Berita

Gedung hancur akibat serangn Israel di Qatar (Foto: Reuters)

Dunia

Israel Gempur Ibukota Qatar

RABU, 10 SEPTEMBER 2025 | 08:07 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Sebuah serangan udara mendadak Israel mengguncang ibu kota Qatar, Doha, pada Selasa, 9 September 2025, waktu setempat. 

Kantor Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, mengonfirmasi bahwa operasi ini dilakukan untuk menghancurkan jaringan kepemimpinan Hamas.

Ini merupakan pertama kalinya Israel melancarkan gempuran langsung ke Qatar, negara yang selama ini dikenal sebagai mediator utama dalam perundingan gencatan senjata antara Israel dan Hamas. Tak hanya itu, Qatar juga menjadi lokasi pangkalan militer terbesar Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah, yaitu Pangkalan Udara Al Udeid.


Pemerintah Qatar langsung melontarkan kecaman keras terhadap Israel. Majed Al Ansari, Penasihat Perdana Menteri sekaligus Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Qatar, menyebut tindakan Israel sebagai serangan pengecut. 

“Negara Qatar dengan tegas mengecam serangan pengecut Israel yang menargetkan gedung-gedung tempat tinggal anggota Biro Politik Hamas di ibu kota Doha,” tulisnya di platform X, dikutip dari Al-Jazeera, Rabu 10 September 2025.

Ia menegaskan bahwa serangan tersebut merupakan “pelanggaran terang-terangan terhadap semua hukum dan norma internasional” serta menimbulkan ancaman serius terhadap keamanan warga Qatar maupun penduduk lainnya.

Kecaman terhadap Israel tidak hanya datang dari Qatar, tetapi juga dari berbagai negara dan organisasi internasional. 

Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres menyebut serangan ini sebagai pelanggaran mencolok terhadap kedaulatan dan integritas wilayah Qatar. Ia mengingatkan semua pihak agar fokus mencapai gencatan senjata permanen di Gaza, bukan justru memperburuk situasi.

Arab Saudi ikut mengecam keras serangan tersebut. Dalam pernyataannya, Kementerian Luar Negeri Saudi menyebut tindakan Israel sebagai “agresi brutal” dan “pelanggaran mencolok terhadap kedaulatan negara saudara Qatar”, seraya menegaskan solidaritas penuh mereka kepada Doha.

Sementara Turki menuding Israel sama sekali tidak tertarik untuk mengakhiri perang. 

“Penargetan delegasi Hamas saat perundingan gencatan senjata masih berlangsung menunjukkan bahwa Israel tidak bertujuan mencapai perdamaian, melainkan melanjutkan perang,” bunyi pernyataan Kementerian Luar Negeri Turki.

Uni Emirat Arab juga menyuarakan dukungan penuh kepada Qatar. Penasihat diplomatik Presiden UEA, Anwar Gargash, menyebut bahwa keamanan negara-negara Teluk Arab “tidak dapat dipisahkan”.

“Kami berdiri teguh bersama Qatar dan mengutuk serangan berbahaya Israel yang menargetkannya," ujarnya.

Dari Eropa, Perdana Menteri Inggris Keir Starmer mengatakan serangan Israel melanggar kedaulatan Qatar dan berisiko memicu eskalasi yang lebih luas di kawasan. 

Presiden Prancis Emmanuel Macron juga mengecam keras. 

“Serangan terhadap Qatar tidak dapat diterima, apa pun alasannya,” tulis Macron di platform X. 

“Saya menyatakan solidaritas saya kepada Qatar dan Emir Sheikh Tamim Al Thani. Perang tidak boleh meluas ke kawasan ini," tegasnya.

Spanyol dan Uni Eropa turut mengecam. Pemerintah Spanyol menyebut serangan Israel sebagai pelanggaran serius terhadap hukum internasional dan kedaulatan Qatar. 

Sementara Uni Eropa memperingatkan agar semua pihak menghindari eskalasi lebih lanjut yang hanya akan memperburuk konflik Gaza.

Sikap Amerika Serikat sendiri tampak dilematis. Gedung Putih mengatakan bahwa pemerintahan Presiden Donald Trump sudah diberitahu oleh militer AS mengenai serangan itu. 

Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, menilai lokasi serangan sangat disayangkan karena Doha adalah sekutu dekat Washington. 

“Pengeboman sepihak di Qatar, negara berdaulat dan sekutu dekat Amerika Serikat yang bekerja sangat keras menengahi perdamaian, tidak akan memajukan tujuan Israel atau Amerika,” ujarnya. Namun, ia juga menegaskan bahwa “melenyapkan Hamas adalah tujuan yang mulia.”

Trump sendiri menyatakan keprihatinan dan menegaskan bahwa keputusan ini sepenuhnya diambil oleh Netanyahu. 

“Saya merasa sangat buruk tentang lokasi serangan. Ini adalah keputusan Netanyahu, bukan keputusan saya,” tulisnya di Truth Social.

Sementara itu, perwakilan Hamas di Teheran, Khaled al-Qaddoumi, mengklaim bahwa upaya pembunuhan terhadap para pemimpin Hamas di Doha gagal total.

Populer

Dicurigai Ada Peran Mossad di Balik Pengalihan Tahanan Yaqut

Senin, 23 Maret 2026 | 01:38

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

SBY Menolak Silaturahmi Lebaran Anies?

Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

TNI Tegas dalam Kasus Andrie Yunus, Beda dengan Polri

Sabtu, 21 Maret 2026 | 05:03

Nasib Hendrik, SPPG Ditutup, 150 Karyawan Diberhentikan

Jumat, 27 Maret 2026 | 06:07

Pertemuan Megawati-Prabowo Menjungkirbalikkan Banyak Prediksi

Sabtu, 21 Maret 2026 | 04:12

UPDATE

Gugurnya Prajurit Jadi Panggilan Indonesia Tak Lagi Jadi Pemain Cadangan

Selasa, 31 Maret 2026 | 12:20

Aktivis KontraS Ungkap Kondisi Terkini Andrie Yunus di RSCM

Selasa, 31 Maret 2026 | 12:19

Trump Ngotot akan Tetap Hancurkan Listrik dan Semua Pabrik di Iran

Selasa, 31 Maret 2026 | 12:17

KPK Kembangkan Kasus Suap Importasi

Selasa, 31 Maret 2026 | 12:09

Pertamina Bantah Kabar Harga Pertamax Tembus Rp17 Ribu per Liter

Selasa, 31 Maret 2026 | 12:02

Siang Ini Jakarta Diprediksi Kembali Hujan Ringan

Selasa, 31 Maret 2026 | 12:00

Tiga Prajurit RI Gugur di Lebanon, Menlu Desak DK PBB Rapat Darurat

Selasa, 31 Maret 2026 | 11:45

Transparansi Terancam: 37 Ribu Pejabat Belum Serahkan LHKPN

Selasa, 31 Maret 2026 | 11:40

Kasus Penyiraman Air Keras Aktivis KontraS Dilimpahkan ke Puspom TNI

Selasa, 31 Maret 2026 | 11:27

Gibran Didorong Segera Berkantor di IKN Agar Tak Mubazir

Selasa, 31 Maret 2026 | 11:18

Selengkapnya