Berita

Ilustrasi. (Foto: artificial intelligence)

Publika

Sarang Ber-AI

MINGGU, 21 SEPTEMBER 2025 | 09:45 WIB | OLEH: AHMADIE THAHA

KABAR baik itu datang bukan dari grup arisan RT, bukan pula dari status Facebook yang dipenuhi foto makan siang berlatar kopi latte, melainkan dari seorang kawan lama: Dr. Riza Wahono. Nama ini mungkin terdengar biasa, tapi jangan salah, dia salah seorang insinyur yang dulu ikut menggarap pesawatnya Pak Habibie.

Yaa, pesawat sungguhan, bukan pesawat kertas yang dilem anak-anak. Namun setelah PT Dirgantara Indonesia, terkena larangan pembiayaan mendesain pesawat oleh IMF pada krisis moneter 1998, ia banting setir bikin madrasah, demi melanjutkan cita-cita Habibie di jalur pengembangan manusia. Dan baru saja, lewat pesan WhatsApp yang lebih hangat dari notifikasi Shopee, ia menulis:

"Alhamdulillah, satu dari tiga tim TechnoNatura masuk ke ajang finalis Samsung Solve For Tomorrow 2025. Congratulations to team Nest-X R2045. May Allah bless you during the final. You go all long ways team." (14:05 20/9/2025)


Saya membacanya sambil menyeruput kopi yang sudah dingin, tapi hati ini hangat. Anak-anak madrasah jadi finalis kompetisi teknologi internasional. Lha, ini baru yang namanya sarang ilmu: bukan sekadar bikin hewan bertelur, tapi juga bikin akal sehat tumbuh.

Madrasah TechnoNatura ini memang unik. Saya sudah berkali-kali datang ke kampus mereka di pinggir Kali Ciliwung di Depok, Jawa Barat. Madrasah Internasional TechnoNatura yang dikelola Yayasan CREATE (Centre for Research on Education, Arts, Technology and Entrepreneurship) ini punya cabang di Bandung dan Yogyakarta. 

Mewujudkan pembelajaran STEM, mereka menghadirkan inisiatif R2045 -The Rendezvous 2045- sekaligus visi membentuk generasi emas Indonesia menyongsong seratus tahun kemerdekaan. Ia bukan sekadar slogan manis di spanduk seminar, melainkan sebuah peta jalan pendidikan yang menimbang bonus demografi, disrupsi teknologi, hingga krisis lingkungan global. 

R2045 menekankan bahwa membangun negeri maju bukan hanya perkara kecanggihan AI atau deretan paten yang juga sudah dimiliki madrasah, melainkan soal membentuk karakter: empati, etika, dan kebahagiaan belajar. Di dalamnya, dibentum tim-tim, termasuk tim Nest-X khusus bidang peternakan.

TechnoNatura, sejak 2004, sudah menjajal jalur ini dengan STEAM berbasis proyek -dari hidroponik IoT sampai robotik konservasi. Dan hasilnya, bukan sekadar juara lomba, tapi terbentuknya manusia muda yang berani berpikir kritis, bekerja sama, dan tetap tersenyum di tengah kurikulum yang sering bikin kening berkerut.

Mereka hadir di ajang-ajang lomba dunia. Pada ajang Samsung Solve for Tomorrow, di tahun 2023, mereka sudah pernah jadi juara lewat tim Dasher -bukan nama supir ojek online, tapi tim inovator cilik. Tim lain, ScieTech Innovators, juga jadi finalis. 

Kini, 2025, dari tiga yang mereka kirim ke ajang yang sama, satu tim melaju lagi ke final dengan ide yang katanya seputar green nest alias sarang hijau berbasis AI. Saya sempat terdiam: ini mau bikin sarang jadi smarter dari sarang wakil rakyat di Senayan atau gimana?

Mari kita tengok data peternakan dulu biar tidak dibilang ngawur. Menurut Prof. Dr. Ir. Muhammad Halim N, konsumsi protein hewani Indonesia pada 2024 itu penuh drama. Sapi defisit 0,4 juta ton, susu tekor 3,7 juta ton. Semua kebutuhan harus diimpor.

Tapi ayam? Malah surplus! Daging ayam lebih 0,12 juta ton, telur lebih 0,17 juta ton. Maka pemerintah pun menjadikan ayam sebagai juru selamat program Makanan Bergizi Gratis (MBG). Kalau sapi itu simbol ketekunan, ayam jelas simbol ketahanan pangan dan produktif: tiap pagi dia teriak "kukuruyuk!" seperti pengingat KPI nasional.

Masalahnya, ayam juga makhluk hidup yang butuh kandang atau sarang sehat. Kalau kandang kotor, bau amonia tembus 25 ppm, ayam bisa batuk-batuk seperti mahasiswa demo yang kena gas air mata. Kalau pakan terkontaminasi logam berat, efeknya bukan cuma ayam keracunan, tapi manusia pun jadi korban rantai makanan. Maka lahirlah ide canggih: kandang berbasis AI.

Di sini absurditas jadi logis: sensor dipasang di kandang, dari suhu, kelembapan, oksigen, sampai kebisingan. Bayangkan, ayam sekarang punya fitbit, sementara sebagian manusia masih malas olahraga. AI bahkan bisa bedakan suara ayam normal dengan suara mesin rusak. Jangan-jangan kelak AI bisa juga bedakan suara ayam asli dengan jingle iklan mie instan.

Nah, di titik inilah "kandang" atau "sarang" hijau bukan lagi soal ternak. Ia jadi metafora pendidikan. Madrasah TechnoNatura tampil lewat proyek-proyek absurd tapi nyata -dari mini hutan hujan, rumah kupu-kupu, sampai konservasi anggrek lewat cloning.

Mereka bikin kurikulum yang lebih hijau dari pidato kampanye. Mereka tidak hanya mengajarkan rumus kimia, tapi juga eco-enzyme dari limbah dapur. Tidak sekadar menanam pohon, tapi membuat plant incubator berbasis IoT. Anak-anak ini sedang tumbuh di kandang yang berbeda: kandang hijau berbasis pengetahuan.

Kalau dulu Pak Habibie membuat pesawat agar bangsa ini bisa terbang, TechnoNatura membuat madrasah sebagai sarang pengetahuan agar anak-anak bangsa tidak sekadar bisa terbang, tapi juga bisa mendarat dengan selamat di bumi yang lestari.

Maka, mari kita balik perspektif. Kita sering mengeluh tragedi bangsa: defisit daging sapi, deforestasi, sampah plastik menumpuk, hingga pendidikan yang acap mandek. Tapi di tangan anak-anak TechnoNatura, tragedi itu dipelintir jadi komedi kreatif. 

Ayam dan hewan sebangsanya tidak lagi jadi bahan sindiran murahan (misalnya "ayam kampus"), melainkan simbol inovasi AI. Kandang dan sarang tempat hewan-hewan berkembang biak tidak lagi tempat bau pesing, tapi laboratorium masa depan.

Dan di sinilah humor sekaligus hikmah: kehilangan sapi ternyata jadi berkah ayam, kekurangan susu jadi motivasi bikin IoT hidroponik. Bahkan, kekosongan negara dalam inovasi diisi oleh madrasah yang berani berpikir gila-gilaan.

Karena kadang, untuk menyelamatkan bumi, kita tidak butuh superman atau ironman. Cukup ayam dalam kandang hijau berbasis AI -serta anak-anak dan para guru madrasah yang berani bermimpi lebih tinggi dari atap kandangnya sendiri.
Penuis adalah wartawan senior

Populer

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Langsung Terbang ke Jakarta, Maukah Chatib Basri Ganti Purbaya?

Jumat, 05 Juni 2026 | 06:58

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Ironis! Terima Penghargaan Negara tapi Terjerat Korupsi

Jumat, 05 Juni 2026 | 01:00

Kasus MBG Melebar, Tersangka Sebut 30 Tokoh Besar Terlibat

Sabtu, 06 Juni 2026 | 23:39

UPDATE

Fakta Sidang Blueray Cargo: Kode BC1 Mengarah ke Djaka Budi Utama

Senin, 15 Juni 2026 | 18:15

Anak Buah Bahlil Irit Bicara Usai 7 Jam Diperiksa KPK

Senin, 15 Juni 2026 | 18:08

KPU Patok Anggaran Rp4,6 Triliun di Tahapan Awal Pemilu 2029

Senin, 15 Juni 2026 | 17:59

IHSG-Rupiah Menguat Sore Ini Usai AS-Iran Sepakat Damai

Senin, 15 Juni 2026 | 17:47

Demo Mahasiswa Ucapkan Selamat Atas Kegagalan Prabowo-Gibran

Senin, 15 Juni 2026 | 17:46

Wapres Gibran Terima Perwakilan Mahasiswa di Tengah Unjuk Rasa

Senin, 15 Juni 2026 | 17:23

Sifra Kejar Cita-cita di Sekolah Rakyat Demi Bantu Orang Tua Disabilitas

Senin, 15 Juni 2026 | 17:19

Demi Kepercayaan Masyarakat, Mahasiswa UBK Desak MBG Dihentikan

Senin, 15 Juni 2026 | 17:06

Komisi II DPR: KPU dan Bawaslu akan Tetap Eksis di 2027

Senin, 15 Juni 2026 | 16:47

DPR Minta Kejagung Tingkatkan Anggaran Perkara untuk Kejati dan Kejari

Senin, 15 Juni 2026 | 16:47

Selengkapnya