Berita

Kerusakan di wilayah Lubuk Minturun, Koto Tengah, Kota Padang, Sumatera Barat pada Kamis, 27 November 2025. (Foto: Humas BNPB)

Bisnis

Dua Pekan Bencana, Kebijakan Fiskal-Moneter Dinilai Lambat untuk Sumatera

SENIN, 08 DESEMBER 2025 | 14:55 WIB | LAPORAN: ALIFIA DWI RAMANDHITA

Respons otoritas fiskal dan moneter terhadap bencana di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat dinilai lamban, meski bencana telah berlangsung hampir dua pekan dan menimbulkan kerusakan besar di tiga provinsi tersebut.

Guru Besar Ekonomi Universitas Andalas, Prof. Syafruddin Karimi, menyoroti tidak adanya pernyataan tegas maupun kerangka kebijakan yang diumumkan pemerintah pusat. 

Menurutnya, hingga hari ke-12, publik hanya mendengar komentar normatif tanpa arah kebijakan yang jelas.


“Publik tidak butuh jargon teknis atau jawaban singkat bahwa target pertumbuhan ekonomi tidak terganggu. Publik butuh bukti bahwa negara memperlakukan bencana ini sebagai guncangan makroekonomi yang serius,” kata Syafruddin kepada RMOL pada Senin, 8 Desember 2025.

Ia menjelaskan, skala kerusakan yang ditimbulkan, mulai dari infrastruktur yang hancur, hilangnya ribuan rumah, sawah dan ladang yang lumpuh, hingga ratusan ribu warga yang mengungsi berdampak langsung pada ekonomi masyarakat. 

“Kalau itu bukan macroeconomic shock, lalu apa lagi definisinya,” tegasnya.

Syafruddin menilai otoritas fiskal seharusnya menjadi pihak pertama yang menyatakan sikap. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, menurutnya, perlu segera mengumumkan paket fiskal darurat untuk pemulihan Sumatera, dan disertai realokasi belanja APBN yang kurang prioritas.

“Kementerian Keuangan perlu mengumumkan paket fiskal darurat yang secara eksplisit mengakui bahwa APBN akan menanggung tambahan beban untuk pemulihan tiga provinsi terdampak. Realokasi belanja yang kurang prioritas harus mengalir ke belanja bencana dan rekonstruksi, serta penyaluran dana ke daerah terdampak perlu dipercepat, bukan sekadar direncanakan di atas kertas,” tegasnya.

Di sisi lain, Bank Indonesia dan OJK, kata Syafruddin juga harus menjamin bank di wilayah bencana memiliki likuiditas cukup dan tidak menarik rem mendadak terhadap debitur yang sedang terpuruk.

“Pemerintah pusat perlu menetapkan paket pendanaan khusus untuk perbaikan jalan, jembatan, jaringan listrik, irigasi, fasilitas kesehatan, dan sekolah di tiga provinsi. Pemulihan sekitar puluhan ribu hektare sawah yang rusak harus berlangsung tanpa membebani petani yang baru saja kehilangan sumber hidupnya,” tuturnya.

Selain itu, pemerintah juga perlu menyiapkan dukungan modal kerja bagi UMKM, restrukturisasi tagihan pajak tertentu, dan insentif bagi perusahaan yang mempertahankan tenaga kerja di wilayah terdampak.

“Pemerintah pusat perlu hadir sebagai bagian dari agenda mengerem lonjakan pengangguran dan kebangkrutan,” tandasnya.

Populer

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

Jusuf Hamka Siapkan Rp5 Triliun untuk Borong Saham

Minggu, 18 Oktober 2026 | 11:21

Mantan Kadivhubinter Polri Napoleon Bonaparte Meninggal Dunia

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:30

UPDATE

Usai DPR, Guru Besar IPB Desak BPK Evaluasi WTP Kemenhut

Rabu, 28 Oktober 2026 | 08:24

HLN ke-81: PLN Perkuat Listrik sebagai Penggerak Kehidupan dan Kemandirian Bangsa

Rabu, 28 Oktober 2026 | 07:47

IKA FH Undip Gelar Konsolidasi, Ini yang Dibahas

Rabu, 28 Oktober 2026 | 06:55

Tolak Usul Luhut, PKS Dukung Sikap Pemerintah Terkait Kerugian Negara

Rabu, 28 Oktober 2026 | 06:25

Telkom Perkuat Transparansi Ekosistem Pengadaan Digital Nasional Lewat SPSE V5

Rabu, 28 Oktober 2026 | 05:57

Konser Andrea Bocelli Turut Serukan Solidaritas Palestina Tuai Apresiasi

Rabu, 28 Oktober 2026 | 05:28

Menanti Negarawan di Tengah Oase Pragmatisme

Rabu, 28 Oktober 2026 | 04:55

InfraNexia Perkuat Kesiapan Infrastruktur Dukung Pertumbuhan

Rabu, 28 Oktober 2026 | 04:25

Revitalisasi Intisab Siapkan Kepemimpinan Menuju Jakarta Kota Global

Rabu, 28 Oktober 2026 | 03:59

Kemerdekaan yang Belum Selesai: Dari Cita-Cita 1945 ke Amarah Gen Z

Rabu, 28 Oktober 2026 | 03:30

Selengkapnya