Berita

Ilustrasi

Publika

Warisan Salah Arah dari Proyek Ambisius Jokowi

SABTU, 18 OKTOBER 2025 | 15:32 WIB | OLEH: PAUL EMES*

KETIKA sejarah kelak menulis bab tentang dekade infrastruktur besar-besaran di Indonesia, barangkali satu pelajaran paling mahal yang akan diingat adalah bahwa pembangunan tanpa logika fiskal hanyalah pencitraan yang menyamar sebagai kemajuan. 

Dari proyek kereta cepat Jakarta–Bandung hingga LRT Palembang dan jalur LRT Kelapa Gading, warisan kebijakan era Jokowi kini menunjukkan wajah sebenarnya: ambisi yang melampaui nalar, dan utang yang melampaui kemampuan.

Kini, keberanian Menteri Purbaya menolak penggunaan APBN untuk membayar utang proyek kereta cepat menjadi penanda penting. Ia bukan sekadar menjaga neraca negara, tapi juga mengembalikan pembangunan ke rel akal sehat. 


Dan menariknya, sikap ini selaras dengan logika fiskal dan pandangan Presiden Prabowo Subianto, yang jauh sebelum berkuasa pernah menegaskan: “Pembangunan harus berdasar pada kebutuhan rakyat, bukan sekadar proyek untuk foto peresmian.”

Warisan Politik Ambisi dan Distorsi Nalar

Proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung lahir bukan dari rasionalitas ekonomi, tetapi dari hasrat pencitraan politik. Jokowi kala itu menjanjikan bahwa proyek tersebut tidak akan memakai satu Rupiah pun dari APBN, sebuah janji yang memberi kesan efisiensi dan kemandirian nasional. 

Namun kini, kenyataannya berbalik arah. Biaya membengkak, utang meningkat, dan proyek menjadi beban fiskal.

Ekonom seperti Rizal Ramli dan Faisal Basri sejak awal mengingatkan bahwa proyek itu tidak memiliki basis kelayakan ekonomi yang kuat. 

“Itu proyek prestige, bukan kebutuhan,” ujar Rizal Ramli suatu kali. Faisal Basri menambahkan, “Biayanya tak akan balik modal bahkan hingga kiamat.”

Namun kritik yang lahir dari nalar pembangunan itu ditolak oleh euforia pencitraan. Infrastruktur diubah menjadi simbol politik, bukan sarana produktivitas. Pemerintah lebih sibuk membangun “gambar besar” ketimbang menghitung beban jangka panjang yang ditimbulkannya.

Jonan yang Absen, Purbaya yang Tegas

Kritik internal pun sebenarnya sudah muncul dari dalam kabinet sendiri. Ignasius Jonan, Menteri Perhubungan saat itu, memilih tidak hadir dalam acara groundbreaking kereta cepat sebuah sikap diam yang berbicara keras.

Ia menilai bahwa secara teknis dan fiskal, proyek itu tidak layak untuk jarak Jakarta-Bandung yang hanya 142 kilometer.

Ketika para teknokrat diam, infrastruktur menjadi panggung retorika. Janji “tanpa APBN” berubah menjadi jargon tanpa dasar hukum fiskal yang jelas. Hingga akhirnya, apa yang dulu dijanjikan sebagai proyek korporasi kini mencari nafas lewat kas negara.

Maka ketika Menteri Purbaya hari ini menolak menjadikan APBN sebagai penambal utang, ia sesungguhnya sedang memulihkan luka lama kebijakan yang salah arah. 

Ia menegaskan batas moral dan fiskal: bahwa uang negara tidak boleh digunakan untuk menebus kesalahan politik masa lalu.

Prabowo dan Nalar Pembangunan yang Disatukan

Jauh sebelum menjadi presiden, Prabowo Subianto kerap melontarkan kritik tajam terhadap proyek-proyek infrastruktur era Jokowi yang tak memiliki logic of need. Dalam berbagai forum, ia menyinggung proyek LRT Palembang dan LRT Kelapa Gading yang “dibangun bukan karena kebutuhan transportasi mendesak, tetapi karena nafsu menunjukkan kemajuan semu.”

Kritik itu bukan sekadar oposisi politik melainkan seruan agar kebijakan pembangunan kembali tunduk pada logika ekonomi rakyat. Dalam pandangan Prabowo, proyek publik harus memenuhi prinsip kebutuhan, keberlanjutan, dan efisiensi. Tak ada gunanya membangun kereta cepat bila ujungnya hanya mengangkut beban utang.

Kini, saat ia memimpin pemerintahan, logika itu menemukan kesinambungan. Langkah Menteri Purbaya dan arah kebijakan Menteri Keuangan saat ini menggambarkan perubahan paradigma: dari pembangunan pencitraan menuju pembangunan berkelanjutan berbasis rasionalitas fiskal. 

Logika Pembangunan vs Politik Pencitraan

Dalam ilmu ekonomi politik pembangunan, ada dua logika yang kerap berseberangan.

Pertama, logika pembangunan rasional, yang berangkat dari kebutuhan riil, studi kelayakan, dan efisiensi fiskal.

Kedua, logika pencitraan politik, yang mengutamakan simbol dan persepsi publik ketimbang angka dan analisis.

Era Jokowi terlalu sering menukar yang pertama dengan yang kedua.

Proyek infrastruktur menjadi alat legitimasi kekuasaan, bukan alat produktivitas. Ketika hasilnya tak sesuai harapan, APBN diminta menanggung konsekuensinya.

Inilah mengapa sikap Purbaya penting bukan hanya untuk menolak pembayaran utang kereta cepat, tapi untuk mengakhiri tradisi pembangunan berbasis pencitraan. Ia mengembalikan logika pembangunan ke ruang yang seharusnya: rasional, terukur, dan berpihak pada keberlanjutan fiskal.

Masuk Dalam Jebakan Utang China (China Debt Trap)

Masalah kereta cepat bukan hanya soal domestik. Skema pendanaannya membuka pintu pada apa yang disebut banyak analis sebagai  jebakan utang China (China Debt Trap) pola pembiayaan yang menjerat negara-negara berkembang lewat pinjaman besar untuk proyek infrastruktur berisiko tinggi.

Kritik ini pernah diulas oleh ekonom Faisal Basri: “Jangan sampai kita bangga dengan proyek megah, tapi tak sadar telah menjadi penyewa tanah sendiri di negeri sendiri.” Kini, ironi itu menjadi nyata.

Purbaya dengan tegas menolak menjadikan APBN sebagai penyelamat karena ia tahu, setiap Rupiah yang keluar hari ini berarti beban bagi anak bangsa besok.

Dari Prabowo ke Purbaya: Narasi yang Menyatu

Sikap fiskal yang kini diambil pemerintah bukan sekadar kebijakan teknis, tapi pernyataan ideologis: bahwa pembangunan bukan sekadar deretan proyek fisik, melainkan keputusan moral.

Presiden Prabowo mewarisi banyak proyek yang tidak seimbang antara ambisi dan realitas. Namun dengan komposisi kabinet yang menekankan rasionalitas ekonomi, ia mencoba membangun keseimbangan baru di mana pembangunan tidak lagi menjadi alat politik, melainkan alat kesejahteraan.

Keberanian Purbaya hari ini memperlihatkan sinyal itu dengan jelas. Ia menolak tekanan untuk mengorbankan kas negara demi proyek masa lalu yang keliru arah. Dan dengan itu, ia sedang menegaskan pergeseran zaman: dari pembangunan berbasis ego ke pembangunan berbasis logika.

Akal Sehat Sebagai Warisan

Dalam dunia politik kekuasaan yang kian dipenuhi pencitraan, keberanian untuk berpihak pada akal sehat adalah langkah revolusioner.

Proyek kereta cepat seharusnya menjadi pelajaran bahwa pembangunan tidak bisa dipaksakan dengan retorika politik, dan bahwa utang bukan prestasi.

Mungkin inilah warisan paling penting dari masa transisi antara dua era kepemimpinan: ketika satu generasi memuliakan kecepatan dan citra, dan generasi berikutnya mencoba mengembalikannya kepada logika dan tanggung jawab.

Karena pada akhirnya, sejarah hanya berpihak kepada mereka yang berani memilih kewarasan  bukan kemegahan.

Pemerhati Kebijakan Publik

Populer

Kematian Penjaga Rumah Febrie Harus Diusut Tuntas

Senin, 27 Juli 2026 | 19:53

Jubir IKN Troy Pantouw Sempat Telepon Keluarga Sehari Sebelum Ditemukan Meninggal

Minggu, 26 Juli 2026 | 20:58

Putusan Eksepsi Dokter Tifa Berujung Antiklimaks

Minggu, 02 Agustus 2026 | 05:20

Oknum Brimob Jadi Tersangka, KPK Pastikan Sanksi Pidana hingga Etik Menanti

Jumat, 31 Juli 2026 | 13:44

15 Jeriken Bensin yang Menenggelamkan Jabatan Ayah

Senin, 27 Juli 2026 | 01:03

Dana Nasabah Rp2,58 Miliar Raib, BCA Digugat ke PN Jakpus

Selasa, 28 Juli 2026 | 16:02

KPK Konstruksikan Dugaan Fee Rp3,5 Miliar dari Waskita untuk Eks Ketum HIPMI

Minggu, 02 Agustus 2026 | 14:18

UPDATE

Ruang Digital Kondusif Faktor Penting Jaga Stabilitas Ekonomi dan Politik

Rabu, 05 Agustus 2026 | 04:03

Dibungkam Maung Bandung 2-1, STY Sebut Pemain Persija Belum Maksimal

Rabu, 05 Agustus 2026 | 03:43

Kuliah Koperasi untuk Feri Amsari

Rabu, 05 Agustus 2026 | 03:18

Gagasan Anti-Penjajahan Soemitro jadi Modal Bangsa Hadapi Dinamika Global

Rabu, 05 Agustus 2026 | 02:55

BRI Gelar Kick-Off BRIncubator 2026 Songsong Akselerasi UMKM Naik Kelas

Rabu, 05 Agustus 2026 | 02:33

Ziarahi Makam Bung Karno, Muzani Tegaskan Indonesia Rumah Bersama

Rabu, 05 Agustus 2026 | 02:12

Penentu Tingkat Kesuksesan suatu Negara

Rabu, 05 Agustus 2026 | 01:43

Ikan Gabus Baik untuk Ibu Pascamelahirkan, Begini Penjelasannya

Rabu, 05 Agustus 2026 | 01:17

Indonesia-Thailand Makin Mantap Jaga Kawasan Selat Malaka

Rabu, 05 Agustus 2026 | 00:58

Utang Pinjol Warga RI Naik 25,88 Persen, Tembus Rp105 Triliun Hingga Juni 2026

Rabu, 05 Agustus 2026 | 00:30

Selengkapnya