokus kami adalah membangun budaya dan etos menanam sejak dini, yang menjadi fondasi kemandirian pangan,” ujar Akmal Malik dalam keterangan yang diterima redaksi di Jakarta, Minggu, 18 Januari 2026.


Ia mengatakan, Buleleng dipilih sebagai percontohan di Bali karena dinilai memiliki semangat dan potensi yang besar. Gerakan serupa sebelumnya telah dilakukan di lima provinsi lain.

“Kami ingin budaya menanam menjadi nilai baru di Bali. Di samping budaya seni yang sudah mendunia. Ini untuk menjawab kebutuhan pangan yang berkelanjutan,” jelasnya.

Sebagai dukungan, YSPN memberikan bantuan 200 bibit tanaman kepada masing-masing dari keempat sekolah tersebut. Bibit-bibit ini akan ditanam dan dirawat oleh siswa. 

Selain itu, diberikan juga bantuan sosial berupa beras 5 kilogram untuk siswa dari keluarga kurang mampu di setiap sekolah.

Sekretaris Daerah Kabupaten Buleleng Gede Suyasa, yang mewakili Bupati, menyatakan komitmen penuh pemerintah daerah. Ia mendorong partisipasi aktif setiap siswa. Prinsipnya adalah satu siswa, satu bibit. Dengan sekitar 1.200 siswa di lokasi ini, akan terkumpul 1.200 tanaman yang dirawat.

“Ini kontribusi nyata untuk stabilisasi pasokan dan harga pangan lokal,” ujarnya.

Ia memberikan contoh harga cabai yang sering melonjak tinggi saat hari raya keagamaan di Bali, yang bisa ditekan dengan gerakan produktif seperti ini. Jika siswa bisa panen dari tanaman mereka sendiri, tekanan harga di pasar dapat dikurangi. Suyasa juga memastikan bahwa program ini tidak akan berhenti pada penanaman saja.

“Pemerintah daerah melalui dinas terkait dan dengan dukungan kelompok petani muda, akan melakukan pendampingan berkelanjutan hingga tanaman menghasilkan,” tandas Suyasa.


Populer

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Bonatua akan Diperiksa Bareskrim terkait Dugaan Pemalsuan Dokumen Suket Gibran

Rabu, 04 November 2026 | 23:19

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Jokowi Jangan Mimpi PSI Jadi Partai Besar

Selasa, 03 November 2026 | 02:41

Boikot Raffi Ahmad-Willie Salim Cederai Nilai Demokrasi

Senin, 02 November 2026 | 20:11

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

KPK Bongkar Dugaan Akal-akalan Cukai Rokok PT Djarum Sejak 2010

Senin, 02 November 2026 | 15:43

UPDATE

IHSG Terkoreksi 1,97 Persen, Mayoritas Saham Berakhir di Zona Merah

Jumat, 06 November 2026 | 12:31

Ekonom Soroti Potensi Konflik Kepentingan CIO Danantara

Jumat, 06 November 2026 | 12:22

Menperin Ungkap Strategi Hadapi Tekanan Industri Tembakau

Jumat, 06 November 2026 | 12:11

Ketum Partai dan Pejabat yang Terlibat Penyadapan Presiden Harus Jadi Tersangka

Jumat, 06 November 2026 | 12:01

Di Tengah Polemik Ijazah, Pengaruh Politik Jokowi Masih Jadi Perhatian

Jumat, 06 November 2026 | 11:51

Bantah Narasi Deindustrialisasi, Menperin: Industri RI Tidak Gelap

Jumat, 06 November 2026 | 11:40

Indonesia-Somalia Bahas Peluang Kerja Sama Perikanan hingga Keamanan Maritim

Jumat, 06 November 2026 | 11:34

Cokbang Buka Peluang Ekonomi Baru dari Kakao Sabang

Jumat, 06 November 2026 | 11:30

KPK Periksa Komisaris PT Murakabi Media Indonesia di Kasus Asuransi Pelni

Jumat, 06 November 2026 | 11:29

Utang Paylater Masyarakat di Bank Tembus Rp31,5 Triliun hingga September 2026

Jumat, 06 November 2026 | 11:16

Selengkapnya