Berita

Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi), Meutya Hafid. (Foto: RMOL)

Politik

Gagal Berantas Judol, Meutya Hafid Diminta Mundur dari Menkomdigi

MINGGU, 18 JANUARI 2026 | 12:37 WIB | LAPORAN: AHMAD SATRYO

Kerja pemberantasan judi online (judol) di Kementeri Komunikasi dan Digital (Komdigi) dinilai gagal, dan berujung pada desakan kepada Meutya Hafid untuk mundur dari jabatan Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi).

Desakan itu datang dari Ketua Umum Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Al-Washliyah (PP GPA), Aminullah Siagian, lantaran menyaksikan pola pemberantasan jodul Komdigi tak efektif.

"Menkomdigi hanya sibuk memblokir domain (judol) hari ini, besok muncul seribu domain baru. Itu bukan strategi, itu reaksi panik," ujar Aminullah dalam keterangannuya, Minggu, 18 Januari 2026.


Dia memandang, judol bukan lagi kejahatan lokal melainkan kejahatan lintas negara, lintas rezim digital, dan lintas kepentingan ekonomi gelap, yang merusak sendi-sendi sosial masyarakat.

Aminullah menegaskan, maraknya judi online saat ini menunjukkan kegagalan serius negara dalam melindungi rakyat dari kejahatan digital terorganisir. Sementara, Presiden Prabowo Subianto telah berulang kali menyampaikan sikap tegas dan tanpa kompromi terhadap praktik judi online, dengan secara terbuka menyatakan perang terhadap kejahatan tersebut.

“Perintah Presiden Prabowo sangat jelas, terang, dan keras: berantas judi online tanpa toleransi. Namun fakta di lapangan, setelah hampir satu tahun Menkomdigi menjabat," tutur Aminullah. 

"Kita tidak melihat tanda-tanda keberhasilan yang nyata. Judi online justru semakin vulgar, semakin sistematis, dan semakin menjerat masyarakat kecil,”sambungnya.

Lebih lanjut, Aminullah juga menyoroti absennya diplomasi dan kerja sama internasional yang serius, khususnya dengan negara-negara yang dikenal sebagai pusat dan ‘surga’ industri judi online, seperti Kamboja.

“Kami tidak melihat adanya diplomasi digital yang agresif, tidak ada tekanan bilateral yang kuat, tidak ada kerja sama intelijen siber lintas negara yang masif. Negara seolah kalah langkah dari bandar judol. Ini ironi besar,” katanya.

“Setiap hari rakyat kecil kalah, setiap hari keluarga hancur, setiap hari generasi muda dirusak algoritma kejahatan. Jika negara absen atau lemah, maka pejabat yang bertanggung jawab tidak layak terus bertahan di kursi kekuasaan,” demikian Aminullah menuntut.

Populer

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Gagal Atasi Karhutla, Pecat Menhut Raja Juli!

Jumat, 16 Oktober 2026 | 23:30

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

UPDATE

Tak Hanya Mobil Listrik, Hybrid Juga Diusulkan Bebas Ganjil-Genap

Kamis, 22 Oktober 2026 | 12:31

Kabinet Watch Penting untuk Ruang Dialog Menteri dan Kelompok Kritis

Kamis, 22 Oktober 2026 | 12:25

Dumai Transshipment Hub: Ujian Geopolitik Maritim Indonesia

Kamis, 22 Oktober 2026 | 12:17

Laba Emiten Naik 15 Persen, Danantara Minta Investor Tak Terpaku Sentimen Pasar

Kamis, 22 Oktober 2026 | 12:16

Apple Siap Gelar Acara Pro and Tell Akhir Oktober 2026

Kamis, 22 Oktober 2026 | 12:09

12.000 Lowongan Kerja Dibuka di Jakarta untuk Semua Kalangan

Kamis, 22 Oktober 2026 | 12:08

BAZNAS dan Ruang Amal Indonesia Antarkan 47 Mustahik ke Dunia Kerja

Kamis, 22 Oktober 2026 | 12:06

KPK Bakal Secepatnya Kembali Panggil Nusron Wahid

Kamis, 22 Oktober 2026 | 11:48

Wacana Dumai Transshipment Hub Perlu Dukungan, Pelindo Harus Lebih Bertaring di Selat Malaka

Kamis, 22 Oktober 2026 | 11:47

Terancam Turun Kelas, Danantara Akui Sentimen MSCI Tak Bisa Dianggap Enteng

Kamis, 22 Oktober 2026 | 11:33

Selengkapnya