Berita

Presiden Prabowo Subianto di kantor Kejagung, Jakarta, Rabu, 24 Desember 2025 (Foto: Biro Pers Sekretariat Presiden)

Publika

Misteri Kekuatan Asing yang Selalu Disalahkan Prabowo

SENIN, 29 DESEMBER 2025 | 04:20 WIB

SEBAGAI rakyat, ada baiknya sering menyimak pidato-pidato Presiden Prabowo Subianto. Kalian akan tergugah, sekaligus muncul pertanyaan. Sebab, penguasa negeri ini sering menyebut kekuatan asing. 

Setiap kali Prabowo Subianto naik podium, publik sudah bisa menebak satu hal, akan ada pihak asing yang muncul sebagai tokoh antagonis. 

Entah itu kekuatan asing, antek asing, atau pihak asing yang tidak ingin Indonesia maju. 


Kata-kata itu meluncur seperti mantra sakti, seolah-olah ada sosok bayangan internasional yang setiap malam duduk di ruang gelap, merancang skenario agar Indonesia tetap miskin, lemah, dan penuh defisit. 

Ironisnya, di tahun 2025 saja Prabowo tercatat melakukan 34 kali kunjungan ke luar negeri. Apakah ia sedang bernegosiasi dengan musuh yang ia kutuk, atau justru sedang berfoto bersama mereka sambil tersenyum diplomatis?

Mari kita lihat data. Pada 24 Desember 2025, di Kejaksaan Agung, Prabowo berpidato lantang menyerahkan uang sitaan korupsi Rp6,62 triliun. 

Di sana ia menegaskan, ada kekuatan asing yang merugikan Indonesia. Ia tidak peduli jika ditertawakan. Ia menambahkan, ada pihak asing yang tidak menghendaki Indonesia menjadi negara maju. 

Pernyataan ini bukan hal baru. Sejak lama, Prabowo konsisten menyebut asing sebagai biang kerok kebocoran anggaran dan perampokan sumber daya alam. Namun, ia tidak pernah menyebut nama negara. 

Tidak ada Amerika Serikat, tidak ada China, tidak ada Qatar. Hanya asing yang misterius, seperti hantu politik yang bisa dipakai kapan saja untuk menakut-nakuti rakyat.

Sekarang mari kita bandingkan dengan kenyataan. Sepanjang 2025, Prabowo melakukan lawatan ke Doha, Qatar pada April, lalu rangkaian kunjungan ke Timur Tengah, Amerika Latin, dan Eropa pada Juli. 

Pada September ia hadir di Sidang Umum PBB ke-80 di New York, Amerika Serikat, dan dalam enam hari mengunjungi empat negara sekaligus. 

Oktober, Prabowo muncul di Seoul, Korea Selatan, menghadiri KTT APEC dan bertemu Perdana Menteri Selandia Baru. Terbaru beliau berkunjung Pakistan dan Rusia. 

Totalnya, lebih dari 10 negara dikunjungi, dengan catatan resmi menyebut angka 34 kali perjalanan luar negeri. 

Apakah kekuatan asing itu sebenarnya adalah negara-negara yang ia kunjungi? Atau justru ia sedang bernegosiasi dengan mereka sambil diam-diam mengakui bahwa tanpa asing, Indonesia tidak bisa berdiri tegak di panggung global?

Kita belum selesai. Tahun 2026, Prabowo merencanakan utang baru sebesar Rp781,8 triliun untuk menutup defisit APBN Rp638,8 triliun, setara 2,48 persen dari PDB. 

Instrumen utang itu terdiri dari Surat Berharga Negara Rp749,2 triliun dan pinjaman luar negeri serta dalam negeri Rp32,7 triliun. 

Mari kita tertawa bersama, di satu sisi Prabowo berpidato lantang melawan asing, di sisi lain ia justru berutang pada mereka. Apakah ini bentuk perlawanan? Atau justru bentuk cinta yang tak diakui? 

Nuan bayangkan, seorang tokoh yang berjanji “siap mati untuk rakyat Indonesia” ternyata harus hidup dengan napas yang dipompa oleh kredit asing. Tapi, begitulah kenyataan fiskal.

Publik pun dibuat penasaran. Siapa sebenarnya kekuatan asing itu? Apakah sekelompok bankir internasional yang tertawa di balik layar? 

Apakah negara-negara yang menerima kunjungan diplomatik Prabowo? Ataukah sekadar sosok imajiner yang diciptakan untuk membakar semangat nasionalisme? 

Jawabannya tidak pernah jelas, dan mungkin tidak akan pernah jelas. Justru di situlah letak kekuatan retorika ini. Ia tidak perlu menunjuk siapa pun, cukup menyebut “asing” dan rakyat akan merasa ada musuh bersama. 

Sementara itu, Prabowo tetap terbang ke luar negeri, menandatangani kerja sama, berutang, dan berfoto bersama para pemimpin dunia. 

Sebuah paradoks yang begitu indah, begitu satir, dan begitu hiperbolis, hingga kita semua bertanya-tanya: apakah kekuatan asing itu nyata, atau hanya bayangan yang sengaja dipelihara untuk membuat rakyat terus waspada? 

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Penggunaan Gedung Kemenhut oleh PSI Berpotensi Melanggar Hukum

Minggu, 28 Juni 2026 | 00:26

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

Karier Gila-gilaan Mufli Budi Ananda: Dari Asisten Raffi Ahmad Jadi Komisaris Krakatau Posco

Senin, 29 Juni 2026 | 00:00

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

Tim Mawar dan Tambang

Minggu, 28 Juni 2026 | 04:59

UPDATE

KPK Panggil PNS dan Karyawan Swasta di Kasus Gratifikasi Mantan Sekjen MPR

Rabu, 01 Juli 2026 | 14:21

Kapolda Riau: Penghargaan Nugraha Sakanti Prestasi Seluruh Personel

Rabu, 01 Juli 2026 | 14:20

Mahfud MD Ajak Masyarakat Tetap Cintai Polri Seburuk Apa Pun Kinerjanya

Rabu, 01 Juli 2026 | 14:16

KPK Panggil Sejumlah Pejabat Imigrasi di Kasus Pemerasan Silmy Karim

Rabu, 01 Juli 2026 | 14:10

KPK Masih Periksa Bupati Kuansing Suhardiman Amby

Rabu, 01 Juli 2026 | 13:48

Audit Dugaan Penyimpangan Impor Sianida PPI, KPK dan BPKP Didesak Turun Tangan

Rabu, 01 Juli 2026 | 13:39

Komisi I DPR Ungkap Alasan Draf RUU KKS Belum Dibuka ke Publik

Rabu, 01 Juli 2026 | 13:35

Bos Maktour yang Juga Mertua Dito Ariotedjo Dipanggil KPK

Rabu, 01 Juli 2026 | 13:21

Masih Penyesuaian Sistem, Pajak Olshop di Marketplace Berlaku Mulai 1 Agustus

Rabu, 01 Juli 2026 | 13:16

Prabowo Layak Dicontoh Bagi Siapa Pun yang Ingin Jadi Presiden

Rabu, 01 Juli 2026 | 13:01

Selengkapnya