Berita

Partai Persatuan Pembangunan (PPP)/RMOL

Publika

Empat Tokoh Kompak, PPP Bisa Selamat

OLEH: TONY ROSYID*
RABU, 06 AGUSTUS 2025 | 21:38 WIB

PPP sedang dibayangi nasib PBB dan Hanura. Terlempar dari DPR dan tidak kembali lagi. Setidaknya hingga saat ini. Apakah PPP akan bernasib sama?

Ada perbedaan signifikan antara PPP dengan PBB dan Hanura. Pertama, PBB dan Hanura adalah partai baru. Lahir di era reformasi. Posisinya belum begitu kuat dan kokoh.

Sementara PPP lahir di awal Orde Baru. Matang dan berpengalaman. Hanya saja, kematangan pengalaman PPP tidak direpresentasikan oleh elitnya sejak Pilgub DKI Jakarta 2017.


Kedua, PPP punya basis massa yang relatif solid, karena terorganisir puluhan tahun. Kelompok muslim fanatik yang oposan terhadap Orde Baru umumnya adalah pemilih PPP. Kelompok ini sebagian tetap mendukung PPP meski lahir sejumlah partai Islam baru seperti PKB, PAN, PKS dan PBB.

PBB, meski mengambil narasi untuk menghidupkan Masyumi, tetapi pemilih generasi muda tidak mengenal heroisme Masyumi. Sudah terlalu lama Masyumi mati, dan tidak dikenal lagi oleh mayoritas masyarakat Indonesia.

Beda dengan PPP, ada kontinuitas dalam kaderisasinya. Ini modal besar untuk bangkit kembali. Selama PPP memiliki stok massa pendukung yang bisa dipanggil ulang setelah mereka kecewa atas pilihan politik elitnya di Pilkada DKI 2017 dan dua kali pilpres yaitu 2019 dan 2024.

Dalam kekalahan, kisruh di tubuh PPP semakin terasa. Kisruh ini terjadi pasca Surya Dharma Ali lengser dan berganti kepemimpinan.

Perpecahan terus berlanjut. Ketika PPP punya kursi di DPR, perpecahan ini masih bisa dikendalikan oleh elite penguasa di PPP. Perpecahan bisa dikontrol karena masih ada sosok KH Maimun Zubair, kiai kharismatik yang disegani oleh semua kelompok yang bertikai.

Sejak KH Maimun Zubair meninggal, berlanjut dengan kekalahan PPP, sejumlah kubu di PPP semakin sulit bertemu.

Gus Idror, putra KH Maimun Zubair mengundang kelompok-kelompok elite PPP yang terbelah dan berupaya menyatukan.

Hingga hari ini belum ada tanda-tanda perasatuan itu berhasil. Situasinya masih tetap sama, hingga menjelang Muktamar PPP Agustus bulan ini.

Muktamar terpaksa ditunda ke bulan November. Pemunduran jadwal Muktamar diduga karena PPP belum menemukan tokoh yang bisa dijadikan pemersatu untuk didaulat menjadi pemimpin PPP.

Di PPP, ada empat tokoh yang punya cukup pengaruh. Empat tokoh itu adalah Mardiono, Plt ketum PPP.

Bagaimana pun, Mardiono secara de jure dan de facto pemegang otoritas partai. Selain Mardiono, ada Arwani Tomafi, sekjen PPP. Ada pula Romahurmuziy, mantan ketum PPP yang saat ini menjabat sebagai ketua Majelis Perimbangan PPP.

Romy, panggilan akrab Romahurmuziy, adalah kader PPP yang dikenal paling lincah dan gesit. Romy lihai dalam melakukan terobosan-terobosan politis. Di PPP, orang yang dianggap paling banyak menghasilkan ijitihad dan langkah politik adalah Romy.

Selain tiga tokoh struktural PPP tersebut, ada nama Taj Yasin. Kader PPP yang saat ini menjadi Wagub Jateng untuk kedua kalinya. Taj Yasin adalah putra KH Maimun Zubair.

Jika empat tokoh PPP ini kompak, bersatu dan secara bersama-sama mengusung satu tokoh yang disepakati untuk mimpinan PPP, maka PPP bisa dan punya peluang untuk bangkit.

"Bisa" itu artinya ada potensi. Tidak otomatis. Sebab, ada syarat-syarat lain yang harus dipenuhi untuk membangkitkan kembali PPP. Termasuk syarat strategis dan logistik.

Setidaknya, dengan kekompakan empat elite di PPP ini akan menjadi pondasi awal bagi infrastruktur organisasi. Tanpa kekompakan empat elite ini, rasanya sulit membayangkan PPP bisa recovery.

Yang terjadi adalah konflik dan perpecahan yang berkepanjangan. Ini dipastikan akan menguras energi. Energi habis untuk bertikai, bukan untuk bangkit.

Jika empat tokoh ini mengusung satu kandidat dengan kesepakatan struktural, strategis dan program, lalu secara sinergis dan kolabortif dijalankan bersama, maka peluang PPP bangkit bisa disusun kembali dengan lebih cermat dan terukur.

Apakah itu Agus Suparmanto, eks Menteri Perdagangan, atau kandidat yang lain, yang paling penting adalah satunya langkah elite yang mempu menggerakkan kekuatan jaringan sosial-politik sampai tingkat bawah.

*Penulis adalah Pengamat Politik dan Pemerhati Bangsa

Populer

Pensiunan ASN Bakal Terima Uang Pensiun Langsung dari Kas Negara pada 2027

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:07

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

UPDATE

KPK Panggil VP PT Valbury Asia Futures di Kasus Gratifikasi Mantan Sekjen MPR

Senin, 19 Oktober 2026 | 14:31

Karhutla Ancam Orangutan, Puluhan Satwa Dievakuasi

Senin, 19 Oktober 2026 | 14:23

Kepala BPGMN hingga Menkopolkam Merapat ke Istana Jelang Ratas Karhutla

Senin, 19 Oktober 2026 | 14:22

Ancaman MSCI, Sudah Tepat OJK Sanksi Emiten Milik Prajogo Pangestu dan Franky Widjaja

Senin, 19 Oktober 2026 | 14:20

Pemerintah Jangan Anggap Remeh Hasil Survei

Senin, 19 Oktober 2026 | 14:09

Kasus Dugaan Suap, KPK Panggil Pejabat Pemkab Lombok Barat dan Staf Hotel

Senin, 19 Oktober 2026 | 14:09

Roadmap IHT Dibutuhkan untuk Jamin Kepastian Usaha

Senin, 19 Oktober 2026 | 14:05

Terancam Turun Kelas, BEI Temui MSCI Sore Ini

Senin, 19 Oktober 2026 | 13:51

Kasus Suap Asuransi Perkapalan Pelni, KPK Panggil Petinggi Pialang Asuransi

Senin, 19 Oktober 2026 | 13:45

Komisi III DPR Dukung Kapolri Dorong MUI Kaji Fatwa soal Vape

Senin, 19 Oktober 2026 | 13:39

Selengkapnya