Berita

Momen pertemuan Prabowo Subianto dan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) sebelum Pilpres 2024. (Foto: Istimewa)

Publika

Prabowo Hampir Pasti Pilih AHY, Bukan Gibran

MINGGU, 04 JANUARI 2026 | 06:13 WIB

KALAU melihat orang-orang di sekitar Presiden Prabowo Subianto saat ini, sebut saja Teddy Indra Wijaya misalnya, maka wajar kalau orang-orang di sekitar Joko Widodo (Jokowi), termasuk Jokowi sendiri, khawatir dengan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). 

SBY tak ngapa-ngapain saja, Jokowi dan orang-orangnya mungkin sudah agak khawatir. Apalagi kalau SBY sudah mulai bermanuver. Ini pertarungan yang sengit, mungkin juga penuh intrik.

Prabowo hampir pasti memilih Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) ketimbang Gibran Rakabuming Raka, kalau melihat orang-orang di sekitarnya saat ini. Sebab, gagah, muda, rapi, dan pintar. 


Konon Gibran, setelah jadi Wapres, pernah diingatkan Prabowo, supaya mengubah penampilannya, yang biasanya terlihat agak slengean. Makanya tak heran, Prabowo sering memberikan tugas khusus kepada AHY, malah hingga tugas ke luar negeri.

Saat Jokowi mengatakan ada orang besar di balik Roy Suryo cs, yang menggugat ijazahnya, dan itu tak sekali dua kali, orang langsung mengaitkan kepada SBY atau Demokrat. 

Apalagi dalam kasus ijazah Jokowi itu ijazah Gibran pun dipersoalkan. Roy Suryo cs menyimpulkan bahwa Gibran tak memiliki ijazah SMA. Seolah-olah jika Gibran yang disudutkan, maka AHY yang diuntungkan.

Tanpa disebutkan pun, sebetulnya SBY atau Demokrat sudah menjadi tertuduh sejak awal terkait kasus ijazah Jokowi ini. Apalagi dipertegas pula oleh para relawan Jokowi seperti Silfester Matutina dan Ade Darmawan. 

Meski pernah dibantah Jokowi, termasuk juga Kaesang Pangarep, tapi itu seperti formalitas saja. Arahnya tak bisa dibelokkan. Ade Armando pun agak membenarkan.

Memang harus diakui, SBY atau Demokrat memiliki dendam politik sendiri terhadap Pemerintahan Jokowi. 

Hampir saja Demokrat diambil alih oleh Moeldoko, yang notabene waktu itu Kepala Staf Kepresidenan Jokowi. Tak satu patah kata pun yang keluar dari mulut Jokowi untuk menghentikan upaya Moeldoko mengambil alih Demokrat. SBY waktu itu berada di tepi jurang sejarah.

Jokowi seperti ingin menebusnya di ujung. AHY sempat ditunjuk menjadi Menteri ATR/BPN. Tapi Moeldoko tak pernah diberikan sanksi. Ia tetap menjabat Kepala Staf Kepresidenan sampai selesai. Jadi, tak bisa dianggap sebagai kebaikan atau balasan terhadap SBY. Apalagi itu terjadi setelah Demokrat ikut memenangkan Gibran. Masa-masa sulit dilewati SBY tanpa bantuan siapapun.

Kendati diakui hubungan SBY dan Jokowi sangat baik, seperti dikatakan Andi Arief saat memberi peringatan pada pihak-pihak yang mengaitkan kasus ijazah Jokowi dengan SBY, tapi agaknya Demokrat sedang memulai manuver politik di awal tahun baru ini. 

Manuver politik Demokrat itu seperti mencontoh manuver politik yang dilakukan Jokowi terhadap kasus ijazahnya itu sendiri.

Seperti manuver politik Jokowi, SBY juga memulai manuver politiknya awal tahun ini dengan melakukan somasi terhadap pihak-pihak yang mengaitkan dirinya dengan kasus ijazah Jokowi. 

Setelah somasi biasanya akan dilanjutkan dengan melaporkan pihak-pihak terkait itu kepada Polisi. Kalau akhirnya sampai di sini, maka kita tak tahu lagi bagaimana akhirnya. Semua seperti sudah saling berhimpitan tak karuan. Makin dinamis.

Tapi agaknya kubu Jokowi tak tinggal diam. Mereka seperti tak rela SBY meniru langkah politik Jokowi. SBY langsung dicap cemen. Baru segitu saja, sudah main somasi, main tempuh jalur hukum. 

Lihat Jokowi. Dihina macam-macam tetap tenang-tenang saja. Dihina ijazah palsu, baru tempuh jalur hukum. Apa harus nunggu ada yang menuduh ijazah SBY palsu dulu, baru bisa tempuh jalur hukum? Itulah sulitnya, kalau orang tak bercermin.

Erizal
Direktur ABC Riset & Consulting 

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

UPDATE

Suap ke Pejabat ATR/BPN Berawal PT Summarecon Agung Tbk Caplok Lahan Warga

Selasa, 29 September 2026 | 14:21

Prabowo Panggil Mendikti Saintek hingga Kepala BNN, Bahas Pengentasan Narkoba

Selasa, 29 September 2026 | 14:18

BI Ungkap Biang Kerok Rupiah Jeblok ke Rp18.000 per Dolar AS

Selasa, 29 September 2026 | 14:11

Pimpinan DPR Setuju Komisi XIII Periksa Lapas Cibinong

Selasa, 29 September 2026 | 14:00

Tangis Mahathir Mohamad Pecah Saat Mengantar Istri ke Peristirahatan Terakhir

Selasa, 29 September 2026 | 13:52

Prabowo-Megawati Bakal Bertemu Lagi, Dasco: Nasi Gorengnya Belum Keluar

Selasa, 29 September 2026 | 13:51

Sistem Pemungutan Pajak Digital Luar Negeri sudah Beroperasi

Selasa, 29 September 2026 | 13:48

Bitcoin Masih Stabil Meski Harga Minyak Naik Tajam

Selasa, 29 September 2026 | 13:45

Pekan Ini DPR Bertemu Parpol Non-Parlemen Bahas RUU Pemilu

Selasa, 29 September 2026 | 13:36

KRI Sriwijaya-100 Bakal Dimodifikasi Dukung Penanganan Bencana

Selasa, 29 September 2026 | 13:36

Selengkapnya