Berita

Muhammad Kerry Adrianto Riza. (Foto: Istimewa)

Publika

Koridor Hukum Retak dan Bahaya Kriminalisasi Bisnis

JUMAT, 12 DESEMBER 2025 | 15:04 WIB

DALAM setiap industri berisiko tinggi seperti migas, koridor hukum seharusnya menjadi pagar yang menjaga keputusan bisnis tetap aman, bukan jerat yang tiba-tiba menutup dan menelan para pengambil keputusan. 

Namun dalam beberapa tahun terakhir, pola kriminalisasi terhadap keputusan bisnis di sektor migas, BUMN energi, dan industri strategis lainnya semakin tampak jelas.

Kasus terbaru yang menimpa Muhammad Kerry Adrianto Riza hanyalah satu simpul dari rangkaian panjang problem struktural itu. 


Ketika kami menelusuri preseden seperti Karen Agustiawan, Yenni Andayani, Hari Karyulianto, hingga Ira Puspadewi, dan membandingkannya dengan skandal besar seperti kasus Timah, terlihat bahwa Indonesia sedang berhadapan dengan fenomena besar yang lebih berbahaya dari sekadar dugaan korupsi:

Kerancuan antara risiko bisnis dan tindak pidana.

1. Koridor Hukum Migas: Kerangka yang Ada, tapi Tidak Dipahami

Hukum migas di Indonesia sebenarnya memiliki fondasi jelas: UU Migas, PSCs (Production Sharing Contracts), aturan SKK Migas, tata kelola BUMN, business judgment rule, dan mekanisme audit berlapis (internal, BPK, BPKP, Kementerian).

Koridor ini dibuat untuk satu tujuan: melindungi keputusan teknis yang diambil berdasarkan data, risiko pasar, dan kondisi bisnis saat itu.

Namun dalam praktik penegakan hukum: Keputusan bisnis dianggap keputusan moral. Risiko dianggap kerugian. Perbedaan administrasi dianggap niat jahat.

Padahal dalam industri migas, kontrak tanpa risiko adalah utopia. Ini industri miliaran dolar. Tidak ada proyek yang steril dari ketidakpastian.

2. Kasus Kerry: Ketika Administrasi Disulap Jadi Delik

Dalam dakwaan Kerry, persoalan krusialnya berada pada formalitas dan prosedur. Namun dokumen menunjukkan bahwa: kontrak real, fasilitas ada, operasi berjalan, manfaat ekonomis tercapai.

Pertanyaannya: Apakah penyimpangan administratif dapat otomatis menjadi korupsi?

Jawaban dalam hukum: tidak. Jawaban dalam praktik: sering kali iya.

Inilah titik bahaya kriminalisasi bisnis.

3. Pelajaran dari Kasus Karen Agustiawan: Business Judgment Rule Tak Berfungsi

Dalam kasus Karen Agustiawan, kami melihat bagaimana keputusan investasi LNG yang rasional di waktu itu kemudian dibaca sebagai kriminal bertahun-tahun kemudian.

Padahal, doktrin business judgment rule menyatakan bahwa: Keputusan bisnis tidak boleh dipidana sepanjang diambil secara wajar, berdasarkan informasi memadai, tanpa konflik kepentingan.

Fakta bahwa Karen bisa divonis, bebas, lalu dijerat lagi menunjukkan bahwa perlindungan hukum terhadap pejabat migas lemah, dan aparat cenderung mengadili keputusan bisnis dengan kaca mata retrospektif.

4. Kasus Yenni Andayani dan Hari Karyulianto: Tafsir Harga Dijadikan Alat Jerat

Yenni dan Hari menghadapi pola serupa: semua transaksi real, tidak ada aset fiktif, harga diperdebatkan pasca-fakta, pejabat operasional disalahkan, dan pengambil kebijakan hilang dari radar.

Dalam dokumen yang kami telaah, tampak bahwa aparat memperlakukan future loss atau loss of opportunity sebagai kerugian nyata. Padahal, kerugian negara hanya dapat dihitung ketika uang negara benar-benar hilang.

Inilah akar kriminalisasi bisnis: perbedaan tafsir harga dianggap korupsi.

5. Kasus Ira Puspadewi di ASDP: Sistem Tak Disentuh, Eksekutor yang Dipidana

Kasus Ira menunjukkan betapa rentannya direksi BUMN. Sekalipun proyek berjalan dan output tercapai, aparat lebih senang memeriksa tanda tangan di bawah, bukan sistem di atas.

Seorang pejabat di Kemenhub bahkan berkata: “Yang kena biasanya orang yang paling mudah dijangkau.”

Sementara sistem pengawasan, komisaris, dan kementerian teknis jarang diperiksa secara komprehensif.

6. Mega-Kasus Timah: Ketika Kerugian Raksasa Justru Ditangani Secara Selektif

Jika kasus Kerry dan lainnya digempur habis-habisan, kasus Timah justru menunjukkan anomali besar: kerugian ratusan triliun rupiah, rantai ilegal panjang, keterlibatan multi-level, kerusakan lingkungan luar biasa.

Namun penyidik hanya menjerat sebagian pelaku, bukan seluruh mata rantai.

Ada paradoks: kasus kecil dimaksimalkan, kasus besar diminimalkan.

Kontras ini memperlihatkan ketidakkonsistenan koridor penegakan hukum.

7. Bahaya Sistemik: Aparat Mengintervensi Ruang Keputusan Bisnis

Jika tren ini berlanjut, maka: setiap keputusan direksi menjadi potensi kriminal, pejabat takut menandatangani kontrak, BUMN kehilangan SDM berkualitas, investor asing minggat, industri strategis stagnan.

Pada titik tertentu, kriminalisasi bisnis lebih berbahaya daripada korupsi itu sendiri.

Kesimpulan: Koreksi Koridor Hukum Migas Adalah Mendesak

Dari Kerry hingga Karen, dari Yenni hingga Ira, dan dari Pertamina hingga Timah, narasinya sama: Kita gagal membedakan risiko bisnis dengan niat jahat.

Koridor hukum migas perlu diperkuat melalui:

1. Penerapan tegas business judgment rule.

2. Audit yang bersifat rekomendatif, bukan represif.

3. Pemisahan tegas antara kerugian korporasi dan kerugian negara.

4. Larangan mempidanakan perbedaan tafsir administratif.

5. Penegakan hukum yang menyeluruh, bukan selektif.

Kasus Kerry bukan hanya soal satu orang. Ini soal masa depan industri energi, keberanian mengambil keputusan, dan kesehatan iklim investasi nasional.

Jika koridor hukum tidak diperbaiki, maka setiap orang yang menandatangani keputusan strategis hari ini sedang memegang pena yang bisa mengantarnya ke ruang sidang sepuluh tahun ke depan.

Kenny Wiston
Advokat

Populer

Keputusan Bisnis Dipidanakan, Nicko Widjaja Tulis Surat dari Rumah Tahanan

Jumat, 22 Mei 2026 | 17:34

Raksasa Telekomunikasi Ini Bakal Dibubarkan Danantara

Senin, 25 Mei 2026 | 08:33

PT PMM Keberatan 15 Kontainer Mineral Ekspor Dibongkar Aparat

Minggu, 24 Mei 2026 | 16:43

Cegah Kabur, Segera Eksekusi Razman Nasution!

Kamis, 21 Mei 2026 | 05:04

40 Warga Binaan Sumsel Dipindah ke Nusakambangan

Jumat, 22 Mei 2026 | 22:33

PT DSI Resmi jadi BUMN dan Siap Buka Rekrutmen

Senin, 25 Mei 2026 | 23:14

Jokowi Boleh Keliling Indonesia Asal Tunjukkan Ijazah Asli

Rabu, 20 Mei 2026 | 01:33

UPDATE

RI Peringkat 18 Kasus Anti-Dumping, Kalah Agresif dari AS dan India

Selasa, 26 Mei 2026 | 18:19

Publik Diajak Terlibat Awasi Kualitas Makanan Lewat Aplikasi Reviu Pelaksanaan MBG

Selasa, 26 Mei 2026 | 18:04

Keluarga Terdakwa Kasus Pembunuhan di Pemalang Ngadu ke Legislator Nasdem

Selasa, 26 Mei 2026 | 17:52

Lembang Berpeluang Diserbu Wisatawan saat Long Weekend

Selasa, 26 Mei 2026 | 17:33

Kemlu RI Rayakan Africa Day 2026 Lewat Laga Persahabatan Diplomatik

Selasa, 26 Mei 2026 | 17:29

Sudah Bertransformasi, Penguatan Literasi Digital jadi Kunci Cegah TPPO

Selasa, 26 Mei 2026 | 17:26

Salat Id di Prancis, Prabowo Cetak Sejarah

Selasa, 26 Mei 2026 | 17:22

RI-Thailand Perkuat Hubungan Bisnis dan Kerja Sama Hukum

Selasa, 26 Mei 2026 | 16:54

Haji Mabrur Jadi Duta Antikorupsi

Selasa, 26 Mei 2026 | 16:50

Prabowo Dijadwalkan Salat Iduladha Bersama Diaspora RI di Paris

Selasa, 26 Mei 2026 | 16:37

Selengkapnya